Mojtaba Khamenei belum terlihat atau terdengar di depan publik selama sekitar enam bulan sejak dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran. Reuters melaporkan pada 28 Agustus 2026 bahwa tidak ada foto, video, atau rekaman suara baru sejak pengangkatannya. Para pejabat Iran mengatakan ia berada di lokasi rahasia karena ancaman pembunuhan. Bukti yang tersedia bagi publik belum cukup untuk memastikan kondisi kesehatan atau tingkat keterlibatannya.

Pesan publik terbaru pada 30 Agustus 2026 masih berupa surat kepada pemimpin agama yang menghadiri pertemuan di Teheran. Mojtaba menyerukan persatuan negara-negara Muslim dan menyebut Amerika Serikat serta Israel sebagai musuh negara-negara Islam. Surat itu memuat arahan baru, tetapi tidak menghadirkan suara atau gambar baru. Isi surat dapat dinilai, tetapi proses penyusunannya tetap tidak terlihat dari dokumen publik.

Pertemuan tujuh jam belum menjadi bukti terbuka

Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan pada 10 Agustus 2026 bahwa ia bertemu Mojtaba selama tujuh jam. ANTARA mencatat Pezeshkian menyebut Mojtaba sehat dan pertemuan membahas persatuan, penghidupan, pekerjaan, perumahan, serta sanksi. Laporan itu juga menyatakan Mojtaba belum pernah tampil di depan publik sejak dipilih. Tidak ada rekaman bertanggal dari pertemuan tersebut yang tersedia untuk pemeriksaan independen.

Reuters memperoleh keterangan serupa dari pejabat Iran dan sumber yang dekat dengan lingkaran Mojtaba. Mereka mengatakan ia menerima laporan utama, mengikuti pembahasan, dan memutuskan perkara penting. Hanya sedikit pejabat disebut masih bertemu langsung dengannya. Seluruh keterangan itu bersandar pada kesaksian, bukan bukti audiovisual yang diterbitkan.

Video tanpa tanggal tidak menjawab keadaan terbaru

ABC Australia menemukan bahwa Fars menerbitkan rekaman lama tanpa tanggal yang dibuat sebelum Mojtaba menjabat. Mehr News juga menayangkan klip 15 detik tanpa tanggal pada 9 Agustus 2026. Rekaman Fars tidak menunjukkan kondisi Mojtaba setelah serangan 28 Februari, sedangkan waktu pembuatan klip Mehr tidak diketahui. Tanggal perekaman menjadi unsur utama yang hilang.

Video lain di media sosial memperlihatkan sosok yang disebut Mojtaba duduk bersama Pezeshkian. ABC melihat derau pada kipas dinding dan garis tembok yang berubah bentuk. ABC menilai ciri itu mengarah pada kemungkinan penyuntingan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), bukan kesimpulan forensik. Berkas asli, metadata, dan rantai publikasinya belum tersedia.

Kekuasaan berjalan melalui lingkaran sempit

Pemerintahan Iran tetap berjalan selama pemimpin tertingginya absen dari ruang publik. Reuters menyebut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) makin berpengaruh dalam struktur yang berpusat pada Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Lingkaran itu mencakup komandan militer, Pezeshkian, dan Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf. Sumber Reuters mengatakan Mojtaba tetap memegang keputusan akhir atas perkara besar.

AP melaporkan bahwa serangkaian dekret Mojtaba menetapkan pimpinan senior baru, termasuk Hossein Taeb sebagai kepala Basij. Taeb pernah menjadi kepala intelijen dan memimpin salah satu penindakan besar terhadap protes 2009. AP menilai pengangkatannya menandakan fokus pada pencegahan kerusuhan domestik. Dekret menunjukkan negara tetap menghasilkan keputusan, tetapi tidak membuktikan siapa yang merumuskan setiap keputusan di balik layar.

Publik hanya melihat hasil akhir berupa dekret, surat, dan pernyataan pejabat. Proses konsultasi, kondisi fisik pemimpin, serta arahannya tidak terlihat. Karena itu, laporan yang tersedia mendukung keberlanjutan pemerintahan, bukan kepastian mengenai kendali pribadi Mojtaba.

Risiko bagi Indonesia berada di jalur energi

Hubungan dengan Indonesia muncul melalui keamanan pelayaran dan harga energi, bukan melalui spekulasi tentang kesehatan Mojtaba. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 19 Agustus 2026 menyebut gangguan Hormuz berisiko memengaruhi harga, pasokan energi, dan biaya logistik. ESDM juga memperingatkan potensi tekanan pada inflasi, subsidi energi, dan daya beli. Pernyataan itu menunjukkan bagaimana ketegangan regional menjangkau Indonesia, bukan akibat langsung dari absennya pemimpin Iran.

AP melaporkan Amerika Serikat kembali menyerang peluncur roket Iran di Selat Hormuz pada 30 Agustus 2026. Serangan itu terjadi pada hari yang sama dengan surat terbaru Mojtaba. Namun, sumber terbuka belum menunjukkan bahwa Mojtaba memerintahkan serangan, pembatasan pelayaran, atau kebijakan energi tertentu. Publikasi ESDM juga tidak menghubungkan absennya Mojtaba dengan perubahan harga di Indonesia.

Batas informasi dari Indonesia

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia yang menilai kesehatan atau kewenangan langsung Mojtaba. Pencarian mencakup publikasi Kementerian Luar Negeri dan ESDM. Ketiadaan dokumen yang ditemukan bukan bukti bahwa pemerintah Indonesia tidak memiliki penilaian internal. Laporan ini karena itu bertumpu pada sumber internasional dan pernyataan publik pejabat Iran.

Rekaman baru yang mencantumkan tanggal, lokasi, dan konteks terverifikasi akan mengurangi sebagian ketidakpastian. Bukti lain mencakup pertemuan yang disaksikan luas atau dokumen keputusan dengan proses penerbitan yang jelas. Tanpa unsur itu, surat dan dekret hanya menunjukkan bahwa kekuasaan tetap dijalankan atas namanya.