Tersedak terjadi ketika makanan atau benda asing menyumbat jalan napas sebagian atau seluruhnya. Korban yang masih batuk kuat, menangis, atau berbicara biasanya masih mengalirkan udara. Batuk dibiarkan bekerja sambil kondisi korban dipantau. Tepukan punggung atau dorongan perut baru diberikan ketika tanda sumbatan berat muncul.
Sumbatan berat ditandai batuk yang melemah atau tanpa suara, ketidakmampuan berbicara atau menangis, sulit bernapas, warna kebiruan, dan penurunan respons. Tangan yang mencengkeram leher juga sering menjadi isyarat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencantumkan ketidakmampuan berbicara, kesulitan bernapas, dan napas berbunyi sebagai tanda yang perlu dikenali. Keadaan ini bisa cepat berkembang menjadi henti napas.
Tanda sumbatan berat memerlukan panggilan 119
Begitu korban tidak mampu batuk kuat, bersuara, atau bernapas, orang di sekitar perlu mengaktifkan layanan darurat. Satu penolong menghubungi bantuan, sementara penolong lain memulai tindakan sesuai usia korban. Public Safety Center (PSC) 119 adalah layanan cepat tanggap darurat kesehatan milik Kemenkes. Telepon dapat dipasang pada pengeras suara agar arahan operator terdengar selama pertolongan.
Korban yang kehilangan respons dibaringkan telentang pada permukaan keras, lalu resusitasi jantung paru (RJP) dimulai dengan kompresi dada. Mulut diperiksa setiap kali jalan napas dibuka untuk pemberian napas bantuan. Benda hanya diambil bila terlihat jelas dan mudah dijangkau. Menyapu mulut dengan jari tanpa melihat benda bisa mendorong sumbatan lebih dalam.
Bantuan dilanjutkan sampai korban bernapas normal atau tenaga kesehatan mengambil alih. Benda yang sudah keluar tidak otomatis mengakhiri pemantauan. Sumbatan berat, kehilangan respons, atau penggunaan dorongan perut memerlukan evaluasi tenaga kesehatan karena sisa benda dan cedera bisa tidak langsung terlihat. Operator 119 menentukan bantuan dan rujukan berdasarkan keadaan di lokasi.
Dewasa dan anak di atas 1 tahun memakai dua teknik bergantian
Pedoman 2025 tidak lagi mengandalkan dorongan perut saja. American Heart Association (AHA) meminta 5 tepukan punggung diikuti 5 dorongan perut untuk dewasa dengan sumbatan berat. Siklus diulang sampai benda keluar atau korban tidak responsif. Urutan yang sama berlaku bagi anak di atas 1 tahun, dengan posisi penolong disesuaikan terhadap tinggi badan anak.
Untuk tepukan punggung, tubuh korban dicondongkan ke depan dan dada ditopang. Pangkal telapak tangan menepuk area di antara tulang belikat sebanyak 5 kali, masing-masing sebagai tindakan terpisah. Bila benda belum keluar, penolong berdiri atau berlutut di belakang korban. Satu kaki ditempatkan di antara kaki korban untuk membantu menahan tubuh bila korban jatuh.
Dorongan perut dilakukan dengan kepalan tangan sedikit di atas pusar dan di bawah ujung tulang dada. Tangan lain menggenggam kepalan tersebut, lalu memberi 5 dorongan cepat ke arah dalam dan atas. Posisi tangan tidak diletakkan pada tulang rusuk atau ujung bawah tulang dada. Tepukan punggung dan dorongan perut kemudian diulang bergantian.
Bayi di bawah 1 tahun tidak menerima dorongan perut
Bayi dengan batuk atau tangisan kuat tetap dipantau tanpa tepukan. Bila batuk melemah, tangisan hilang, warna kulit berubah, atau bayi tidak mampu bernapas, layanan darurat dihubungi. Bayi diposisikan tengkurap di lengan bawah dengan kepala lebih rendah daripada badan. Kepala dan rahang ditopang tanpa menekan jaringan lunak leher.
Pangkal telapak tangan memberi 5 tepukan terpisah di antara tulang belikat. Bayi lalu dibalik telentang dengan kepala tetap lebih rendah daripada badan. Pedoman AHA dan American Academy of Pediatrics 2025 menetapkan 5 hentakan dada memakai pangkal satu telapak tangan, lalu mengulang siklus dengan 5 tepukan punggung. Dorongan perut tidak diberikan kepada bayi karena berisiko mencederai organ perut.
Teknik hentakan dada untuk bayi sadar berbeda dari kompresi saat RJP, meski lokasinya sama-sama pada tulang dada. Bila bayi tidak responsif, siklus tepukan dan hentakan dihentikan. RJP dimulai dengan kompresi dada sambil menunggu bantuan. Benda di mulut hanya dikeluarkan ketika terlihat.
Kehamilan tahap lanjut dan ukuran tubuh memerlukan hentakan dada
Dorongan perut tidak dipaksakan bila korban berada pada tahap lanjut kehamilan. Penyesuaian yang sama dipakai ketika penolong tidak mampu merangkul perut korban karena ukuran tubuh atau posisi kursi roda. Lima tepukan punggung diikuti 5 hentakan dada, lalu kedua tindakan diulang bergantian. Tangan ditempatkan di bagian tengah tulang dada, bukan pada perut.
AHA menyatakan bukti berkualitas tinggi untuk keadaan khusus ini masih belum tersedia. Rekomendasi hentakan dada dipakai karena dorongan perut sulit atau tidak tepat dilakukan. Korban yang kemudian tidak responsif menerima RJP dengan teknik yang sama seperti dewasa lain. Kehamilan, obesitas, dan penggunaan kursi roda tidak menjadi alasan menunda panggilan darurat.
Kesalahan yang bisa memperburuk sumbatan
Menepuk punggung orang yang masih batuk kuat bisa mengganggu upayanya mengeluarkan benda. Tindakan pertama pada sumbatan ringan adalah membiarkan korban batuk dan terus mengamati perubahan. Minuman atau makanan tidak diberikan untuk mendorong benda turun. Korban juga tidak ditinggalkan sendirian karena sumbatan sebagian bisa berubah menjadi berat.
Jari tidak dimasukkan ke mulut secara membabi buta. Benda yang tidak terlihat bisa terdorong lebih jauh dan menutup jalan napas sepenuhnya. Pinset atau alat rumah tangga juga tidak dipakai untuk meraih benda di tenggorokan. Penanganan dengan alat merupakan kewenangan tenaga terlatih.
Alat penyedot sumbatan jalan napas yang dijual untuk penggunaan rumah belum memiliki bukti cukup untuk menggantikan teknik standar. AHA belum membuat rekomendasi yang mendukung alat tersebut pada bayi dan anak. Pedoman dewasa juga menyatakan bukti keamanannya belum memadai. Pengambilan alat tidak boleh menunda pertolongan standar atau panggilan 119.
Pedoman Indonesia belum memuat seluruh pembaruan 2025
Materi Kemenkes yang tersedia menjelaskan tanda tersedak, tepukan punggung, dorongan perut, RJP, serta penyesuaian bagi bayi dan kehamilan. Namun, materi publik yang ditemukan terbit sebelum pembaruan AHA 2025. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan panduan publik nasional Indonesia yang menyatukan urutan terbaru untuk dewasa, anak, dan bayi. Karena itu, artikel ini memakai PSC 119 untuk jalur kegawatdaruratan lokal dan AHA 2025 untuk urutan teknik.
Panduan yang ditemukan juga belum merinci modifikasi pertolongan bagi setiap penyakit kronis, disabilitas, atau penggunaan obat jangka panjang. Tanda sumbatan berat tetap ditangani sebagai kegawatdaruratan, sementara operator dan tenaga kesehatan menilai kebutuhan pemindahan. Riwayat kehamilan, penyakit, obat rutin, dan kemungkinan benda yang tertelan disampaikan saat bantuan datang. Orang tua serta pengasuh anak sebaiknya mengikuti pelatihan pertolongan pertama yang menyediakan latihan praktik.
Sumber dan rujukan
- Tersedak, Simak Cara Mengatasinya(Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)Tanda sumbatan jalan napas, pertolongan awal, dan larangan menyapu mulut tanpa melihat benda.
- PSC 119(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)Layanan cepat tanggap darurat kesehatan di Indonesia.
- 2025 American Heart Association Guidelines: Adult Basic Life Support(American Heart Association)Algoritme sumbatan jalan napas pada dewasa, kehamilan tahap lanjut, dan korban tidak responsif.
- 2025 American Heart Association Guidelines: Pediatric Basic Life Support(American Heart Association dan American Academy of Pediatrics)Algoritme sumbatan jalan napas pada anak dan bayi.