Pertanyaan tentang jumlah air susu ibu (ASI) sering menjadi ukuran kepedulian pasangan setelah persalinan. Ukuran itu mengabaikan pemulihan fisik, tidur yang terputus, pekerjaan rumah, dan beban mengurus bayi. Ketika pertanyaan berubah menjadi pemeriksaan harian, ibu bisa merasakan tekanan, bukan dukungan. Bukti terbaru mengarahkan perhatian pada tindakan pasangan yang benar-benar mengurangi beban.
Studi longitudinal pada 2024 mengaitkan tekanan menyusui dengan kecemasan, stres, dan gejala trauma persalinan empat minggu kemudian. Hubungan itu tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan kesulitan menyusui dan riwayat gangguan mental. Namun, depresi dan keinginan bunuh diri tidak menunjukkan hubungan longitudinal yang sama. Studi observasional tersebut juga tidak membuktikan tekanan sebagai penyebab tunggal.
Keinginan bunuh diri, halusinasi, delusi, atau perubahan suasana hati yang cepat setelah persalinan memerlukan pertolongan segera. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menyebut gejala berat atau keinginan bunuh diri sebagai tanda yang perlu dinilai lebih serius. Kemenkes juga menjelaskan bahwa psikosis pascapersalinan bisa melibatkan halusinasi dan delusi yang membahayakan ibu atau bayi. Keluarga perlu membawa ibu ke instalasi gawat darurat atau menghubungi layanan darurat setempat.
Tekanan muncul ketika hasil menyusui menjadi ukuran ibu
Riset 2024 melibatkan ibu dan orang tua yang melahirkan di Selandia Baru. Sebanyak 39,6 persen peserta melaporkan tekanan kuat untuk menyusui pada survei awal. Analisis kualitatif menemukan tema tentang kurangnya pilihan, rasa malu, isolasi, dan anggapan bahwa menyusui menentukan keberhasilan sebagai ibu. Temuan tersebut menggambarkan pengalaman peserta, bukan perkiraan nasional untuk Indonesia.
Informasi tentang manfaat ASI tetap penting, tetapi cara penyampaiannya menentukan apakah pesan terasa mendukung. Menanyakan hasil pemeriksaan bayi berbeda dari menuntut ibu membuktikan jumlah ASI setiap hari. Perbandingan dengan pengalaman kerabat juga bisa memperkuat rasa gagal ketika kondisi ibu dan bayi berbeda. Percakapan yang berpusat pada kebutuhan memberi ibu ruang untuk menjelaskan hambatan yang sebenarnya.
Dukungan pasangan terlihat dari pekerjaan yang berpindah tangan
Tinjauan sistematis pada 2020 menemukan tujuh studi yang menilai dukungan pasangan terhadap awal, durasi, atau eksklusivitas menyusui. Bentuknya meliputi dorongan lisan, kepekaan terhadap kebutuhan ibu, bantuan menangani kesulitan, serta pembagian pekerjaan rumah dan pengasuhan. Sejumlah studi melaporkan perbaikan hasil menyusui pada dukungan yang spesifik. Perbedaan metode dan ukuran hasil membuat kesimpulannya tetap terbatas.
Pembagian kerja berarti pasangan memegang tanggung jawab, bukan menunggu instruksi untuk setiap tugas. Pekerjaan itu mencakup menyiapkan makanan, mencuci perlengkapan, mengganti popok, mengatur kunjungan, dan mengurus anak lain. Pasangan juga bisa menyiapkan transportasi dan mencatat pertanyaan sebelum konsultasi. Kesulitan pelekatan, nyeri, atau kekhawatiran tentang asupan bayi tetap perlu dinilai tenaga kesehatan.
Pengaturan malam hari harus mengikuti keadaan ibu, bayi, dan pola pemberian makan yang disepakati. Tidak ada jadwal tunggal yang cocok untuk semua keluarga. Pasangan masih bisa mengambil tugas setelah menyusui, seperti mengganti popok atau menenangkan bayi. Perubahan pemberian ASI langsung, ASI perah, atau metode lain sebaiknya dibahas dengan bidan, dokter, atau konselor menyusui yang kompeten.
Data Indonesia menempatkan dukungan sebagai urusan sistem
UNICEF dan WHO melaporkan proporsi ASI eksklusif pada bayi di bawah enam bulan di Indonesia naik dari 52 persen pada 2017 menjadi 66,4 persen pada 2024. Kedua lembaga menilai dukungan perlu tersedia di rumah, fasilitas kesehatan, tempat kerja, dan masyarakat. Mereka juga menyoroti konseling terampil, cuti melahirkan berbayar, ruang laktasi, dan pengaturan kerja fleksibel. Dukungan pasangan menjadi satu bagian dari jaringan yang lebih luas.
Keluarga besar dan teman bisa mengurangi pekerjaan tanpa mengambil alih keputusan ibu. Bantuan menyiapkan makanan, menjaga anak lain, atau membatasi kunjungan lebih terukur daripada memberi nasihat yang tidak diminta. Batas tentang kunjungan dan keputusan pemberian makan perlu dihormati. Perselisihan antargenerasi tidak seharusnya menambah pekerjaan emosional bagi ibu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan kesehatan fisik, kesehatan mental, dan dukungan sosial dalam pendekatan perawatan pascapersalinan yang terpadu. WHO menyebut perasaan sedih yang intens atau menetap lebih dari dua minggu perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan. Psikosis pascapersalinan dinyatakan sebagai keadaan darurat medis. Dukungan rumah tangga tidak menggantikan pemeriksaan profesional ketika gejala tersebut muncul.
Bukti lokal tentang tekanan menyusui masih terbatas
Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi Indonesia dengan angka pembanding untuk tekanan menyusui dan kesehatan mental pascapersalinan. Angka ASI eksklusif nasional tidak menjawab seberapa sering ibu menghadapi tekanan dari pasangan atau keluarga. Susunan rumah tangga, pekerjaan, akses layanan, dan praktik pengasuhan juga berbeda antarwilayah. Karena itu, hasil Selandia Baru tidak bisa dipakai untuk memperkirakan besarnya masalah di Indonesia.
Keterbatasan serupa berlaku pada tinjauan dukungan pasangan tahun 2020. Tujuh studi yang masuk memakai intervensi dan ukuran hasil yang tidak seragam. Temuannya mendukung pelibatan pasangan, tetapi tidak menetapkan satu daftar tugas sebagai resep untuk semua keluarga. Penilaian keberhasilan perlu melihat beban ibu yang berkurang serta kebutuhan klinis ibu dan bayi.
Dukungan pasangan paling mudah diamati melalui pekerjaan yang benar-benar selesai dan akses layanan yang terbuka. Pertanyaan tentang kebutuhan ibu memberi informasi yang lebih berguna daripada pengawasan jumlah ASI. Keputusan pemberian makan tetap perlu menghormati kondisi ibu dan bayi. Bila muncul tanda gangguan mental berat, prioritas beralih dari pembagian kerja menuju pertolongan medis segera.
Sumber dan rujukan
- Grattan RE, London SM, Bueno GE. (2024). Perceived pressure to breastfeed negatively impacts postpartum mental health outcomes over time(Frontiers in Public Health)
- Ogbo FA, et al. (2020). Breastfeeding in the Community: How Can Partners/Fathers Help? A Systematic Review(International Journal of Environmental Research and Public Health)
- Peningkatan Angka Pemberian ASI di Indonesia: Ibu Perlu Dukungan Lebih(UNICEF Indonesia dan WHO)
- Perasaan Tidak Enak Setelah Melahirkan (Baby Blues Syndrome)(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)
- World Health Day 2025: Key messages(World Health Organization)