Benzo[a]piren adalah salah satu hidrokarbon aromatik polisiklik (polycyclic aromatic hydrocarbons/PAH) yang terbentuk ketika bahan organik terbakar atau terurai oleh panas. Zat ini tidak hanya ditemukan pada minyak, tetapi juga pada asap tembakau, polusi udara, serta pangan yang diasap atau dipanggang. Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) mengevaluasi benzo[a]piren sebagai agen Grup 1 yang karsinogenik bagi manusia. Klasifikasi tersebut menerangkan bahaya zat, bukan memastikan bahwa satu kali konsumsi menimbulkan kanker.

Risiko aktual ditentukan oleh kadar, jumlah yang termakan, frekuensi, dan lamanya paparan. Komite Ahli Gabungan FAO/WHO untuk Bahan Tambahan Pangan (JECFA) menyebut benzo[a]piren sebagai karsinogen genotoksik dan tidak menetapkan asupan yang dapat ditoleransi. Evaluasi itu memperkirakan efek kesehatan pada tingkat asupan pangan yang dinilai saat itu kemungkinan kecil, tetapi ketidakpastiannya tetap besar. JECFA karena itu menganjurkan agar paparan ditekan sejauh yang praktis.

Pencemaran bisa dimulai sebelum minyak masuk pabrik

PAH menempel pada biji penghasil minyak melalui udara, tanah, atau pengeringan yang memakai asap pembakaran langsung. Pemanggangan dan pengepresan pada suhu tinggi juga memicu oksidasi serta penguraian termal. Tinjauan ilmiah pada 2025 menempatkan bahan baku dan kondisi pengolahan sebagai dua sumber utama PAH4 dalam minyak pangan. PAH4 mencakup benzo[a]piren, benz[a]antrasena, benzo[b]fluorantena, dan krisena.

Rangkaian pemurnian menurunkan cemaran yang sudah berada dalam minyak mentah. Tahap netralisasi, pemucatan, dan deodorisasi tidak memberi hasil yang sama pada setiap bahan dan pabrik. Tinjauan tersebut merangkum studi yang melaporkan penurunan PAH4 sebesar 70,19–85,40 persen setelah pemurnian. Angka itu adalah rentang dari studi yang dikaji, bukan jaminan bagi semua minyak di pasar.

Alur pengeringan biji, pemurnian minyak, dan pengemasan dalam botol (ilustrasi)

Suhu dan lama penyimpanan juga memengaruhi perubahan kadar PAH4 menurut tinjauan yang sama. Artinya, pengendalian perlu berjalan sejak pemilihan bahan, pengeringan, ekstraksi, pemurnian, hingga distribusi. Pemeriksaan pada produk akhir tetap penting karena konsumen tidak melihat riwayat proses tersebut. Kejernihan minyak tidak membuktikan bahwa produk bebas dari benzo[a]piren.

Satu senyawa tidak menggambarkan seluruh paparan PAH

Benzo[a]piren sering digunakan sebagai penanda karena data toksikologinya lebih lengkap daripada banyak anggota PAH lain. Namun, senyawa itu jarang muncul sendirian dalam pangan. Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menyimpulkan benzo[a]piren saja bukan indikator yang memadai dan menilai PAH4 atau PAH8 lebih mewakili cemaran. Hasil uji satu senyawa karena itu tidak otomatis menjelaskan seluruh campuran PAH.

Perbedaan ini penting saat membaca kabar tentang produk yang melampaui batas. Status karsinogenik menjawab apakah zat mampu menyebabkan kanker dalam kondisi tertentu. Angka hasil laboratorium dan pola konsumsi diperlukan untuk memperkirakan besar risiko pada konsumen. Tanpa data itu, klaim bahwa satu kali makan pasti menyebabkan penyakit tidak memiliki dasar.

Informasi Indonesia belum cukup untuk membuat angka pembanding

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia yang memuat batas khusus benzo[a]piren pada minyak goreng sekaligus data paparan konsumen nasional. Karena itu, laporan ini tidak memindahkan batas atau angka dari yurisdiksi lain menjadi standar Indonesia. Ketiadaan dokumen yang ditemukan bukan bukti bahwa pengawasan atau pengujian tidak dilakukan. Ini adalah batas informasi publik yang berhasil diverifikasi untuk laporan ini.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyediakan sarana pemeriksaan administratif bagi konsumen. Portal Cek BPOM memuat pencarian pangan olahan terdaftar, penjelasan publik, dan daftar produk yang ditarik dari peredaran. Nomor izin edar membantu mencocokkan identitas produk dengan catatan BPOM. Pendaftaran tidak menggantikan hasil uji laboratorium untuk satu botol atau satu lot produksi.

Konsumen memeriksa label pada botol minyak goreng di rak pasar swalayan (ilustrasi)

Label dan riwayat produk lebih berguna daripada warna minyak

Benzo[a]piren tidak bisa dikenali hanya dengan melihat warna, endapan, atau kejernihan minyak. Bau tengik menandakan mutu minyak berubah, tetapi bukan alat ukur PAH. Konsumen bisa mencocokkan nama produk, produsen, nomor izin edar, dan pengumuman penarikan melalui kanal BPOM. Produk yang tercantum dalam penarikan perlu mengikuti petunjuk resmi untuk lot yang disebut.

Label penyimpanan juga perlu dibaca karena panas dan cahaya mempercepat penurunan mutu minyak. Wadah sebaiknya tetap tertutup dan dijauhkan dari sumber panas sesuai petunjuk produsen. Minyak yang sudah berasap, menggelap, atau berubah bau setelah pemakaian tidak layak dipakai berulang kali. Ciri tersebut menunjukkan kerusakan minyak, meski tidak mengukur kadar benzo[a]piren.

Pemanasan berulang menambah sumber paparan yang bisa dicegah

Kajian 2025 mengaitkan penggorengan bersuhu tinggi dan pemanasan lama dengan pembentukan PAH4 melalui oksidasi serta penguraian termal. Temuan itu tidak berarti setiap makanan goreng memiliki kadar yang sama. Jenis minyak, suhu, lama pemanasan, bahan pangan, dan jumlah pemakaian ulang mengubah hasilnya. Pengujian laboratorium tetap diperlukan untuk mengetahui konsentrasi pada sampel tertentu.

Minyak dituangkan ke wajan di dapur rumah (ilustrasi)

Pengendalian terbesar tetap berada pada produsen karena pencemaran awal bisa terjadi sebelum minyak dibeli. Konsumen hanya mengendalikan penyimpanan dan pemanasan setelah kemasan dibuka. Memakai suhu secukupnya dan tidak mempertahankan minyak hingga berasap mengurangi kerusakan akibat panas. Langkah rumah tangga tidak memperbaiki lot yang sejak awal tercemar.