HbA1c 5,7 persen bukan diagnosis diabetes. Angka itu masuk rentang pradiabetes bagi orang dewasa yang tidak hamil dalam pedoman Indonesia. Pradiabetes menunjukkan risiko meningkat, tetapi perkembangannya tidak sama pada setiap orang.

Hemoglobin terglikasi atau HbA1c mengukur bagian hemoglobin yang terikat glukosa. Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan bahwa HbA1c menggambarkan kendali glikemik selama sekitar 8–12 minggu sebelumnya. Makan lebih sedikit gula sehari sebelum pengambilan darah tidak mengubah riwayat tersebut secara bermakna.

Glukosa menempel pada hemoglobin di dalam sel darah merah selama beberapa bulan

Tanda gawat tidak menunggu hasil HbA1c berikutnya

HbA1c dipakai untuk melihat pola beberapa bulan, bukan menilai kegawatan pada menit itu. Pedoman kerja puskesmas Kemenkes memasukkan nyeri dada, kejang, penurunan kesadaran, kebingungan, napas cepat dan dalam, muntah, serta nyeri perut sebagai tanda yang memerlukan perhatian segera. Tanda dehidrasi juga tercantum dalam daftar itu. Orang dengan gejala tersebut perlu mendapat penilaian medis segera, terlepas dari angka HbA1c terakhir.

Keluhan haus atau sering berkemih tanpa tanda gawat tetap memerlukan pemeriksaan, terutama bila disertai penurunan berat badan yang tidak direncanakan. Angka HbA1c tidak dipakai untuk menebak penyebab keluhan secara mandiri. Pemeriksaan klinis dan glukosa saat itu membantu tenaga kesehatan menentukan tingkat urgensi.

Tiga rentang HbA1c dalam pedoman Indonesia

PNPK Kemenkes 2026 menetapkan HbA1c 5,7–6,4 persen sebagai salah satu kriteria pradiabetes dan sedikitnya 6,5 persen sebagai salah satu kriteria diabetes. Nilai di bawah 5,7 persen berada di luar rentang pradiabetes menurut batas ini. Risiko metabolik tetap bersifat berkelanjutan dan tidak berubah mendadak hanya karena selisih 0,1 poin persentase.

Kriteria tersebut berlaku bila pemeriksaan memakai metode yang tersertifikasi dan terstandar. Diagnosis juga memakai glukosa plasma puasa atau tes toleransi glukosa oral (TTGO). Satu label pada lembar laboratorium tidak menggantikan penilaian dokter terhadap hasil, gejala, dan riwayat kesehatan.

Kehamilan memiliki kriteria dan waktu pemeriksaan tersendiri. Anak dan remaja juga memerlukan penilaian sesuai usia serta konteks klinis. Rentang dalam artikel ini tidak dimaksudkan untuk menafsirkan diabetes gestasional atau hasil pemeriksaan anak secara mandiri.

Glukosa puasa dan HbA1c melihat bagian yang berbeda

Glukosa plasma puasa menangkap kadar glukosa setelah sedikitnya delapan jam tanpa asupan kalori. HbA1c merangkum paparan glukosa selama beberapa minggu. TTGO memeriksa respons tubuh dua jam setelah beban glukosa dalam prosedur laboratorium.

Kemenkes menetapkan pradiabetes pada glukosa puasa 100–125 mg/dL, glukosa dua jam TTGO 140–199 mg/dL, atau HbA1c 5,7–6,4 persen. Seseorang bisa memenuhi satu kriteria tetapi tidak yang lain karena tiap tes menangkap aspek metabolisme yang berlainan. Perbedaan hasil perlu diselesaikan melalui penilaian klinis, bukan dengan memilih angka yang paling menenangkan.

Orang dengan pradiabetes perlu diperiksa kembali secara berkala. Pedoman Kemenkes meminta pemeriksaan setiap tahun pada pasien pradiabetes serta identifikasi faktor risiko kardiovaskular. Jadwal bisa berbeda bila hasil berubah, terdapat kehamilan, atau tenaga kesehatan menemukan risiko lain.

Perbandingan rentang HbA1c, glukosa puasa, dan glukosa dua jam setelah TTGO

Pradiabetes membuka ruang pencegahan, bukan janji pulih

Perubahan gaya hidup terstruktur menurunkan peluang berkembang menjadi diabetes tipe 2 pada kelompok berisiko tinggi. Diabetes Prevention Program (DPP) melaporkan penurunan kejadian diabetes sebesar 58 persen dibandingkan plasebo setelah sekitar tiga tahun. Uji klinis itu melibatkan 3.234 peserta di Amerika Serikat, sehingga angkanya tidak menjadi jaminan pribadi bagi pembaca Indonesia.

Program DPP menargetkan penurunan berat badan 7 persen dan aktivitas fisik 150 menit per minggu melalui pendampingan intensif. PNPK Kemenkes juga merekomendasikan penurunan sedikitnya 7 persen dari berat awal dan aktivitas intensitas sedang sedikitnya 150 menit per minggu bagi pasien pradiabetes. Sasaran berat badan, pola makan, dan jenis latihan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Orang dengan penyakit jantung, gangguan ginjal, keterbatasan gerak, atau pengobatan jangka panjang memerlukan rencana yang dinilai tenaga kesehatan. Ibu hamil tidak memakai sasaran penurunan berat badan dalam bagian ini. Obat untuk pencegahan diabetes hanya dipertimbangkan pada keadaan tertentu dan tidak dimulai atau dihentikan berdasarkan artikel atau satu hasil laboratorium.

Anemia dan perubahan sel darah merah bisa menggeser hasil

HbA1c bergantung pada hemoglobin dan usia sel darah merah. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases mencatat bahwa kehilangan darah, hemodialisis, transfusi, serta terapi eritropoietin bisa mengubah hasil A1C. Kekurangan zat besi dan varian hemoglobin juga dapat mengganggu hasil. Talasemia relevan bagi populasi Asia Tenggara karena sebagian metode pemeriksaan terpengaruh oleh varian hemoglobin.

PNPK Kemenkes meminta kriteria glukosa plasma dipakai ketika hubungan HbA1c dan glukosa berubah akibat hemoglobinopati, hemodialisis, perdarahan akut, transfusi, atau terapi eritropoietin. Ketidaksesuaian antara HbA1c dan glukosa juga menjadi alasan untuk memeriksa gangguan pada hemoglobin. Pilihan tes pengganti ditentukan tenaga kesehatan berdasarkan penyebab dan tujuan pemeriksaan.

Hasil 5,7 persen menandai perlunya evaluasi, bukan kepastian bahwa diabetes akan terjadi. Nilai tersebut menjadi lebih berguna bila dibaca bersama glukosa, faktor risiko, metode laboratorium, dan kondisi darah. Tindak lanjut tahunan memberi kesempatan untuk menilai arah perubahan tanpa menyederhanakan satu angka menjadi vonis.