Kekuatan genggam yang menurun, langkah yang melambat, kelelahan, berkurangnya aktivitas, dan penurunan berat badan tanpa disengaja bisa menandai kerapuhan fisik. Fenotipe Fried memakai lima kriteria tersebut; satu atau dua kriteria disebut prakerapuhan, sedangkan sedikitnya tiga disebut kerapuhan. Penilaian ini berbeda dari sarkopenia, yang berfokus pada kekuatan, massa otot, dan performa fisik. Keduanya bisa terjadi bersamaan, tetapi satu istilah tidak menggantikan yang lain.
Prakerapuhan bukan ramalan bahwa seseorang pasti akan kehilangan kemandirian. Istilah itu menandai meningkatnya kerentanan dan kebutuhan untuk menilai penyebab yang mungkin ditangani. Penyakit akut, asupan gizi, efek obat, gangguan penglihatan, nyeri, suasana hati, dan lingkungan rumah ikut memengaruhi fungsi. Karena itu, hasil skrining perlu diikuti penilaian klinis, bukan dipakai sebagai diagnosis mandiri.
Tanda bahaya perlu ditangani sebelum latihan dilanjutkan
Nyeri dada, sesak, pusing, keringat dingin, atau nyeri sendi akut yang muncul saat latihan bukan tanda untuk menambah beban. Materi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta lansia menghentikan latihan ketika gejala tersebut muncul dan berkonsultasi dengan dokter. Pingsan, kelemahan mendadak, jatuh dengan cedera, atau sesak berat memerlukan pertolongan segera. Latihan rutin tidak menggantikan pemeriksaan atas perubahan baru yang berat atau cepat.
Lansia dengan penyakit jantung, gangguan paru, nyeri lutut atau punggung, riwayat jatuh, maupun alat bantu jalan memerlukan pilihan gerakan tersendiri. Penilaian juga penting bagi orang yang memakai obat jangka panjang karena pusing atau kantuk bisa mengubah risiko jatuh. Tenaga kesehatan menilai mobilitas, keseimbangan, keluhan, obat, dan kebutuhan pendamping. Program kemudian disusun menurut kemampuan awal, bukan menurut target orang lain.
Bukti latihan resistansi mencakup prakerapuhan dan sarkopenia
Meta-analisis Talar dan kolega pada 2021 mencakup 25 studi acak terkontrol dengan 2.267 peserta berusia sedikitnya 65 tahun. Peserta mengalami prakerapuhan, kerapuhan, prasarkopenia, atau sarkopenia, sedangkan program latihan berlangsung setidaknya delapan minggu. Hasil gabungan berpihak pada latihan resistansi untuk kekuatan genggam dan tungkai. Kecepatan berjalan, kelincahan, kestabilan postur, dan performa fungsional juga membaik pada tingkat kelompok.
Temuan itu tidak menetapkan satu resep latihan untuk seluruh lansia. Durasi rata-rata program sekitar 20 minggu, tetapi volume, intensitas, gerakan, dan pengawasan berbeda antarp studi. Sebagian besar analisis juga memiliki heterogenitas sedang hingga tinggi. Penulis menyebut bukti jangka panjang masih dibutuhkan, khususnya untuk memastikan apakah latihan mengurangi prevalensi kerapuhan atau sarkopenia.
Perbaikan rata-rata dalam penelitian tidak memastikan hasil yang sama pada seorang peserta. Lansia yang berjalan mandiri, pengguna alat bantu, dan orang yang baru pulih dari rawat inap memiliki titik awal berbeda. Kemajuan juga perlu dinilai melalui fungsi yang relevan, seperti bangkit dari kursi, berjalan, atau menjalankan kegiatan harian. Catatan rasa lebih bugar tidak menggantikan pengukuran fungsi.
Gerakan sederhana tetap memerlukan penyesuaian
Bangkit dari kursi melatih fungsi tungkai yang dipakai dalam kegiatan sehari-hari. Pita elastis memberi tahanan pada gerak lengan atau tungkai, sedangkan latihan keseimbangan menantang kestabilan tubuh. Gerakan genggam menargetkan tangan dan lengan bawah. Pemilihan satu kaki sebagai tumpuan memerlukan pegangan atau pengawasan bila keseimbangan belum aman.
Edukasi RSUP Dr. M. Djamil Padang menekankan gerakan pelan dan terkontrol, peningkatan bertahap, serta penyesuaian jenis latihan dengan keluhan tiap orang. Keluhan lutut atau punggung, misalnya, bisa memerlukan aktivitas berbenturan rendah. Beban yang terlalu berat dan gerakan cepat bukan ukuran keberhasilan. Teknik, keteraturan, dan respons tubuh menjadi dasar peningkatan latihan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan penguatan otot sedikitnya dua hari per minggu. Aktivitas untuk kebugaran, mobilitas, dan pencegahan jatuh disarankan sedikitnya tiga hari per minggu. WHO juga meminta aktivitas dimulai dalam jumlah kecil lalu ditambah perlahan. Angka tersebut adalah sasaran umum, bukan jadwal pemulihan untuk setiap penyakit. Orang yang memiliki keterbatasan fisik perlu meminta tenaga kesehatan menyesuaikan aktivitas.
Skrining harus terhubung dengan rencana perawatan
Skrining memberi petunjuk tentang bagian fungsi yang menurun, tetapi manfaatnya bergantung pada tindak lanjut. Panduan Integrated Care for Older People (ICOPE) edisi kedua dari WHO menempatkan deteksi penurunan kapasitas intrinsik bersama kebutuhan dukungan sosial dan rencana perawatan individual. Jalur tersebut dirancang untuk layanan primer dan komunitas serta perlu disesuaikan dengan konteks setempat. Latihan kekuatan menjadi satu bagian dari penanganan yang lebih luas.
Di Indonesia, puskesmas, rumah sakit, layanan rehabilitasi medik, dan kegiatan komunitas menawarkan bentuk dukungan yang berbeda. Ketersediaan fisioterapis, instruktur, alat, serta jadwal tidak seragam antardaerah. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi Indonesia yang memuat angka nasional prakerapuhan untuk dibandingkan dengan studi internasional. Kekosongan angka itu tidak membuktikan masalahnya tidak ada, tetapi membatasi gambaran skala nasional.
Pemantauan sebaiknya melihat kemampuan yang penting bagi kehidupan lansia dan keluarga. Perubahan pada cara berjalan, kemampuan bangkit, kejadian jatuh, kelelahan, atau kemandirian memberi konteks bagi hasil tes kekuatan. Penurunan yang menetap perlu memicu evaluasi gizi, obat, penyakit penyerta, dan keamanan rumah. Rencana latihan lalu diperbarui sesuai hasil penilaian tersebut.
Latihan lebih awal bukan janji membalikkan semua penurunan
Prakerapuhan memberi kesempatan untuk mengenali penurunan sebelum gangguan fungsi bertambah berat. Bukti mendukung latihan resistansi sebagai bagian dari upaya memperbaiki kekuatan dan fungsi fisik pada kelompok yang diteliti. Namun, istilah “dapat dibalikkan” tidak berarti seluruh peserta kembali ke kondisi awal. Usia, penyakit penyerta, gizi, kepatuhan, dan rancangan program ikut menentukan hasil.
Program yang aman menghubungkan skrining, penilaian klinis, latihan yang disesuaikan, dan pemantauan berkala. Keluarga bisa membantu menyiapkan ruang yang tidak licin dan mendampingi bila risiko jatuh tinggi. Tenaga kesehatan menentukan perubahan yang diperlukan ketika ada nyeri, pusing, sesak, atau penurunan fungsi baru. Sasaran utamanya adalah mempertahankan fungsi dan kemandirian tanpa mengabaikan batas kesehatan tiap lansia.
Baca juga: Hasil cek kesehatan normal belum menilai kekuatan dan mobilitas.
Sumber dan rujukan
- Fried LP, et al. (2001). Frailty in older adults: evidence for a phenotype(PubMed)Lima kriteria fenotipe kerapuhan dan pembagian prakerapuhan serta kerapuhan.
- Talar K, et al. (2021). Benefits of Resistance Training in Early and Late Stages of Frailty and Sarcopenia(Journal of Clinical Medicine)Jumlah studi dan peserta, hasil latihan resistansi, serta keterbatasan tinjauan.
- Being active in later adulthood(World Health Organization)Frekuensi penguatan otot, peningkatan aktivitas secara bertahap, dan penyesuaian menurut kondisi fisik.
- Integrated care for older people: guidance for person-centred assessment and pathways in primary care, 2nd ed(World Health Organization)Deteksi penurunan kapasitas intrinsik dan penyusunan rencana perawatan individual di layanan primer serta komunitas.
- Aktivitas Fisik untuk Menjaga Kebugaran Lansia(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)Tanda peringatan saat latihan dan anjuran menghentikan aktivitas.
- RS M Djamil Dorong Lansia Tetap Aktif Melalui Latihan Penguatan Otot(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)Penyesuaian jenis latihan, gerakan terkontrol, dan prinsip peningkatan bertahap.