Dua puluh satu jejak hominin bertahan pada lapisan sedimen berumur sekitar 1,43 juta tahun di Kenya utara. Situs GaJi10 di Formasi Koobi Fora merekam sedikitnya delapan individu, bersama jejak kuda nil, antelop, dan hewan lain. Temuan itu memberi data tentang tubuh dan gerak yang tidak tersimpan dalam fosil tengkorak. Analisisnya terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences pada 27 Juli 2026.

Penggalian berulang membuka 21 jejak

Kay Behrensmeyer dari Smithsonian Institution pertama kali mengenali jejak di GaJi10 pada 1978. Lokasi tersebut kemudian ditutup kembali dengan pasir untuk melindungi lapisannya. Penggalian pada 2016 dan 2023 memperluas permukaan yang terlihat hingga jumlahnya mencapai 21 jejak dari delapan individu. Abu vulkanik pada batuan di sekitarnya dipakai untuk menentukan umur situs.

Bekas jejak fosil yang terlihat pada lapisan pasir di lokasi penggalian arkeologi (ilustrasi)

Jejak itu terbentuk di tepian danau dangkal pada Pleistosen Awal. Permukaan semacam ini terbentuk dalam waktu singkat, sehingga arah dan kedekatan jejak bisa merekam satu peristiwa. Satu lintasan mengarah ke timur, sedangkan jejak lain bergerak ke barat. Tim belum memastikan apakah individu yang menuju timur juga meninggalkan jejak ke arah sebaliknya.

Bentuk kaki mengarah pada Paranthropus boisei

Dua hominin hidup di kawasan tersebut pada masa yang sama: Paranthropus boisei dan Homo erectus. Peneliti membandingkan anatomi telapak dan pola geraknya dengan jejak yang telah dikelompokkan sebelumnya. Ciri mekanika kaki GaJi10 lebih dekat dengan jejak yang dikaitkan kepada P. boisei. Lengkungnya tampak lebih datar dan ibu jarinya lebih mudah bergerak dibandingkan kaki manusia modern.

Ukuran jejak justru menambah ketidakpastian dalam penetapan spesies. Perhitungan tim menunjukkan tinggi individu terbesar sekitar 1,8 meter dengan berat sekitar 75 kilogram. Nilai itu melampaui hampir semua perkiraan dari kerangka P. boisei yang tersedia. Jejak tersebut mungkin menunjukkan tubuh P. boisei lebih besar, atau variasi mekanika kaki H. erectus lebih luas dari catatan sekarang.

Susunan jejak memberi petunjuk perilaku kelompok

Beberapa individu bergerak ke arah yang sama pada waktu yang berdekatan. Ukurannya membuat tim menilai kelompok itu terdiri atas individu dewasa dan kebanyakan jantan. Neil Roach dari Harvard University menilai susunan tersebut sebagai petunjuk bahwa jantan P. boisei kadang bergerak bersama tanpa betina atau anak. Jejak tidak membuktikan hubungan sosial, tujuan perjalanan, atau lamanya kelompok itu bertahan.

Kesimpulan tentang jenis kelamin tidak berasal dari DNA atau kerangka milik pembuat jejak. Tim memakai ukuran, arah, dan perbandingan dengan variasi tubuh yang telah diketahui. Karena itu, gambaran kelompok jantan masih menjadi hipotesis yang bisa berubah. Satu permukaan di GaJi10 juga tidak mewakili seluruh perilaku spesies selama masa hidupnya.

Temuan 2024 memberi konteks hidup berdampingan

Penelitian pada 2024 mengidentifikasi pola kaki berbeda pada permukaan lain di Turkana timur. Jejak pada permukaan itu dikaitkan dengan Homo erectus dan Paranthropus boisei, yang menunjukkan keduanya memakai habitat tepi danau sekitar 1,5 juta tahun lalu. Bukti tersebut tidak menjelaskan apakah kedua spesies bertemu atau bersaing langsung. GaJi10 menambah satu rekaman dari kawasan dan rentang waktu yang berdekatan.

Ratusan jejak hominin kini telah dicatat pada lebih dari enam situs di Turkana timur. Endapannya mencakup rentang lebih dari 100.000 tahun dan menunjukkan penggunaan berulang kawasan tepi danau. Peneliti masih mempelajari kondisi geologi yang menjaga jejak tetap utuh. Sampai artikel ini disusun, kami juga belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia yang memuat temuan pembanding untuk GaJi10.