Penyakit hati steatotik terkait disfungsi metabolik (metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease/MASLD) tidak terbatas pada orang dengan obesitas. Lemak di hati juga ditemukan pada orang dengan indeks massa tubuh (BMI) dalam kategori normal. Enzim hati yang tidak meningkat pun belum cukup untuk menyingkirkan penyakit atau fibrosis.

Perubahan berat badan, tekanan darah, gula darah, trigliserida, dan kolesterol HDL memberi konteks yang tidak tersedia dari BMI saja. Pemeriksaan kemudian dipilih menurut profil risiko, bukan berdasarkan satu angka laboratorium. Sasaran penanganan juga berbeda antara pasien kurus dan pasien dengan kelebihan berat badan.

Dokter memindai hati pasien dengan ultrasonografi sementara citra hati terlihat pada monitor

Tanda penyakit hati lanjut memerlukan penilaian segera

MASLD sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Perut atau tungkai yang membengkak, kulit dan mata menguning, atau perubahan kesadaran dapat menandai gangguan hati lanjut. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencantumkan temuan tersebut dalam penjelasan tentang perlemakan hati dan sirosis.

Muntah darah, tinja hitam, kebingungan mendadak, atau sulit dibangunkan memerlukan pertolongan medis darurat. Perdarahan bisa berasal dari varises akibat sirosis, tetapi juga memiliki penyebab lain. Pemeriksaan rutin untuk lemak hati tidak menggantikan penanganan gejala akut tersebut.

Nama MASLD menempatkan gangguan metabolik di pusat diagnosis

Istilah MASLD menggantikan non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) melalui konsensus multisociety pada Juni 2023. MASH, bentuk dengan peradangan dan cedera sel hati, menggantikan istilah NASH. Perubahan ini mengalihkan definisi dari pengecualian alkohol menuju bukti steatosis dan risiko metabolik.

Definisi konsensus mensyaratkan steatosis pada pencitraan atau biopsi serta sedikitnya satu dari lima faktor kardiometabolik. Kelima kelompok itu mencakup ukuran tubuh, gula darah, tekanan darah, trigliserida, dan kolesterol HDL. Penyebab lain penumpukan lemak di hati tetap perlu dinilai karena beberapa penyebab bisa hadir bersamaan.

Tubuh kurus bukan penanda hati bebas lemak

Istilah MASLD kurus menggambarkan steatosis metabolik pada orang dengan BMI di bawah batas kelebihan berat yang dipakai suatu studi. Definisi itu tidak selalu memakai ambang yang sama antarnegara. Lingkar perut, komposisi tubuh, resistensi insulin, dan variasi genetik turut membentuk risiko.

Tinjauan yang merangkum meta-analisis 84 studi memperkirakan 19,2 persen kelompok NAFLD tergolong kurus dan 40,8 persen tergolong tidak obesitas. Pada populasi umum, perkiraannya masing-masing 5,1 persen dan 12,1 persen. Heterogenitas penelitian tinggi, sehingga angka tersebut bukan taksiran khusus Indonesia.

Berat badan normal juga tidak menjamin perjalanan penyakit yang lebih ringan. Analisis tiga kohort prospektif mengaitkan MASLD kurus dengan rasio bahaya 2,14 untuk kejadian hati dan 2,31 untuk kematian terkait hati. Perbandingannya adalah pasien MASLD yang tidak kurus, dan hasil observasional ini tidak membuktikan sebab-akibat.

ALT dan AST normal belum menilai fibrosis

Alanine aminotransferase (ALT) dan aspartate aminotransferase (AST) membantu menemukan cedera sel hati. Kadar yang tidak meningkat belum menunjukkan jumlah lemak atau tingkat jaringan parut secara langsung. Karena itu, hasil laboratorium normal tidak dipakai sendirian untuk menyatakan hati bebas MASLD.

Pedoman Eropa 2024 menilai skor gabungan berbasis darah dan pencitraan lebih akurat untuk fibrosis daripada ALT atau AST biasa. Pendekatan bertahap dimulai dengan skor darah tervalidasi, lalu elastografi pada kelompok yang masih dicurigai. Ultrasonografi rutin menemukan lemak, tetapi tidak menetapkan peradangan mikroskopis atau tahap fibrosis dengan sendirinya.

Kemenkes menyebut USG, CT, MRI, pemeriksaan laboratorium, dan elastografi sebagai bagian dari evaluasi penyakit hati berlemak. Dokter memilih rangkaian tes setelah menilai diabetes, tekanan darah, lipid, obat, alkohol, serta penyebab penyakit hati lain. Biopsi tidak dibutuhkan bagi setiap orang dan dipertimbangkan menurut pertanyaan klinis.

Pemulihan tidak memiliki satu target untuk semua pasien

Penanganan MASLD berfokus pada mutu makanan, aktivitas fisik, dan pengendalian penyakit metabolik yang menyertai. Pedoman Eropa menganjurkan pola makan menyerupai pola Mediterania, pembatasan pangan ultraproses, dan penghindaran minuman berpemanis. Ikan, sayur, kacang-kacangan, tempe, tahu, serta biji-bijian utuh membuat prinsip itu lebih mudah diterapkan pada pola makan Indonesia.

Bagi pasien MASLD dengan kelebihan berat badan, sasaran penurunan berkelanjutan sedikitnya 5 persen dikaitkan dengan berkurangnya lemak hati. Rentang 7 hingga 10 persen ditujukan untuk perbaikan peradangan, sedangkan 10 persen atau lebih ditujukan pada fibrosis. Angka tersebut adalah sasaran klinis berbasis kelompok, bukan janji pemulihan bagi setiap pasien.

Pedoman yang sama memilih aktivitas sesuai kemampuan, dengan acuan lebih dari 150 menit aktivitas sedang per minggu. Program perlu disesuaikan bila ada penyakit jantung, ginjal, diabetes, keterbatasan gerak, atau penggunaan obat jangka panjang. Anak, ibu hamil, pasien kurus, dan lansia memerlukan penilaian tersendiri sebelum mengejar defisit energi atau target berat.

Pada pasien kurus, fokusnya bukan memaksa berat turun 7 hingga 10 persen. Dokter dapat menilai kualitas makanan, kebugaran, massa otot, lemak perut, gula darah, dan lipid. Perubahan pola hidup tetap berguna, tetapi sasaran berat harus mempertimbangkan risiko kekurangan gizi dan sarkopenia.

Minuman berpemanis menambah gula tanpa memberi rasa kenyang setara makanan utuh. Hubungan fruktosa, total gula, dan minuman manis dibahas lebih rinci dalam laporan tentang minuman manis dan metabolisme fruktosa. Alkohol tetap dinilai sebagai faktor risiko dan bukan bagian dari saran pola makan.

Sayuran, biji-bijian utuh, ikan panggang, dan air putih tersaji di meja makan (ilustrasi)

Obat tersedia untuk kelompok tertentu, bukan semua MASLD

Tidak ada satu obat yang ditujukan bagi seluruh orang dengan MASLD. FDA Amerika Serikat memberi persetujuan dipercepat kepada resmetirom pada 2024 untuk MASH tanpa sirosis dengan fibrosis sedang hingga lanjut. Indikasi itu tetap mensyaratkan pendampingan diet dan olahraga.

Pada 2025, FDA juga menyetujui semaglutide untuk orang dewasa dengan MASH dan fibrosis sedang hingga lanjut. Hasil sementara memakai perubahan jaringan hati, sementara uji berlanjut untuk menilai kematian, transplantasi, dan kejadian terkait hati. Persetujuan Amerika Serikat tidak otomatis menjadi izin pemasaran atau indikasi di Indonesia.

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen publik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang mengonfirmasi indikasi MASH untuk kedua obat tersebut. Obat resep tidak digunakan untuk mencoba mengatasi temuan USG tanpa penilaian dokter. Pilihan terapi mempertimbangkan tahap fibrosis, sirosis, penyakit penyerta, interaksi obat, serta status persetujuan setempat.

Suplemen tidak menggantikan penilaian fibrosis

Label “menjaga hati” pada suplemen tidak sama dengan bukti bahwa produk memulihkan MASH atau fibrosis. Kandungan, interaksi dengan obat, dan status halal juga berbeda antarproduk. Klaim umum tidak menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan ketika hasil pencitraan atau faktor metabolik menunjukkan risiko.

Rencana tindak lanjut dimulai dari memastikan penyebab steatosis, menilai kemungkinan fibrosis, lalu mengendalikan diabetes, tekanan darah, dan lipid. Berat badan hanya satu bagian dari penilaian tersebut. Perubahan yang terukur dan bisa dipertahankan lebih bermakna daripada mengejar “detoks” atau penurunan berat cepat.