Tekanan menyusui kerap muncul ketika keluarga menilai keadaan ibu hanya dari jumlah ASI atau cara bayi diberi minum. Padahal, ibu juga menjalani pemulihan fisik, tidur yang terputus, dan perubahan besar dalam pekerjaan sehari-hari. Pertanyaan berulang dan perbandingan pengalaman bisa membuat perhatian terasa seperti penilaian. Dukungan yang dibutuhkan berawal dari mendengar kebutuhan ibu lalu membagi beban secara nyata.
Studi longitudinal di Selandia Baru pada 2024 mengaitkan tekanan menyusui dengan kecemasan, stres, dan gejala trauma persalinan empat minggu kemudian. Hubungan itu tetap terlihat setelah peneliti mempertimbangkan kesulitan menyusui dan riwayat kesehatan mental. Namun, studi observasional tersebut tidak menetapkan tekanan sebagai penyebab tunggal. Pengalaman peserta di Selandia Baru juga tidak langsung mewakili seluruh keluarga Indonesia.
Pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi memerlukan pertolongan darurat, tanpa menunggu dua minggu. Halusinasi, delusi, atau perubahan suasana hati yang cepat setelah persalinan juga menuntut penanganan segera. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut psikosis pascapersalinan sebagai keadaan darurat medis yang memerlukan perawatan segera. Keluarga perlu membawa ibu ke instalasi gawat darurat atau menghubungi layanan darurat setempat.
Tekanan menyusui bukan ukuran kepedulian
Pesan kesehatan publik tentang manfaat ASI tidak semestinya berubah menjadi ukuran keberhasilan seorang ibu. Studi 2024 mencatat tekanan sering terkait dengan gagasan bahwa menyusui menentukan keberhasilan sebagai orang tua. Peserta juga melaporkan kurangnya pilihan, otonomi, dan dukungan ketika menghadapi kesulitan. Karena itu, percakapan perlu berpusat pada kebutuhan ibu dan bayi, bukan pada pembuktian satu cara pemberian makan.
Keluarga bisa mengganti pertanyaan “ASI cukup atau tidak?” dengan pertanyaan tentang bantuan yang sedang dibutuhkan. Mereka juga perlu menghindari perbandingan dengan pengalaman saudara, tetangga, atau generasi sebelumnya. Keputusan tentang menyusui langsung, ASI perah, kombinasi, atau pilihan lain perlu dibicarakan tanpa mempermalukan ibu. Bila muncul masalah menyusui, keluarga bisa membantu menghubungi bidan, dokter, puskesmas, atau konselor menyusui yang kompeten.
| Situasi | Bahasa yang mendukung | Bahasa yang menambah tekanan |
|---|---|---|
| Menanyakan keadaan | “Bantuan apa yang paling dibutuhkan hari ini?” | “ASI cukup atau tidak?” |
| Membahas pertumbuhan bayi | “Apa hasil pemeriksaan tenaga kesehatan?” | “Mengapa beratnya belum naik?” |
| Menghadapi perubahan rencana | “Kita bisa mencari bantuan yang sesuai kebutuhan ibu dan bayi.” | “Kalau berusaha lebih keras pasti berhasil.” |
Pasangan mengambil bagian, bukan sekadar membantu
Tinjauan sistematis pada 2020 menemukan tujuh studi yang menilai bentuk dukungan pasangan terhadap awal, durasi, atau eksklusivitas menyusui. Dukungan itu mencakup respons terhadap kebutuhan ibu, dorongan lisan, penanganan kesulitan, serta pekerjaan rumah dan pengasuhan. Dua studi dalam tinjauan tersebut berupa uji terkontrol. Penulis tidak menghitung estimasi gabungan karena ukuran hasil antarstudi berbeda.
Temuan itu menunjukkan perbedaan antara ucapan umum dan pembagian kerja yang bisa diamati. Pasangan dapat mengambil alih penggantian popok, pekerjaan rumah, penyiapan makanan, dan penataan perlengkapan bayi. UNICEF Indonesia menyebut dukungan keluarga dapat berupa dorongan semangat dan bantuan mengerjakan tugas rumah tangga. Pembagian perlu disepakati bersama karena kebutuhan setiap rumah tangga berbeda.
Masalah klinis tidak perlu diselesaikan pasangan dengan tebakan. Nyeri, kesulitan pelekatan, atau kekhawatiran tentang asupan bayi perlu dibawa kepada tenaga kesehatan yang memeriksa ibu dan bayi. Peran keluarga ialah membuka waktu, menyiapkan transportasi, menemani konsultasi bila diminta, dan mencatat pertanyaan. Dukungan seperti itu menjaga keputusan tetap berada pada ibu bersama tenaga kesehatan.
Keluarga besar perlu menghormati batas
Kehadiran kakek, nenek, saudara, atau kerabat bisa mengurangi beban bila bantuan mengikuti kebutuhan keluarga inti. Membawakan makanan, mencuci piring, menjaga anak lain, atau membatasi durasi kunjungan memberi ruang pemulihan. Sebaliknya, komentar tentang tubuh, jumlah ASI, dan perbandingan bayi mengalihkan perhatian menjadi evaluasi. Ibu berhak menentukan siapa yang hadir dan bantuan apa yang diterima.
Nasihat tentang makanan atau jamu juga tidak boleh dipaksakan sebagai syarat agar ASI dianggap baik. Makanan keluarga dapat mengutamakan nasi, sayur, buah, telur, ikan, ayam, tahu, tempe, dan kacang-kacangan sesuai kebiasaan serta kondisi ibu. Pantangan, alergi, penyakit penyerta, dan status halal suatu produk tetap perlu diperhatikan. Pertanyaan medis tentang makanan, suplemen, atau obat sebaiknya diarahkan kepada tenaga kesehatan, bukan dijawab dari pengalaman keluarga semata.
Tenaga kesehatan perlu menjaga pilihan dan kesehatan mental
Konseling menyusui perlu memberi informasi, menilai kesulitan, dan mendengarkan tujuan ibu tanpa menambah rasa bersalah. Tenaga kesehatan juga perlu menanyakan tidur, kecemasan, suasana hati, serta dukungan di rumah. Jalur rujukan harus jelas ketika masalah melampaui konseling menyusui. Pendekatan ini menempatkan kesehatan ibu dan kecukupan perawatan bayi dalam satu penilaian.
Perubahan emosi ringan memang bisa muncul pada hari-hari awal setelah persalinan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut gejala yang menetap lebih dari dua minggu atau disertai keinginan bunuh diri perlu dinilai lebih serius. Ibu dengan kesedihan atau kecemasan berat perlu menghubungi dokter, bidan, puskesmas, psikolog, atau psikiater. Tanda darurat tetap memerlukan pertolongan segera, bukan janji konsultasi biasa.
Data Indonesia mengenai hubungan tekanan menyusui dan kesehatan mental pascapersalinan masih terbatas dalam penelusuran kami. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dengan angka pembanding dan metode yang sama dengan studi Selandia Baru. Kesenjangan itu membuat besarnya masalah di Indonesia belum bisa dihitung dari riset tersebut. Temuannya berguna untuk mengenali risiko komunikasi, tetapi bukan estimasi nasional.
Dukungan dinilai dari beban yang benar-benar berkurang
Ukuran dukungan bukan banyaknya nasihat yang diberikan kepada ibu. Ukuran yang lebih konkret ialah waktu istirahat yang tersedia, pekerjaan yang benar-benar berpindah tangan, dan akses menuju pertolongan profesional. Pasangan serta keluarga juga perlu menerima perubahan rencana ketika kondisi ibu atau bayi menuntutnya. Tujuannya ialah menjaga ibu dan bayi, bukan mempertahankan citra keberhasilan menyusui.
Pembagian kerja bisa ditinjau setiap hari karena kebutuhan berubah selama masa pemulihan. Keluarga dapat menyepakati siapa yang mengurus makanan, rumah, bayi, kunjungan, dan akses layanan kesehatan. Ibu tetap menjadi pihak yang didengar dalam keputusan tentang tubuh dan pemberian makan bayi. Dukungan yang baik memberi ruang untuk memilih tanpa tekanan, sekaligus bergerak cepat ketika muncul tanda bahaya.
Sumber dan rujukan
- Ogbo FA, et al. (2020). Breastfeeding in the Community—How Can Partners/Fathers Help? A Systematic Review(International Journal of Environmental Research and Public Health)
- Grattan RE, London SM, Bueno GE. (2024). Perceived pressure to breastfeed negatively impacts postpartum mental health outcomes over time(Frontiers in Public Health)
- Menyusui pada masa wabah virus corona (COVID-19)(UNICEF Indonesia)
- Perasaan Tidak Enak Setelah Melahirkan: Baby Blues Syndrome(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
- World Health Day 2025: Key messages(World Health Organization)