Indeks massa tubuh (BMI) merangkum berat terhadap tinggi badan, bukan lokasi lemak di dalam tubuh. Seseorang bisa berada dalam rentang BMI normal tetapi memiliki lingkar perut yang melewati batas penapisan. Kombinasi itu membuat angka timbangan saja tidak cukup untuk membaca risiko metabolik.
Masalah tersebut relevan bagi Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat obesitas sentral pada 36,8 persen penduduk berusia di atas 15 tahun. Survei yang sama membedakan obesitas sentral dari obesitas berdasarkan BMI.
Lingkar perut bukan alat untuk menilai keadaan darurat
Angka lingkar perut yang tinggi tidak menjadi keadaan darurat dengan sendirinya. Namun, nyeri dada selama beberapa menit, sesak napas, keringat dingin, mual, atau nyeri menjalar memerlukan pertolongan segera. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencantumkan gejala tersebut sebagai tanda serangan jantung. Kondisi kritis perlu dibawa ke instalasi gawat darurat, bukan dinilai melalui BMI atau pita ukur.
Public Safety Center (PSC) 119 adalah layanan cepat tanggap darurat kesehatan di Indonesia. Penilaian tidak ditunda untuk mengukur ulang pinggang atau mencari perubahan berat badan. Catatan BMI dan lingkar perut baru berguna setelah kebutuhan darurat tertangani.
BMI melewatkan distribusi lemak
SKI 2023 menempatkan BMI 18,5 hingga kurang dari 25,0 sebagai kategori normal bagi orang dewasa. Perhitungan itu tidak membedakan berat dari otot dan berat dari lemak. BMI juga tidak menunjukkan apakah lemak tersimpan di bawah kulit atau mengelilingi organ perut.
Bukti kohort memperlihatkan mengapa distribusi lemak perlu diperhatikan. Analisis NHANES III mengikuti 15.184 orang dewasa dan menemukan kelangsungan hidup terburuk pada kelompok BMI normal dengan obesitas sentral. Pada analisis itu, obesitas sentral ditentukan melalui rasio pinggang-panggul, bukan pencitraan lemak viseral.
Risiko kematian semua sebab pada laki-laki dalam kelompok tersebut memiliki rasio bahaya 1,87 dibandingkan kelompok BMI serupa tanpa obesitas sentral. Pada perempuan, rasionya 1,48. Hasil ini adalah hubungan statistik dari studi observasional dan tidak membuktikan sebab-akibat.
Lemak viseral tidak sama dengan lingkar perut
Lemak viseral berada di rongga perut dan mengelilingi organ, sedangkan lemak subkutan terletak di bawah kulit. Tinjauan ilmiah tahun 2024 menjelaskan bahwa asam lemak bebas dari jaringan viseral mengalir melalui vena porta menuju hati. Jaringan ini juga melepaskan mediator peradangan yang berkaitan dengan resistensi insulin dan gangguan kardiometabolik.
Lingkar perut hanya menjadi penanda praktis bagi penumpukan lemak abdominal. Pita ukur tidak memisahkan lemak viseral dari lemak subkutan dan tidak menggantikan pencitraan medis. Karena itu, istilah “angka lemak viseral” pada alat rumah tidak boleh diperlakukan sebagai diagnosis.
Batas Indonesia adalah 90 cm dan 80 cm
Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa Kemenkes tahun 2025 memakai batas di atas 90 cm bagi laki-laki. Batas bagi perempuan dewasa adalah di atas 80 cm. Angka tersebut digunakan bersama BMI untuk penapisan obesitas dewasa.
Lingkar pinggang juga menjadi satu dari lima kriteria sindrom metabolik dalam pedoman itu. Empat kriteria lain mencakup trigliserida, kolesterol HDL, tekanan darah, dan glukosa darah. Diagnosis memerlukan sedikitnya tiga dari lima kriteria, sehingga satu ukuran pinggang tidak cukup.
SKI memakai batas yang sama untuk menggambarkan obesitas sentral pada tingkat populasi. Angka 36,8 persen tidak berarti seluruh kelompok tersebut memiliki sindrom metabolik. Data survei juga tidak menjawab berapa banyak orang dengan BMI normal yang memiliki obesitas sentral.
Cara mengukur mengikuti titik anatomi, bukan garis celana
Pita ukur lentur ditempatkan langsung pada kulit atau di atas pakaian tipis. Protokol WHO STEPS menetapkan titik ukur di tengah rusuk terakhir yang teraba dan puncak tulang panggul. Titik itu belum tentu sejajar dengan pusar atau garis celana.
Orang yang diukur berdiri dengan kedua kaki rapat dan berat terbagi merata. Lengan berada santai di sisi tubuh, sedangkan pita melingkari tubuh sejajar lantai. Pita menempel tanpa menekan kulit, lalu angka dibaca setelah embusan napas normal.
Perbandingan dari waktu ke waktu memerlukan cara yang sama. Perubahan posisi pita, pakaian tebal, atau menahan napas bisa menggeser hasil. Bila angka berada dekat batas, pengukuran ulang yang konsisten lebih berguna daripada memilih angka terendah.
Rasio pinggang terhadap tinggi menambah konteks, bukan diagnosis
Rasio pinggang terhadap tinggi dihitung dengan membagi lingkar pinggang oleh tinggi badan dalam satuan yang sama. Meta-analisis 34 studi dengan 512.809 peserta menemukan rasio ini mengungguli BMI untuk beberapa luaran kardiometabolik. BMI tidak lebih baik pada luaran diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan kematian yang dianalisis.
Temuan itu tidak membuat satu rasio berlaku sebagai diagnosis untuk semua orang. Titik potong terbaik berbeda menurut populasi dan luaran yang dinilai. Pedoman Kemenkes 2025 tetap memberikan batas klinis nasional dalam bentuk lingkar pinggang, bukan satu batas rasio universal.
Hasil dibaca bersama tekanan darah dan pemeriksaan laboratorium
Lingkar perut di atas batas menjadi alasan untuk menilai faktor risiko lain, bukan menetapkan penyakit sendiri. Hasil tekanan darah, glukosa, trigliserida, HDL, riwayat kesehatan, dan obat rutin perlu dibawa saat berkonsultasi. Dokter kemudian menentukan apakah pemeriksaan tambahan atau terapi diperlukan.
Orang dengan diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, atau obat jangka panjang memerlukan penilaian yang mempertimbangkan kondisi tersebut. Batas dewasa ini juga tidak diterapkan langsung pada anak atau ibu hamil. Kelompok tersebut perlu memakai acuan klinis yang sesuai dengan usia dan keadaan tubuh.
BMI tetap berguna untuk penapisan populasi dan mengikuti perubahan berat terhadap tinggi badan. Lingkar perut menambahkan informasi tentang distribusi lemak yang tidak terlihat pada BMI. Keduanya menjadi awal pemeriksaan, bukan pengganti penilaian klinis.
Sumber dan rujukan
- Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)Penapisan obesitas dewasa serta kriteria sindrom metabolik.
- Hasil Utama Survei Kesehatan Indonesia 2023(Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan)Kategori BMI, definisi obesitas sentral, dan prevalensi nasional.
- WHO STEPS Surveillance: Measuring Waist Circumference(World Health Organization)Titik anatomi, posisi pita, dan waktu membaca hasil.
- Normal Weight Central Obesity: Implications for Total and Cardiovascular Mortality(Annals of Internal Medicine)Analisis NHANES III tentang BMI normal, obesitas sentral, dan mortalitas.
- The Pathophysiology of Visceral Adipose Tissues in Cardiometabolic Diseases(Biochemical Pharmacology)Mekanisme lemak viseral dalam resistensi insulin dan gangguan kardiometabolik.
- Waist-to-height ratio compared with BMI as a predictor of cardiometabolic risk(Diabetes, Metabolic Syndrome and Obesity)Tinjauan sistematis dan meta-analisis 34 studi.
- Tanda-tanda Serangan Jantung dan Langkah Penanganan yang Tepat(Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan)Tanda serangan jantung yang memerlukan pertolongan segera.
- PSC 119(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)Layanan cepat tanggap darurat kesehatan Indonesia.