Mimisan, atau epistaksis, terjadi ketika pembuluh darah di dalam hidung pecah dan darah keluar dari satu atau kedua lubang hidung. Sebagian kejadian bersifat ringan, tetapi durasi, jumlah darah, penyebab, dan kondisi orang yang mengalaminya menentukan kebutuhan pertolongan. Posisi kepala dan lokasi tekanan lebih penting daripada sekadar menunggu darah berhenti. Kepala perlu tetap lebih tinggi daripada jantung dan sedikit condong ke depan.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menyarankan posisi duduk tegak, kepala menunduk, dan tekanan pada bagian depan hidung selama 10 menit. Tekanan diarahkan ke bagian lunak cuping hidung, bukan tulang keras pada batang hidung. Mulut tetap terbuka untuk bernapas, sedangkan darah yang mencapai mulut diludahkan. Berbaring atau mendongakkan kepala justru membuat darah mengalir ke belakang tenggorokan.

Perdarahan berat dan gangguan napas memerlukan bantuan segera

Mimisan memerlukan penanganan segera ketika perdarahan tetap berlangsung setelah tekanan yang benar, jumlah darah tampak banyak, atau korban hampir pingsan. Kemenkes menandai perdarahan lebih dari 20 menit, trauma kepala atau wajah, penurunan kesadaran, dan sumbatan jalan napas sebagai tanda bahaya. Aliran darah deras ke tenggorokan, rasa lemah, pusing, atau muntah juga memerlukan penilaian segera. Korban dengan tanda tersebut perlu dibawa ke instalasi gawat darurat.

National Health Service (NHS) meminta penilaian darurat bila mimisan belum berhenti setelah 10–15 menit atau jumlah darah tampak berlebihan. Benturan kepala, kelemahan, pusing, muntah karena menelan banyak darah, dan kesulitan bernapas juga masuk daftar yang sama. Perbedaan ambang 10–15 menit dan 20 menit tidak boleh dipakai untuk menunda bantuan ketika keadaan memburuk. PSC 119 adalah layanan cepat tanggap darurat kesehatan Kemenkes untuk situasi kritis di Indonesia.

Jam dan lorong instalasi gawat darurat menggambarkan batas waktu mencari pertolongan (ilustrasi)

Tekanan diberikan pada bagian lunak hidung tanpa jeda

Orang yang mimisan duduk tegak, mencondongkan kepala sedikit ke depan, lalu bernapas melalui mulut. Ibu jari dan telunjuk menekan kedua cuping pada bagian lunak tepat di atas lubang hidung. Mayo Clinic menganjurkan tekanan tanpa jeda selama 10–15 menit dan meminta tangan tidak dilepas sekadar untuk memeriksa. Jam atau pengatur waktu membantu menjaga durasi karena beberapa menit sering terasa lebih lama saat panik.

Jika darah masih mengalir, Mayo Clinic menyarankan tekanan diulang sekali hingga 15 menit. Perdarahan yang tetap berlangsung setelah percobaan kedua memerlukan bantuan darurat. Barnsley Hospital NHS Foundation Trust meminta kapas atau tisu tidak dipakai untuk menyumbat lubang hidung. Tenaga kesehatan memasang tampon hidung khusus setelah pemeriksaan, bukan sebagai langkah rumah tangga.

Jari menekan bagian lunak kedua cuping hidung selama mimisan (ilustrasi)

Kepala mendongak dan tekanan pada tulang tidak menghentikan sumbernya

Mendongakkan kepala tidak menghentikan sumber perdarahan. Darah justru mengalir ke tenggorokan, sehingga jumlah yang keluar dari hidung tampak lebih sedikit meski perdarahan masih berjalan. Menurut Mayo Clinic, posisi condong ke depan mencegah darah turun ke tenggorokan, tempat darah meningkatkan risiko tersedak atau mual. Darah yang sudah berada di mulut diludahkan, bukan ditelan.

Tekanan pada batang hidung yang keras tidak mencapai pembuluh di bagian lunak dekat lubang hidung. Kedua cuping ditekan bersama meski darah hanya tampak dari satu sisi. Kemenkes mencantumkan kompres dingin pada pangkal hidung sebagai langkah tambahan, bukan pengganti tekanan. NHS menyatakan bukti bahwa kompres es mengurangi aliran darah masih lemah.

Perbandingan posisi kepala mendongak yang keliru dan posisi condong ke depan (ilustrasi)

Perawatan setelah darah berhenti mengurangi risiko perdarahan ulang

Setelah darah berhenti, bagian dalam hidung masih mudah berdarah kembali. Kemenkes menyarankan istirahat, menghindari membuang ingus terlalu keras, dan tidak mengorek hidung. Aktivitas berat dihindari setidaknya selama 24 jam, sementara kelembapan udara dijaga dan paparan asap dibatasi. NHS juga memasukkan berbaring datar, mengangkat beban, dan mengorek keropeng ke dalam pantangan selama 24 jam.

Mimisan yang berulang tanpa benturan memerlukan pemeriksaan untuk mencari sumber dan faktor pemicunya. Udara kering, iritasi, trauma lokal, gangguan pembekuan, hipertensi, dan obat tertentu tercantum dalam materi Kemenkes sebagai kemungkinan faktor. Daftar tersebut tidak berarti satu faktor bisa ditetapkan sebagai penyebab tanpa pemeriksaan. Respons baik terhadap tekanan juga tidak menyingkirkan kebutuhan evaluasi bila perdarahan sering kembali.

Anak memerlukan bantuan orang dewasa dan batas rujukan khusus

Anak sering memerlukan bantuan orang dewasa untuk mempertahankan posisi dan durasi tekanan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan kepala menghadap ke bawah dan bagian depan hidung ditekan selama 5–10 menit. Anak bernapas melalui mulut dan meludahkan darah yang mencapai mulut agar tidak mual atau tersedak. Tekanan diulang bila aliran belum berhenti setelah putaran pertama.

Menurut IDAI, anak perlu dibawa ke rumah sakit bila mimisan berat, berulang, tidak berhenti, menyumbat jalan napas, atau muncul setelah trauma wajah. NHS juga meminta penilaian tenaga kesehatan bila mimisan terjadi pada anak di bawah 2 tahun. Anak yang pucat, lemah, sulit bernapas, atau kehilangan respons mengikuti jalur pertolongan darurat. Patah tulang, benda asing, atau gangguan pembekuan tidak bisa dinilai dengan langkah rumah tangga.

Orang dewasa membantu anak duduk tenang saat mengalami mimisan (ilustrasi)

Kehamilan dan obat penghambat pembekuan memerlukan penilaian terpisah

Perubahan hormon membuat mimisan lebih sering terjadi pada sebagian ibu hamil. Surrey and Sussex Healthcare NHS Trust menyarankan tekanan 10–15 menit pada bagian lunak, kepala condong ke depan, dan napas melalui mulut. Perdarahan yang tidak berhenti memerlukan kontak segera dengan dokter atau tenaga kesehatan kebidanan. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia yang merinci modifikasi pertolongan rumah bagi ibu hamil.

Hipertensi dan obat tertentu tercantum dalam materi Kemenkes sebagai faktor yang berkaitan dengan mimisan, tetapi keduanya tidak menetapkan penyebab setiap kejadian. NHS meminta penilaian klinis bagi pengguna obat penghambat pembekuan atau orang dengan gangguan pembekuan. Obat antikoagulan hanya dihentikan atau diubah atas arahan dokter atau tenaga kesehatan yang merawat. Perdarahan berat, lama, atau disertai pusing tetap memerlukan penanganan darurat tanpa menunggu kontrol rutin.