Angkak berasal dari beras yang difermentasi dengan kapang Monascus, terutama Monascus purpureus. Sebagian produk mengandung monacolin K, senyawa yang berkaitan langsung dengan penurunan kolesterol. Otoritas Keamanan Pangan Eropa (European Food Safety Authority/EFSA) menegaskan bahwa monacolin K dalam bentuk lakton identik dengan lovastatin. Karena itu, sebutan “alami” tidak menghapus risiko yang dikenal pada obat statin.

Jumlah monacolin pada produk angkak tidak selalu sama. Bahan fermentasi juga bisa mengandung citrinin, kontaminan yang berisiko merusak ginjal. Perbedaan proses, galur kapang, dan formulasi membuat satu produk tidak mewakili produk lain. Klaim pada kemasan pun tidak cukup untuk menentukan kadar aktif atau keamanan bagi seseorang.

Tanda gangguan serius perlu dinilai segera

Nyeri atau kelemahan otot tanpa sebab jelas memerlukan pertolongan medis segera, terlebih bila disertai demam atau lemas berat. Urine gelap, kulit atau bagian putih mata menguning, nyeri perut kanan atas, dan sesak juga tidak boleh ditunda. MedlinePlus mencantumkan gejala tersebut sebagai reaksi serius yang memerlukan dokter atau bantuan medis darurat pada penggunaan lovastatin. Riwayat konsumsi angkak, obat resep, dan suplemen lain perlu disampaikan saat pemeriksaan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menetapkan kelompok yang harus mendapat peringatan khusus pada label produk berbahan Monascus purpureus. BPOM melarang penggunaan pada orang dengan gangguan hati atau ginjal, usia di bawah 18 tahun, dan usia di atas 70 tahun. Larangan pada label yang sama mencakup perempuan hamil atau menyusui. Daftar tersebut meminta konsultasi dokter secara berkala dan kewaspadaan bila produk dipakai bersama obat penurun kolesterol. Durasi pemakaian pada peringatan BPOM dibatasi paling lama tiga bulan.

Perbandingan struktur monacolin K dan lovastatin sebagai senyawa yang identik (ilustrasi)

Risikonya mengikuti monacolin, bukan citra “alami”

EFSA menilai monacolin dari angkak memiliki profil kejadian merugikan yang serupa dengan lovastatin. Sasaran utamanya mencakup otot dan jaringan ikat, hati, sistem saraf, saluran cerna, serta kulit. Laporan kasus berat pernah muncul pada asupan serendah 3 mg per hari. Namun, laporan kasus tidak menunjukkan bahwa setiap orang pada kadar tersebut akan mengalami efek yang sama.

Ketidakpastian itu tetap ada setelah data baru dinilai. Dalam opini 2025, EFSA menyatakan data tambahan belum membuktikan keamanan di bawah 3 mg per hari atau menghasilkan batas asupan tanpa kekhawatiran. Penilaian tersebut juga menyoroti keterbatasan data pada kelompok rentan dan produk dengan banyak bahan. Angka rendah pada label tidak bisa dibaca sebagai jaminan bebas risiko.

Uni Eropa memakai hasil penilaian itu sebagai dasar pembatasan pangan dan suplemen. Commission Regulation (EU) 2022/860 mewajibkan porsi harian menyediakan kurang dari 3 mg monacolin dari angkak. Label juga harus melarang penggunaan bersama obat penurun kolesterol atau produk angkak lain. Aturan Eropa ini berguna sebagai pembanding keselamatan, tetapi tidak berlaku sebagai batas hukum Indonesia.

BPOM menempatkan interaksi obat pada label

Peringatan BPOM menyebut atorvastatin, simvastatin, dan lovastatin sebagai contoh obat yang perlu diwaspadai bila digunakan bersama angkak. Daftar tersebut tidak berarti obat lain pasti aman untuk dipadukan. Penilaian interaksi memerlukan daftar lengkap obat resep, obat bebas, jamu, dan suplemen yang digunakan. Mengganti statin resep dengan angkak juga menghilangkan pengawasan dosis dan respons terapi dari tenaga kesehatan.

Nomor izin edar memberi satu lapisan pemeriksaan administratif, bukan bukti bahwa produk cocok untuk setiap orang. Basis data Cek Produk BPOM memuat kategori suplemen kesehatan serta daftar produk yang ditarik dari peredaran. Nama produk, nomor izin edar, pendaftar, dan komposisi pada kemasan perlu sesuai dengan catatan resmi. Temuan itu tetap tidak menggantikan pemeriksaan obat yang sedang digunakan atau kondisi hati dan ginjal.

Kasus Kobayashi berasal dari kontaminasi produksi tertentu

Penarikan produk Kobayashi Pharmaceutical pada Maret 2024 menyusul laporan gangguan ginjal dan temuan komponen yang tidak diharapkan. Penyelidikan kemudian menemukan kontaminasi Penicillium adametzioides pada tahap fermentasi. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menyimpulkan puberulic acid yang terbentuk akibat kontaminasi itu menyebabkan gangguan ginjal dalam pengujian. Dua senyawa lain yang terbentuk selama kontaminasi tidak menunjukkan penyebab yang sama.

Perbedaan puberulic acid dari kontaminasi kapang dan citrinin pada angkak (ilustrasi)

Temuan Jepang tidak sama dengan persoalan monacolin K atau citrinin. Puberulic acid muncul dalam insiden produksi tertentu, sehingga kasus itu tidak membuktikan semua angkak mengandung kontaminan tersebut. Sebaliknya, uji citrinin saja tidak otomatis mendeteksi puberulic acid. Pelajarannya terletak pada kendali bahan baku, lingkungan fermentasi, ketertelusuran lot, dan respons penarikan produk.

Data pembanding Indonesia masih terbatas

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan data resmi Indonesia yang membandingkan monacolin K dan citrinin dalam produk angkak. Ketiadaan data pembanding publik bukan berarti pengujian tidak pernah dilakukan. Artinya, konsumen belum memiliki dasar resmi untuk menganggap kandungan semua merek seragam. Penilaian keamanan harus bertumpu pada produk, kondisi kesehatan, dan obat yang digunakan, bukan pada reputasi bahan alami.