Penilaian geriatri komprehensif (comprehensive geriatric assessment/CGA) memeriksa kemampuan lansia menjalani kehidupan sehari-hari, bukan hanya penanda penyakit. Cakupannya bisa meliputi mobilitas, kognisi, nutrisi, suasana hati, indera, penggunaan obat, dan dukungan sosial. Pendekatan ini membantu tenaga kesehatan melihat penurunan fungsi yang tidak selalu muncul pada pemeriksaan laboratorium rutin. Hasilnya tetap perlu dibaca bersama riwayat kesehatan dan pemeriksaan klinis.

Sebuah studi di Taiwan memasangkan penilaian tersebut dengan klasifikasi konstitusi pengobatan tradisional Tiongkok (traditional Chinese medicine/TCM). Studi prospektif observasional itu merekrut 100 orang berusia sedikitnya 65 tahun antara Januari 2020 dan Desember 2021. Tujuannya menilai hubungan antara ranah geriatri dan hasil kuesioner konstitusi tubuh. Penelitian ini tidak menguji apakah terapi berdasarkan konstitusi memperbaiki kesehatan lansia.

Penurunan mendadak memerlukan penanganan segera

Penilaian terjadwal tidak ditujukan untuk keadaan gawat. Wajah tidak simetris, kelemahan separuh tubuh, bicara pelo, kebas satu sisi, atau penglihatan kabur yang muncul mendadak memerlukan pertolongan segera. Sakit kepala hebat yang belum pernah dialami juga termasuk tanda bahaya. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta orang dengan tanda stroke segera dibawa ke rumah sakit.

Jatuh disertai cedera, pingsan, kebingungan baru, atau penurunan kemampuan bergerak yang cepat juga perlu dinilai segera. Kuesioner konstitusi tidak menentukan penyebab gejala tersebut. Hasil cek kesehatan sebelumnya pun tidak menunda pemeriksaan atas perubahan baru. Penurunan perlahan perlu dibahas dengan tenaga kesehatan bila mulai mengganggu makan, mandi, berjalan, atau kegiatan rutin.

Studi menemukan hubungan pada beberapa ranah geriatri

Tim penelitian menilai depresi, aktivitas harian, nutrisi, kognisi, penyakit penyerta, kerentanan, dan gangguan indera. Mereka juga memakai tes fungsi serta kuesioner konstitusi tubuh (Body Constitution Questionnaire). Gangguan aktivitas harian, kognisi, pendengaran, tidur, dan kontinensia berhubungan secara statistik dengan klasifikasi konstitusi abnormal. Jumlah ranah geriatri yang terdampak juga berkaitan dengan kemungkinan hasil konstitusi abnormal.

Usia yang lebih tinggi, polifarmasi, dan hasil Timed Up and Go yang terganggu menunjukkan hubungan serupa. Sarkopenia tidak menunjukkan hubungan dengan klasifikasi konstitusi abnormal dalam sampel ini. Analisis regresi menempatkan gangguan tidur dan ketergantungan dalam aktivitas harian sebagai faktor risiko potensial. Istilah “potensial” penting karena rancangan penelitian tidak membuktikan arah sebab-akibat.

Diagram irisan antara penilaian geriatri komprehensif dan klasifikasi konstitusi TCM

CGA dan ICOPE menempatkan fungsi sebagai sasaran penilaian

CGA adalah proses multidimensi yang menghubungkan temuan medis dengan kemampuan fungsional dan kebutuhan sosial. Hasil pada satu ranah tidak berdiri sebagai diagnosis. Gangguan berjalan, misalnya, bisa berkaitan dengan otot, sendi, saraf, penglihatan, obat, atau lingkungan rumah. Tim layanan menentukan pemeriksaan lanjutan sesuai gambaran tiap pasien.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyusun Integrated Care for Older People (ICOPE) untuk mencegah, memperlambat, atau membalikkan penurunan kapasitas fisik dan mental. Kerangka itu mencakup mobilitas, vitalitas, kemampuan sensorik, psikologis, dan kognitif. Inkontinensia, risiko jatuh, kebutuhan pengasuh, dan dukungan sosial ikut diperhatikan. Rencana layanan berpusat pada kebutuhan serta preferensi lansia.

Indonesia memakai istilah pengkajian paripurna pasien geriatri (P3G) dalam layanan geriatri. Materi Kemenkes menjelaskan bahwa P3G menilai kondisi medis, penyakit penyerta, obat, fungsi fisik, kognisi, psikologis, gizi, frailty, kualitas hidup, dan keadaan sosial-ekonomi. Cakupan ini sejalan dengan prinsip penilaian multidimensi. P3G tidak sama dengan kuesioner konstitusi TCM.

Klasifikasi konstitusi belum menjadi pedoman terapi

Kuesioner konstitusi mengelompokkan pola gejala dan kecenderungan tubuh dalam kerangka TCM. Hasil klasifikasi bukan diagnosis penyakit dan tidak menerangkan penyebab satu gejala secara mandiri. Hubungan dengan gangguan tidur atau aktivitas harian juga tidak membuktikan bahwa konstitusi memicu gangguan tersebut. Arah sebaliknya atau faktor ketiga masih mungkin menjelaskan temuan.

Studi ini tidak membandingkan obat herbal, akupunktur, latihan, atau terapi lain dengan kelompok kontrol. Karena itu, hasilnya belum menjadi dasar untuk memilih pengobatan menurut tipe konstitusi. Klaim manfaat memerlukan uji intervensi dengan hasil klinis terukur dan masa tindak lanjut yang memadai. Cerita perbaikan seorang pasien tidak menggantikan pembuktian tersebut.

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan pedoman resmi Indonesia yang menggabungkan P3G dengan klasifikasi konstitusi TCM. Kami juga belum menemukan data pembanding nasional tentang frekuensi klasifikasi abnormal pada lansia Indonesia. Perbedaan bahasa kuesioner, budaya, pola layanan, dan karakter peserta bisa memengaruhi hasil. Penerapan lokal memerlukan validasi alat dan penelitian pada populasi Indonesia.

Polifarmasi membutuhkan penilaian terpisah

Hubungan polifarmasi dengan klasifikasi konstitusi dalam studi tidak berarti obat menjadi penyebab tunggal. Lansia yang memakai banyak obat sering memiliki beberapa penyakit dan kebutuhan layanan yang lebih kompleks. Peninjauan obat perlu mempertimbangkan indikasi, manfaat, efek samping, duplikasi, dan kemampuan pasien mengikuti jadwal. Perubahan atau penghentian obat berada dalam penilaian dokter yang merawat.

Risiko juga berlaku ketika obat bahan alam dipakai bersama terapi lain. Dokumen teknis WHO menjelaskan bahwa interaksi obat herbal dengan obat lain bisa menguntungkan atau merugikan dan sulit dinilai tanpa informasi produk serta kondisi pengguna. Lansia dengan penyakit kronis atau penggunaan obat jangka panjang perlu menyampaikan seluruh obat, jamu, dan suplemen kepada dokter atau apoteker. Penilaian konstitusi tidak menjamin suatu kombinasi aman.

Bukti dari 100 peserta belum bisa digeneralisasi

Jumlah peserta kecil dan berasal dari satu konteks layanan di Taiwan. Sampel tersebut belum mewakili keragaman lansia di Indonesia. Studi observasional juga rentan terhadap faktor perancu, termasuk beban penyakit, pola penggunaan obat, dan akses layanan. Hubungan statistik dalam satu sampel perlu diuji ulang melalui studi yang lebih besar dan beragam.

Temuan yang tidak menunjukkan hubungan dengan sarkopenia pun bukan bukti bahwa kedua hal selalu terpisah. Sampel kecil bisa gagal menangkap hubungan yang sebenarnya ada. Sebaliknya, hubungan pada tidur atau pendengaran belum tentu bertahan pada populasi lain. Besar risiko individual tidak bisa dihitung dari hasil studi ini saja.

Penilaian geriatri komprehensif tetap berguna karena menyatukan fungsi fisik, mental, indera, obat, dan dukungan sosial. Klasifikasi konstitusi TCM dalam penelitian ini menambah hipotesis tentang pola antarranah, bukan memastikan terapi. Konteks Indonesia telah memiliki P3G sebagai pijakan penilaian multidimensi. Penggabungan dengan metode lain memerlukan validasi lokal, standar pelaksanaan, dan bukti manfaat klinis.

Baca juga: Hasil cek kesehatan normal belum menilai kekuatan dan mobilitas.