Herpes zoster terjadi ketika virus varicella-zoster yang menetap setelah cacar air kembali aktif. Ruamnya biasanya berupa kelompok lepuh nyeri pada satu sisi tubuh atau wajah. Leaflet yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) menyebut usia, penyakit, dan obat tertentu bisa melemahkan kendali sistem imun terhadap virus tersebut. Komplikasi tersering ialah neuralgia pascaherpes (postherpetic neuralgia/PHN), yakni nyeri saraf yang bertahan berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat risiko herpes zoster serta komplikasinya meningkat tajam setelah usia 50 tahun. Orang dengan kanker, HIV, transplantasi, atau terapi penekan imun juga menghadapi risiko lebih tinggi. Vaksin zoster rekombinan bertujuan mencegah penyakit dan PHN, bukan mengobati ruam yang sedang aktif. Penilaian sebelum vaksinasi mencakup usia, kondisi imun, penyakit akut, kehamilan, dan riwayat alergi.

Pasien dewasa berdiskusi dengan dokter mengenai vaksin herpes zoster di ruang konsultasi (ilustrasi)

Ruam di sekitar mata dan reaksi alergi memerlukan pertolongan segera

Moorfields Eye Hospital NHS Foundation Trust meminta penilaian segera bila lepuh muncul di sekitar mata, kelopak membengkak, atau mata menjadi merah dan nyeri. Peka terhadap cahaya, pandangan kabur, dan bintik melayang baru juga termasuk tanda peringatan. CDC menyebut keterlibatan mata atau telinga bisa berakhir dengan kehilangan penglihatan atau pendengaran. Orang dengan gangguan imunitas lebih mungkin mengalami ruam berat, berkepanjangan, atau menyebar. Ruam yang menyebar pada kelompok tersebut juga memerlukan evaluasi cepat.

Sesak napas, biduran, wajah atau tenggorokan membengkak, denyut cepat, pusing, dan lemah setelah vaksinasi bisa menandakan reaksi alergi berat. Lembar informasi vaksin CDC mengarahkan orang dengan tanda tersebut ke layanan darurat dan rumah sakit terdekat. Keadaan itu tidak ditunggu sampai jadwal konsultasi berikutnya. Keluhan serius lain atau gejala yang terus memburuk juga perlu dinilai tenaga kesehatan.

BPOM mencatat vaksin rekombinan, sedangkan vaksin hidup belum pasti tersedia

Basis data BPOM mencatat izin edar vaksin zoster rekombinan bernomor DKI2476704044A1 pada 13 Mei 2024. Catatan registrasi itu memuat antigen glikoprotein E virus varicella-zoster dan rute suntikan intramuskular. Izin edar tidak menetapkan bahwa vaksin sesuai bagi setiap orang. Halaman tersebut juga tidak memuat harga, cakupan asuransi, atau stok di fasilitas kesehatan.

BPOM juga memiliki catatan historis vaksin zoster dengan tanggal persetujuan terakhir 31 Desember 2018. Dokumen produk pada catatan tersebut mengidentifikasinya sebagai vaksin hidup yang dilemahkan. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan bukti pembaruan izin, pelepasan lot, atau stok vaksin itu pada 2026. Dua catatan registrasi karena itu tidak cukup untuk menyatakan ada dua pilihan yang sama-sama tersedia. Jenis vaksin di sebuah fasilitas perlu dicocokkan dengan status BPOM yang masih berlaku.

Usia 50 tahun dan risiko imun menentukan sasaran

BPOM menyetujui vaksin zoster rekombinan bagi orang dewasa berusia sedikitnya 50 tahun dan mereka yang berusia sedikitnya 18 tahun dengan risiko lebih tinggi. Indikasi usia 18 tahun bukan ajakan vaksinasi bagi semua orang dalam kelompok umur tersebut. Penyakit dan terapi yang menekan imunitas menjadi bagian penilaian klinis. Waktu vaksinasi perlu diselaraskan dengan kemoterapi, transplantasi, atau terapi penekan imun yang sedang direncanakan.

Sebagai pembanding internasional, CDC merekomendasikan dua suntikan bagi orang berusia sedikitnya 50 tahun dan orang imunokompromais mulai usia 19 tahun di Amerika Serikat. Ambang 19 tahun itu adalah rekomendasi Amerika Serikat, bukan kebijakan nasional Indonesia. Riwayat herpes zoster tidak otomatis menutup kemungkinan vaksinasi. Vaksinasi ditunda ketika herpes zoster masih berada dalam fase akut.

Seri primer terdiri atas dua suntikan

Dokumen penilaian BPOM menetapkan suntikan kedua dua bulan setelah suntikan pertama. Jadwalnya bisa disesuaikan menjadi dua sampai enam bulan bila diperlukan. Pada orang yang mengalami atau akan mengalami imunosupresi, dokter bisa memperpendek jarak menjadi satu sampai dua bulan. Kebutuhan suntikan penguat setelah seri primer belum ditetapkan.

Orang yang pernah menerima vaksin zoster hidup tetap bisa menerima seri vaksin rekombinan menurut dokumen BPOM. Produk, tanggal, dan reaksi setelah vaksinasi sebelumnya menjadi bahan penilaian tenaga kesehatan. Riwayat cacar air juga berbeda dari riwayat vaksin zoster. Vaksin rekombinan tidak ditujukan untuk mencegah infeksi cacar air pertama.

Vial vaksin dan lembar informasi imunisasi herpes zoster (ilustrasi)

Efikasi uji klinis bukan jaminan perlindungan pribadi

Dalam studi yang dinilai BPOM, efikasi terhadap herpes zoster mencapai 96,50 persen pada peserta berusia sedikitnya 50 tahun. Median masa pengamatannya 3,9 tahun. Studi pada kelompok berusia sedikitnya 70 tahun mencatat efikasi 89,79 persen terhadap herpes zoster. Angka tersebut berasal dari uji klinis, bukan pemantauan efektivitas pada populasi Indonesia.

Efikasi tidak berarti seluruh penerima terlindungi dan tidak menghapus kemungkinan herpes zoster berulang. Besarnya manfaat pribadi berubah menurut usia, penyakit, terapi, dan kemampuan menyelesaikan seri. Dokumen BPOM juga belum menetapkan kebutuhan suntikan penguat setelah seri primer. Keputusan vaksinasi menimbang manfaat, risiko reaksi, dan waktu yang sesuai dengan perawatan lain.

Alergi, penyakit akut, dan kehamilan mengubah waktu vaksinasi

Vaksin tidak diberikan kepada orang dengan reaksi alergi terhadap zat aktif atau bahan lain di dalamnya. Infeksi berat disertai demam tinggi menjadi alasan untuk menunda vaksinasi sampai keadaan membaik. Masalah perdarahan atau mudah memar perlu dinilai sebelum suntikan intramuskular. Pilek ringan tidak selalu menghalangi vaksinasi, tetapi kondisi keseluruhan tetap diperiksa oleh tenaga kesehatan.

Leaflet BPOM meminta orang yang hamil, menyusui, mungkin hamil, atau merencanakan kehamilan berkonsultasi sebelum vaksinasi. Dokumen tersebut tidak menetapkan satu keputusan yang berlaku bagi seluruh kelompok itu. Keamanan dan efikasi pada anak serta remaja juga belum ditetapkan. Vaksinasi bagi pasien penyakit kronis atau pengguna obat jangka panjang disesuaikan dengan kondisi dan terapinya.

Reaksi umum biasanya singkat, tetapi tanda berat harus dibedakan

BPOM mencantumkan sakit kepala, gangguan pencernaan, nyeri otot, kelelahan, menggigil, demam, serta nyeri, kemerahan, dan bengkak di tempat suntikan sebagai reaksi sangat umum. Sebagian besar reaksi dalam dokumen itu ringan sampai sedang dan tidak berlangsung lama. Reaksi sementara tetap bisa mengganggu kegiatan harian. Gejala yang menetap atau memburuk memerlukan penilaian tenaga kesehatan.

Reaksi alergi dengan pembengkakan wajah, lidah, atau tenggorokan tergolong jarang, tetapi bisa mengganggu pernapasan atau menelan. Leaflet BPOM juga mencatat sedikit peningkatan risiko sindrom Guillain-Barré pada penerima berusia sedikitnya 65 tahun. Perkiraannya tiga kasus tambahan per satu juta dosis. Catatan itu adalah sinyal keamanan, bukan diagnosis penyebab setiap keluhan setelah vaksinasi. Nyeri, kelemahan, atau kelumpuhan setelah vaksinasi perlu segera dinilai dokter.

Harga, subsidi, dan cakupan JKN belum memiliki rujukan nasional

Lampiran terminologi SATUSEHAT mencantumkan herpes zoster dalam kelompok imunisasi pilihan. Dokumen terminologi tersebut bukan aturan pembiayaan dan tidak menetapkan cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi Indonesia yang memuat harga tunggal atau subsidi nasional vaksin herpes zoster. Ketersediaan, biaya total, dan cakupan asuransi perlu dikonfirmasi pada fasilitas kesehatan sebelum jadwal dibuat.