Hasil tes imunokimia feses (fecal immunochemical test/FIT) yang positif berarti hemoglobin terdeteksi di atas ambang pemeriksaan. Hasil tersebut belum menetapkan lokasi perdarahan atau diagnosis kanker kolorektal. National Cancer Institute (NCI) menjelaskan bahwa darah tersembunyi juga dapat berkaitan dengan polip atau hemoroid. Karena itu, hasil positif memerlukan penilaian lanjutan, bukan kesimpulan mandiri.

Pedoman Cek Kesehatan Gratis (CKG) Indonesia 2026 menempatkan skrining kanker usus mulai usia 45 tahun. Alurnya tidak langsung memberikan tes tinja kepada semua orang dalam kelompok usia tersebut. Peserta lebih dulu mengisi kuesioner Asia-Pacific Colorectal Screening (APCS). Peserta berisiko tinggi kemudian menjalani colok dubur dan pemeriksaan darah samar feses.

Perdarahan gawat tidak menunggu jadwal skrining

Perdarahan dari anus yang deras atau tidak berhenti bukan situasi untuk menunggu jadwal skrining. Kulit pucat, pusing, atau pingsan bersama perdarahan juga menunjukkan keadaan yang perlu dinilai segera. Materi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memasukkan perdarahan masif, pucat, pusing, dan pingsan sebagai tanda bahaya yang memerlukan penanganan segera. Pelayanan gawat darurat menilai stabilitas pasien lebih dulu; FIT bukan alat untuk menangani perdarahan akut.

Skrining rutin ditujukan kepada orang tanpa gejala, bukan untuk menilai keluhan yang sudah muncul. Kemenkes mencantumkan perubahan pola buang air besar, darah dalam tinja, penurunan berat badan, kelelahan menetap, dan nyeri perut kronis sebagai gejala yang perlu dinilai. Gejala itu tidak khusus untuk kanker dan bisa berasal dari kondisi lain. Namun, keluhan tersebut memerlukan evaluasi klinis meski hasil FIT sebelumnya negatif.

Perangkat pengambilan sampel tinja untuk pemeriksaan darah samar di rumah (ilustrasi)

FIT dan pemeriksaan darah samar feses tidak selalu sama

FIT memakai antibodi untuk mendeteksi hemoglobin manusia dalam tinja. Pemeriksaan darah samar feses (fecal occult blood test/FOBT) mencakup metode yang lebih luas. Petunjuk teknis CKG 2026 memakai istilah FOBT dan tidak menyatakan bahwa seluruh fasilitas menggunakan metode imunokimia. Ambang positif serta format laporan mengikuti metode laboratorium yang dipakai penyedia layanan.

Tes tinja merekam keberadaan darah pada sampel dan waktu pengambilan tertentu. Panduan NHS England menjelaskan bahwa skrining dapat melewatkan polip atau kanker bila lesi tidak berdarah ketika sampel diambil. Hasil negatif karena itu bukan jaminan bahwa seluruh usus bebas kelainan. Gejala, riwayat keluarga, dan temuan pemeriksaan lain tetap dinilai secara terpisah.

Alur CKG menghubungkan hasil positif dengan layanan rujukan

Kepmenkes No. HK.01.07/Menkes/84/2026 menetapkan APCS sebagai penapisan awal mulai usia 45 tahun. Peserta berisiko tinggi menjalani colok dubur dan FOBT. Bila salah satu hasil positif, alur CKG mengarah ke fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut (FPKTL). Rujukan berarti pemeriksaan masuk tahap diagnostik, bukan bahwa kanker sudah ditemukan.

International Agency for Research on Cancer (IARC) menempatkan kolonoskopi sebagai pemeriksaan lanjutan setelah FIT positif. Kamera memeriksa kolon dan rektum secara langsung, sedangkan jaringan abnormal dapat dibiopsi atau diangkat. Rangkaian ini mencari sumber darah sekaligus menemukan kanker atau lesi prakanker bila ada. Kerangka IARC memasangkan FIT positif dengan kolonoskopi, bukan dengan pengulangan FIT sebagai pengganti.

Data kohort memberi gambaran tentang akibat ketika rangkaian itu terputus. Studi di Italia mengikuti 111.423 peserta dengan FIT positif dan menemukan risiko kematian kanker kolorektal sekitar dua kali pada kelompok tanpa kolonoskopi lanjutan. Pengamatan berlangsung hingga 10 tahun dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara tunggal. Angka tersebut juga tidak boleh diperlakukan sebagai perkiraan hasil bagi penduduk Indonesia.

Dokumen CKG menjelaskan rujukan, tetapi hasil pelaksanaannya belum tergambar lengkap pada tingkat nasional. Ketersediaan FOBT, tenaga endoskopi, dan jadwal rujukan dapat berbeda menurut fasilitas serta daerah. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan data resmi nasional 2026 tentang proporsi hasil FOBT positif yang telah ditindaklanjuti dengan kolonoskopi. Kekosongan data itu membatasi penilaian atas keberhasilan alur skrining di Indonesia.

Dokter menjelaskan prosedur kolonoskopi kepada pasien di ruang konsultasi (ilustrasi)

Kolonoskopi memberi jawaban, tetapi tetap memiliki risiko

Kolonoskopi memerlukan pembersihan usus dan sering melibatkan sedasi. Prosedur ini memungkinkan pengangkatan polip atau pengambilan biopsi pada pemeriksaan yang sama. Panduan Guy's and St Thomas' NHS Foundation Trust menyebut komplikasi serius sangat jarang, tetapi perdarahan atau perforasi usus tetap mungkin terjadi. Manfaat dan risiko dinilai bersama kondisi kesehatan serta tindakan yang diperkirakan diperlukan.

Anak tidak termasuk sasaran skrining kanker usus CKG karena program ini dimulai pada usia 45 tahun. Kehamilan dan penggunaan obat perlu diberitahukan kepada layanan endoskopi ketika kolonoskopi dijadwalkan. Pasien penyakit kronis dan pengguna obat jangka panjang memerlukan penilaian persiapan serta sedasi sesuai kondisi masing-masing. Penyesuaian obat, bila diperlukan, ditentukan oleh tim klinis yang menangani prosedur.

Skrining kanker kolorektal terdiri atas penapisan dan penyelesaian hasil abnormal. FIT atau FOBT positif bukan diagnosis kanker, tetapi proses skrining belum selesai hingga sumber darah dinilai. Dalam CKG 2026, APCS menentukan siapa yang berlanjut ke colok dubur dan FOBT, lalu hasil positif masuk jalur rujukan. Pemisahan antara hasil skrining dan diagnosis menjaga tindak lanjut tetap proporsional tanpa mengecilkan risikonya.