Periodontitis adalah peradangan kronis pada jaringan yang menyangga gigi. Penyakit ini bermula dari gusi berdarah atau bengkak, lalu merusak tulang penyangga dan membuat gigi goyang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan periodontitis berat memengaruhi lebih dari 1 miliar orang. Diabetes memiliki hubungan dua arah dengan perjalanan penyakit tersebut, tetapi hubungan serupa tidak otomatis berlaku untuk penyakit lain.

Plak bakteri yang menetap memicu peradangan di sekitar gusi. Pada tahap gingivitis, jaringan membengkak dan berdarah tanpa kerusakan penyangga gigi yang berat. Ketika peradangan berkembang menjadi periodontitis, terbentuk kantong antara gusi dan gigi serta kerusakan tulang. Mekanisme peradangan sistemik masuk akal secara biologis, namun mekanisme bukan bukti bahwa periodontitis menyebabkan setiap penyakit yang muncul bersamanya.

Tahapan penyakit gusi dari gusi sehat, gingivitis, periodontitis, hingga kehilangan tulang penyangga gigi

Tanda yang memerlukan pemeriksaan dokter gigi

Gusi yang berulang kali berdarah atau bengkak perlu dinilai, meski tidak terasa sakit. Pemeriksaan tidak boleh ditunda bila muncul nyeri saat mengunyah, nanah di batas gusi, gusi menyusut, atau gigi mulai goyang. Kementerian Kesehatan mencantumkan keluhan tersebut sebagai gejala periodontitis dan menjelaskan bahwa pemeriksaan mencakup kondisi gusi, kedalaman kantong, serta kerusakan tulang. Pembengkakan gusi disertai sesak napas memerlukan pertolongan segera di instalasi gawat darurat.

Dokter gigi menentukan terapi menurut tingkat keparahan, dari pembersihan karang gigi dan permukaan akar sampai tindakan bedah pada penyakit lanjut. Antibiotik bukan pengganti pembersihan sumber infeksi dan tidak digunakan tanpa penilaian tenaga medis. Anak, ibu hamil, pasien diabetes, orang dengan gangguan imunitas, dan pengguna obat jangka panjang perlu memberi tahu dokter tentang kondisinya. Perbedaan risiko dan obat yang sedang digunakan dapat mengubah rencana pemeriksaan maupun tindakan.

Diabetes dan periodontitis membentuk hubungan dua arah

Hiperglikemia memengaruhi respons imun dan jaringan periodontal, sehingga diabetes yang tidak terkendali memperberat penyakit gusi. Peradangan periodontal juga berkaitan dengan kendali glukosa yang lebih buruk. European Federation of Periodontology (EFP) menjelaskan bahwa kedua penyakit memengaruhi perjalanan satu sama lain, dengan merujuk konsensus bersama International Diabetes Federation (IDF). Faktor bersama seperti merokok dan pola makan tetap perlu diperhitungkan.

Konsensus IDF dan EFP merangkum penurunan HbA1c sekitar 0,27 hingga 0,48 persen tiga bulan setelah terapi periodontal pada pasien diabetes. Hasil tindak lanjut yang lebih panjang belum konsisten. Perubahan itu menunjukkan terapi gusi mungkin membantu pengelolaan glukosa, bukan menggantikan obat diabetes, pemantauan, pola makan, atau aktivitas fisik. Rencana perawatan perlu dikoordinasikan oleh dokter gigi dan tenaga medis yang menangani diabetes.

Hubungan dengan penyakit jantung belum membuktikan sebab-akibat

Periodontitis dan penyakit kardiovaskular aterosklerotik sering muncul bersama. Keduanya juga berbagi faktor risiko, antara lain merokok, diabetes, tekanan darah tinggi, usia, dan obesitas. Pernyataan ilmiah American Heart Association (AHA) pada 2025 menyebut ada hubungan independen, tetapi sebab-akibat belum dipastikan. AHA juga menyatakan belum ada bukti langsung bahwa terapi periodontal mencegah penyakit kardiovaskular.

Diagram hubungan periodontitis dan penyakit kardiovaskular yang menekankan korelasi, bukan sebab-akibat

Data observasional tidak mengubah perawatan gusi menjadi terapi pencegahan serangan jantung atau stroke. Orang yang lebih rajin merawat gigi mungkin sekaligus memiliki akses layanan, pola makan, dan kebiasaan kesehatan yang berbeda. Faktor-faktor tersebut sulit dipisahkan sepenuhnya dalam penelitian observasional. Perawatan periodontal tetap penting untuk mengendalikan infeksi, mempertahankan gigi, dan menjaga fungsi mengunyah.

Kehamilan memerlukan perawatan, bukan janji mencegah prematur

Perubahan hormonal selama kehamilan dapat membuat gusi lebih mudah meradang. Namun, terapi periodontal tidak boleh dipromosikan sebagai cara yang sudah terbukti mencegah kelahiran prematur. Tinjauan Cochrane atas 15 uji acak tidak menemukan perbedaan yang jelas pada kelahiran sebelum 37 minggu antara kelompok yang mendapat terapi dan yang tidak. Mutu bukti dinilai rendah, sedangkan pencarian studi dalam tinjauan itu berakhir pada Oktober 2016.

Tinjauan tersebut menemukan kemungkinan penurunan kejadian berat lahir di bawah 2.500 gram, tetapi kepastian buktinya juga rendah. Temuan itu tidak cukup untuk menjanjikan hasil kehamilan tertentu. Ibu hamil dengan gusi berdarah, bengkak, nyeri, atau bernanah perlu berkonsultasi dengan dokter gigi dan memberi tahu usia kehamilan. Pilihan waktu serta jenis tindakan ditentukan setelah penilaian klinis.

Dokter gigi memeriksa kondisi gusi pasien dan menjelaskan rencana perawatan (ilustrasi)

Perawatan harian tetap berfokus pada plak dan faktor risiko

WHO menganjurkan menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluorida. Pembersihan sela gigi membantu menjangkau permukaan yang tidak terkena sikat. Berhenti memakai tembakau juga mengurangi salah satu faktor risiko utama penyakit periodontal. Jadwal kontrol ditetapkan dokter gigi menurut temuan pemeriksaan, bukan berdasarkan satu interval yang berlaku bagi semua orang.

Pasien diabetes perlu memasukkan kondisi gusi dalam pembicaraan rutin dengan dokter dan dokter gigi. Kendali glukosa yang buruk, perubahan obat, kehamilan, atau gangguan imunitas harus disampaikan sebelum tindakan. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia yang menjelaskan cakupan nasional layanan periodontal dalam koordinasi perawatan diabetes. Karena itu, artikel ini tidak menyimpulkan jenis tindakan atau frekuensi kunjungan yang ditanggung Jaminan Kesehatan Nasional.