Oligohidramnion adalah volume cairan ketuban yang lebih sedikit daripada yang diharapkan untuk usia kehamilan. Temuan tersebut biasanya berasal dari ultrasonografi (USG), bukan pengukuran langsung seluruh cairan. Satu angka belum menjelaskan penyebab atau keadaan janin. Usia kehamilan, dugaan ketuban pecah, pertumbuhan janin, fungsi plasenta, dan tanda infeksi menentukan penilaian berikutnya.

Ruang pemeriksaan USG dan tempat tidur pasien untuk pemeriksaan kehamilan (ilustrasi)

Cairan bocor, perdarahan, demam, atau gerakan janin berkurang perlu diperiksa segera

Cairan encer yang keluar terus-menerus atau berulang dari vagina memerlukan penilaian obstetri segera, dengan atau tanpa kontraksi. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) memasukkan ketuban pecah sebelum waktunya, perdarahan, demam tinggi, dan gerakan janin berkurang sebagai tanda bahaya. Perdarahan vagina, nyeri perut hebat, atau kontraksi teratur juga tidak menunggu jadwal kontrol rutin. Penilaian dimulai di puskesmas atau rumah sakit sesuai jalur rujukan dan kemampuan layanan setempat.

Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) menyarankan pemeriksaan rumah sakit segera bila ketuban diduga pecah. Cairan kehijauan atau berbau, demam, nyeri perut bawah, kontraksi, perdarahan, atau gerakan janin berkurang memperkuat kebutuhan penilaian segera. Kebocoran dalam jumlah kecil kadang sulit dipastikan dan perlu diperiksa ulang bila berlanjut. Tanda tersebut bukan diagnosis oligohidramnion, tetapi bisa menunjukkan ketuban pecah, infeksi, atau komplikasi lain.

Koridor unit obstetri di rumah sakit untuk penanganan tanda bahaya kehamilan (ilustrasi)

USG mengukur AFI atau satu kantong terdalam

Cairan ketuban diperkirakan melalui indeks cairan ketuban (amniotic fluid index/AFI) atau kantong vertikal terdalam (deepest vertical pocket/DVP). AFI menjumlahkan kedalaman cairan pada empat bagian rahim, sedangkan DVP mengukur satu kantong cairan terbesar. International Society of Ultrasound in Obstetrics and Gynecology (ISUOG) menyebut AFI di bawah 5–6 cm sebagai nilai rendah. DVP di bawah 2 cm mengarah pada oligohidramnion menurut sumber yang sama. Tim obstetri membaca metode pengukuran bersama usia kehamilan dan temuan pemeriksaan lain.

Perangkat USG obstetri menampilkan gambar janin di ruang pemeriksaan (ilustrasi) Bagan ambang AFI dan satu kantong terdalam serta pemeriksaan lanjutan pada oligohidramnion

Dalam literatur penelitian, pengukuran satu kantong terdalam juga disebut maximum vertical pocket (MVP). Meta-analisis enam studi dengan 4.278 peserta membandingkan MVP dan AFI. Penggunaan MVP menurunkan diagnosis oligohidramnion dengan risiko relatif gabungan 0,38 (interval kepercayaan 95 persen, 0,27–0,53). Tidak ada perbedaan pada sejumlah luaran perinatal yang dinilai. Hasil tersebut menunjukkan metode pengukuran memengaruhi klasifikasi dan intervensi, bukan memastikan prognosis setiap kehamilan.

Penyebab dicari menurut usia kehamilan

Oligohidramnion menggambarkan temuan, bukan penyebabnya. ISUOG mencantumkan ketuban pecah, gangguan plasenta, masalah saluran kemih janin, obat tertentu, dan kehamilan lewat 41–42 minggu sebagai penyebab yang perlu dinilai. Pada sebagian kecil kehamilan, penyebab tetap tidak diketahui setelah pemeriksaan. Riwayat obat perlu ditelaah dokter; penghentian atau perubahan obat tidak ditentukan dari hasil USG semata.

USG terperinci memeriksa anatomi janin, terutama ginjal dan kandung kemih, serta menilai pertumbuhan dan perkiraan berat. Pemeriksaan Doppler menilai aliran darah bila gangguan plasenta atau hambatan pertumbuhan janin dicurigai. Dugaan ketuban pecah juga memerlukan riwayat gejala dan pemeriksaan klinis karena kebocoran kecil tidak selalu tampak jelas. Temuan pada awal kehamilan tidak dibaca dengan kerangka yang sama seperti temuan mendekati cukup bulan.

Peralatan pemeriksaan kehamilan dan USG untuk menilai penyebab cairan ketuban sedikit (ilustrasi)

Risiko ditentukan oleh penyebab dan temuan penyerta

ISUOG menyebut oligohidramnion ringan yang muncul pada akhir kehamilan biasanya mempunyai prospek baik. Cairan sedikit berkaitan dengan kelahiran prematur, infeksi setelah ketuban pecah, posisi janin tidak normal, dan tekanan pada tali pusat. Kekurangan cairan yang berat sejak awal kehamilan juga berkaitan dengan gangguan perkembangan paru atau anggota gerak. Tidak satu pun komplikasi tersebut dipastikan hanya oleh satu hasil AFI atau DVP.

RCOG menjelaskan bahwa ketuban pecah sebelum persalinan meningkatkan risiko infeksi dan kelahiran prematur. Kekurangan cairan setelah ketuban pecah sebelum 24 minggu juga bisa mengganggu perkembangan paru. Pertumbuhan janin, aliran darah plasenta, dan pemantauan denyut jantung membantu membedakan kasus terisolasi dari kehamilan dengan komplikasi lain. Rawat inap atau waktu persalinan tidak ditentukan hanya dari AFI atau DVP.

Perangkat pemantauan kehamilan di samping mesin USG (ilustrasi)

Jadwal pemantauan bukan angka tetap

Pemantauan bisa mencakup profil biofisik (biophysical profile/BPP), USG serial untuk cairan dan pertumbuhan, serta Doppler bila diperlukan. Jadwal setiap pemeriksaan ditetapkan menurut penyebab, usia kehamilan, pertumbuhan janin, dan hasil pemantauan sebelumnya. Hambatan pertumbuhan janin, hipertensi, ketuban pecah, atau hasil abnormal bisa mengubah frekuensi serta tempat perawatan. Pilihan rawat jalan tidak ditentukan dari satu angka AFI atau DVP.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menegaskan bahwa panduan waktu dan frekuensi pemantauan bersifat saran serta perlu disesuaikan. ISUOG juga menyebut belum ada terapi khusus yang secara andal menaikkan volume cairan ketuban. Perubahan asupan cairan atau obat ditentukan setelah penyebab serta keadaan ibu dan janin dinilai. Hasil rendah tidak otomatis berarti rawat inap atau persalinan segera.

Alat pemantauan denyut jantung janin dan catatan pemeriksaan kehamilan (ilustrasi)

Jadwal khusus di Indonesia belum ditemukan

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia yang menetapkan ambang USG dan frekuensi pemantauan khusus untuk oligohidramnion terisolasi. Materi Kemenkes yang dipakai dalam artikel ini memuat tanda bahaya kehamilan, tetapi tidak merinci ambang AFI, DVP, atau jadwal pemantauan kondisi tersebut. Sumber internasional dipakai untuk menjelaskan pengukuran dan kerangka pemantauan, sedangkan pelaksanaannya ditetapkan tim obstetri setempat. Artikel ini tidak menyamakan kerangka internasional dengan protokol nasional Indonesia.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah oligohidramnion selalu memerlukan rawat inap?

Tidak selalu. Keputusan dipengaruhi usia kehamilan, ketuban pecah, infeksi, pertumbuhan janin, aliran darah plasenta, dan hasil pemantauan denyut jantung. Tanda bahaya atau temuan penyerta bisa mengubah pemantauan rawat jalan menjadi perawatan rumah sakit.

Berapa AFI yang dianggap rendah?

ISUOG menyebut AFI di bawah 5–6 cm sebagai nilai rendah, sedangkan DVP di bawah 2 cm mengarah pada oligohidramnion. Kedua metode bisa menghasilkan klasifikasi berbeda. Hasilnya perlu dibaca bersama usia kehamilan dan pemeriksaan lain.

Apakah temuan pada pertengahan kehamilan bisa menunggu kontrol berikutnya?

Jarak pemeriksaan berikutnya perlu ditetapkan tim obstetri setelah penyebab dan keadaan janin dinilai. Kebocoran cairan, perdarahan, demam, nyeri hebat, kontraksi teratur, atau gerakan janin berkurang memerlukan pemeriksaan segera. Temuan dini juga membutuhkan penilaian ginjal, kandung kemih, pertumbuhan janin, dan fungsi plasenta.