Hematoma subdural kronis adalah kumpulan darah lama di antara dura dan permukaan otak. Keluhan tidak selalu muncul saat kepala terbentur. Darah dan cairan bisa bertambah perlahan, lalu menekan otak beberapa minggu kemudian.
Pola tersebut penting pada lansia karena perubahan berjalan atau daya ingat mudah dianggap sebagai penuaan. Riwayat jatuh yang tampak ringan tetap relevan, terutama bila pasien memakai obat pengencer darah. Diagnosis memerlukan pemeriksaan saraf dan pencitraan otak.
Tanda darurat harus dinilai lebih dahulu
Penurunan kesadaran, kejang, atau kelemahan pada satu sisi tubuh memerlukan pertolongan darurat. Gangguan bicara, sulit berjalan, kehilangan keseimbangan, dan kantuk yang bertambah juga tidak boleh ditunggu. Sakit kepala yang memburuk atau muntah setelah benturan perlu dinilai di instalasi gawat darurat.
National Health Service mencatat gejala hematoma subdural bisa muncul segera atau berkembang perlahan selama beberapa minggu. Daftar tandanya mencakup kebingungan, gangguan ingatan, bicara pelo, masalah penglihatan, kelemahan, dan kejang. Gejala tersebut tidak memastikan satu diagnosis, tetapi menentukan urgensi pemeriksaan.
Pengguna antikoagulan atau antiplatelet memerlukan penilaian medis setelah cedera kepala meski benturannya tampak ringan. Nama obat, waktu dosis terakhir, dan kronologi jatuh perlu disampaikan kepada petugas. Penghentian atau perubahan obat hanya diputuskan oleh dokter yang menimbang risiko perdarahan dan bekuan darah.
Ruang di sekitar otak berubah seiring usia
Dura adalah selaput kuat yang melapisi bagian dalam tengkorak. Hematoma subdural terbentuk di bawah selaput ini, sedangkan hematoma epidural berada di antara dura dan tulang tengkorak. Lokasi, sumber perdarahan, dan kecepatannya berbeda sehingga keduanya tidak dapat disamakan.
Volume otak cenderung berkurang seiring usia, sementara ukuran tengkorak tetap. Ruang subdural menjadi lebih lebar dan vena penghubung lebih teregang. Benturan ringan kemudian bisa merobek pembuluh tersebut, sedangkan darah yang terkumpul tidak selalu segera menimbulkan keluhan.
Cambridge University Hospitals menjelaskan proses pembesaran hematoma berlangsung selama beberapa minggu hingga bulan. Kelompok berisiko mencakup lansia, orang yang mudah jatuh, pengguna pengencer darah, serta pasien dengan gangguan pembekuan. Sebagian pasien tidak mengingat adanya cedera kepala sebelum diagnosis.
Perubahan bertahap bisa menyerupai gangguan lain
Hematoma yang membesar dapat menimbulkan sakit kepala, rasa mengantuk, dan perubahan perilaku. Keluhan lain meliputi langkah baru yang tidak stabil, kelemahan lengan atau tungkai, serta kesulitan berkomunikasi. Kombinasinya dapat menyerupai stroke, demensia, efek obat, atau infeksi.
Kebingungan saja tidak cukup untuk menunjuk hematoma subdural. Hubungan waktu antara jatuh, perubahan fungsi, dan penggunaan obat membantu dokter menyusun dugaan. Pemeriksaan saraf mencari perubahan kesadaran, kekuatan, keseimbangan, bicara, dan tanda fokal lain.
Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Kementerian Kesehatan 2022 meminta anamnesis yang cermat pada lansia dengan trauma kepala berulang serta pengguna antikoagulan atau antiplatelet. Pedoman itu menempatkan CT kepala sebagai pemeriksaan penunjang penting. CT juga membantu membedakan lokasi perdarahan dan menilai tekanan terhadap jaringan otak.
Hasil CT dan gejala menentukan tata laksana
Hematoma kecil tanpa masalah bermakna bisa dipantau melalui pemeriksaan klinis dan pencitraan ulang. Pemantauan bukan berarti kondisi dianggap selesai. Gejala baru atau perburukan di antara jadwal kontrol memerlukan evaluasi kembali.
Operasi dipertimbangkan ketika hematoma menimbulkan penurunan kesadaran, defisit saraf fokal, kejang, atau tekanan bermakna pada otak. Burr hole membuat lubang kecil pada tengkorak untuk mengeluarkan darah dan cairan. Kraniotomi mungkin dipilih bila bekuan lebih padat atau akses yang lebih luas diperlukan.
Keputusan operasi berada pada tim bedah saraf setelah menilai kondisi umum, pencitraan, dan risiko anestesi. Usia lanjut tidak menjadi satu-satunya penentu. Penyakit penyerta, fungsi sebelum sakit, dan jenis obat pengencer darah ikut memengaruhi rencana.
Kekambuhan tetap mungkin setelah drainase
Burr hole dengan drainase banyak digunakan untuk hematoma subdural kronis, tetapi darah dapat terkumpul kembali. Meta-analisis 189 studi memperkirakan kekambuhan 11,2 persen pada 34.393 pasien setelah burr hole dengan drainase. Perbedaan antarpusat cukup besar, sehingga angka tersebut bukan prediksi untuk setiap pasien.
Pemantauan setelah operasi mengikuti gejala, pemeriksaan saraf, dan rencana tim bedah. Kelemahan baru, gangguan bicara, kejang, atau kesadaran menurun kembali memerlukan penilaian segera. Rehabilitasi bisa melibatkan fisioterapi, terapi okupasi, atau terapi bicara sesuai gangguan yang tersisa.
Pencegahan jatuh tetap bagian penting dari pemulihan. Pencahayaan, alas lantai, pegangan kamar mandi, penglihatan, dan obat yang meningkatkan kantuk perlu ditinjau bersama tenaga kesehatan. Peninjauan obat bertujuan mengurangi risiko tanpa menghentikan terapi penting secara sepihak.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah hasil pemeriksaan awal yang normal menutup risiko?
Tidak selalu. Gejala hematoma subdural bisa berkembang bertahap setelah cedera. Perubahan kesadaran, kekuatan, bicara, atau berjalan setelah pulang memerlukan pemeriksaan ulang.
Apakah semua pasien harus menjalani operasi?
Tidak. Hematoma kecil tanpa gejala bermakna mungkin dipantau. Gejala saraf, ukuran hematoma, tekanan pada otak, dan kondisi umum menentukan apakah operasi diperlukan.
Apakah antikoagulan harus langsung dihentikan setelah jatuh?
Obat tidak boleh dihentikan sendiri. Dokter perlu menimbang risiko perdarahan terhadap risiko stroke atau bekuan darah, lalu menentukan penghentian sementara dan waktu penggunaan kembali.
Apa informasi terpenting saat pasien diperiksa?
Kronologi benturan, perubahan fungsi setelah kejadian, seluruh daftar obat, dan waktu dosis terakhir membantu penilaian. Riwayat jatuh beberapa minggu sebelumnya tetap perlu disebutkan meski saat itu tidak ada keluhan.
Sumber dan rujukan
- Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Cedera Otak Traumatik(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)Faktor risiko, gejala, pencitraan, dan indikasi pembedahan hematoma subdural.
- Subdural haematoma(National Health Service)Waktu munculnya gejala, tanda darurat, pencitraan, dan pilihan operasi.
- Chronic subdural haematoma (cSDH)(Cambridge University Hospitals NHS Foundation Trust)Mekanisme, kelompok berisiko, diagnosis, dan pilihan tata laksana.
- Recurrent Chronic Subdural Hematoma After Burr-Hole Surgery and Postoperative Drainage(Neurosurgical Review / PubMed Central)Meta-analisis angka kekambuhan setelah operasi burr hole dengan drainase.