Vaksin human papillomavirus (HPV) menurunkan risiko kanker serviks, tetapi tidak menghapus kebutuhan skrining. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan skrining tetap penting setelah vaksinasi karena vaksin tidak mencegah seluruh jenis HPV penyebab kanker serviks. Di Indonesia, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 memakai DNA HPV dan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA). Sitologi serviks (Pap smear) tidak tercantum sebagai pemeriksaan utama dalam alur CKG tersebut.

Infeksi HPV onkogenik yang menetap menyebabkan sekitar 95 persen kanker serviks. WHO mencatat vaksin yang tersedia melindungi terhadap tipe 16 dan 18, penyebab sekitar 76 persen kanker serviks. Perlindungan itu tidak mencakup semua jenis berisiko tinggi. Vaksin mencegah infeksi baru, tetapi tidak mengobati infeksi atau penyakit terkait HPV yang sudah ada. Skrining bekerja pada tahap berbeda: DNA HPV mencari virus berisiko tinggi, sedangkan sitologi mencari perubahan sel.

Gejala tidak menunggu jadwal skrining

Perdarahan yang membasahi satu pembalut setiap jam selama dua hingga tiga jam, atau disertai lemas dan pusing, memerlukan penilaian segera. Jika pingsan atau perdarahan tidak berhenti, penilaian berlangsung di instalasi gawat darurat, bukan melalui jadwal skrining. Perdarahan memiliki banyak penyebab dan tidak menetapkan kanker serviks. Penggunaan obat pengencer darah atau gangguan perdarahan perlu disampaikan kepada tenaga kesehatan.

Perdarahan di antara menstruasi, setelah hubungan seksual, atau setelah menopause termasuk gejala yang perlu dinilai oleh tenaga kesehatan. Keputihan yang meningkat atau berbau, serta nyeri punggung atau panggul yang menetap, juga memerlukan pemeriksaan. Gejala tersebut tidak khusus untuk kanker serviks. Hasil skrining lama yang normal tidak menjelaskan keluhan baru.

Vaksin HPV dan pengambilan sampel untuk skrining kanker serviks (ilustrasi)

Vaksin dan skrining bekerja pada tahap berbeda

Vaksin adalah pencegahan primer karena membentuk perlindungan sebelum infeksi baru terjadi. Skrining adalah pencegahan sekunder karena mencari infeksi berisiko tinggi atau lesi prakanker sebelum gejala muncul. Status vaksinasi tidak menunjukkan apakah serviks bebas dari perubahan sel. Riwayat vaksin karena itu tidak dipakai untuk melewati jadwal skrining nasional.

Tes DNA HPV yang positif berarti materi genetik jenis HPV berisiko tinggi terdeteksi dalam sampel. Hasil itu tidak menunjukkan bahwa kanker sudah terbentuk. Sebagian besar infeksi dibersihkan sistem imun, sedangkan infeksi menetap meningkatkan risiko perubahan prakanker. Pemantauan atau tindakan berikutnya ditentukan oleh jenis HPV, pemeriksaan serviks, dan riwayat hasil sebelumnya.

CKG 2026 dimulai pada usia 30 tahun

Kepmenkes No. HK.01.07/Menkes/84/2026 memasukkan skrining mulai usia 30 tahun bagi perempuan yang telah menikah atau pernah berhubungan seksual. Batas usia dalam kebutuhan layanan CKG tercatat hingga 69 tahun. Peserta yang belum pernah disaring masuk alur pemeriksaan awal sesuai kemampuan fasilitas. Usia sasaran ini berbeda dari jadwal negara lain dan tidak boleh diganti dengan angka dari pedoman asing.

Pada peserta yang belum pernah disaring, alur puskesmas dimulai dengan pemeriksaan menggunakan spekulum. Setelah tampilan serviks dinilai normal, tenaga kesehatan mengambil sampel DNA HPV dan melanjutkan IVA. Puskesmas yang belum mampu memeriksa DNA HPV memakai pemeriksaan dengan spekulum dan IVA, sedangkan fasilitas primer lain dapat merujuk secara horizontal. Perbedaan kapasitas membuat jenis pemeriksaan pada hari kunjungan tidak selalu sama di setiap daerah.

Pap smear, DNA HPV, dan IVA menjawab pertanyaan berbeda

Tes HPV mencari infeksi jenis berisiko tinggi, sedangkan Pap smear menilai perubahan pada sel serviks. Pemeriksaan gabungan memakai sampel untuk mencari virus sekaligus perubahan sel. Pap normal berarti sampel tidak memperlihatkan sel abnormal, sementara HPV negatif berarti jenis berisiko tinggi tidak ditemukan. Kedua hasil itu tidak menjamin risiko sepanjang hidup menjadi nol.

IVA menilai permukaan serviks setelah tenaga kesehatan mengoleskan asam asetat. Metode ini memberi informasi visual, bukan hasil molekuler atau pembacaan sel di laboratorium. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperluas pengambilan sampel mandiri (self-sampling) dengan pendampingan petugas dalam integrasi CKG 2026. Pengambilan mandiri memindahkan tahap pengumpulan sampel, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan serviks dan tindak lanjut hasil positif.

Perempuan berkonsultasi dengan dokter mengenai hasil skrining kanker serviks (ilustrasi)

Hasil menentukan tindak lanjut, bukan diagnosis tunggal

CKG menjadwalkan pemeriksaan ulang 10 tahun kemudian bila DNA HPV dan IVA sama-sama negatif. DNA HPV positif selain tipe 16 atau 18 mengarah ke IVA setiap tiga tahun. Tipe 16 atau 18 mengarah ke IVA setiap tahun dalam alur yang sama. Setelah pengambilan sampel mandiri tanpa pemeriksaan gabungan, IVA tetap menjadi bagian tindak lanjut.

Dokumen CKG memisahkan lesi yang memenuhi syarat ablasi di layanan primer dari temuan besar atau mencurigakan yang dirujuk. National Cancer Institute (NCI) menjelaskan bahwa sebagian besar hasil skrining serviks abnormal bukan kanker, tetapi tetap memerlukan tindak lanjut klinis. Hasil terkini dibaca bersama pemeriksaan sebelumnya, terapi lesi prakanker, usia, dan keadaan kesehatan. Proses skrining belum selesai selama tindak lanjut hasil abnormal belum terlaksana.

Kehamilan dan gangguan imunitas memakai jalur berbeda

CKG 2026 memberikan layanan kepada perempuan hamil tanpa skrining kanker leher rahim, lalu mengarahkannya ke pelayanan antenatal. Pengecualian itu menyangkut skrining rutin dan tidak menunda penilaian perdarahan atau keluhan selama kehamilan. WHO menyarankan perempuan dengan HIV mulai disaring pada usia 25 tahun setiap tiga hingga lima tahun. Gangguan imunitas lain atau riwayat hasil abnormal juga memerlukan jadwal individual, bukan interval rutin CKG.

Akses berkembang, data pelaksanaan belum lengkap

Kemenkes menyatakan CKG dibiayai pemerintah. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan) berperan pada rujukan dan pengobatan lanjutan. Petunjuk teknis tetap mengakui bahwa alat, bahan, dan tenaga tidak sama di setiap fasilitas. Rujukan horizontal dipakai ketika fasilitas primer belum mampu menjalankan pemeriksaan tertentu. Ketersediaan DNA HPV dan waktu pengambilan sampel karena itu perlu dikonfirmasi pada puskesmas setempat.

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan data resmi nasional 2026 tentang cakupan DNA HPV, waktu tunggu hasil, dan penyelesaian tindak lanjut per provinsi. Jumlah seluruh peserta CKG tidak menunjukkan berapa banyak perempuan yang menuntaskan rangkaian skrining serviks. Tanpa rincian tersebut, kesenjangan akses dan keterlambatan tindak lanjut belum bisa dibandingkan antarwilayah. Vaksinasi, skrining, dan penyelesaian hasil abnormal tetap menjadi tiga tahap terpisah dalam pencegahan kanker serviks.