Jembatan gantung Cyangoga membentang di atas Sungai Mukungwa di wilayah barat laut Rwanda. NPR melaporkan jembatan sepanjang 230 kaki, sekitar 70 meter, itu selesai pada 2025 dan menghubungkan dua permukiman. Klinik, sekolah, dan pasar hanya tersedia di salah satu sisi, sementara petani menyeberang untuk membeli kebutuhan atau menjual panen. Tanpa jembatan, perjalanan menuju penyeberangan yang lebih sempit memerlukan tiga jam untuk sekali jalan.
Pilihan lintasan lain juga berisiko atau mahal. Warga menyewa perahu atau meniti batang kayu yang diikat menjadi jembatan sementara. Kayu menjadi licin pada musim hujan dan bisa hanyut saat banjir. Naomi Nibishaka, warga berusia 76 tahun, mengatakan sebagian orang tenggelam ketika mencoba menyeberang. Kekhawatiran atas keselamatan membuat sejumlah orang tua menarik anak dari sekolah, sementara petani kesulitan mencapai pasar.
Jembatan kecil untuk pergerakan sehari-hari
Fika, organisasi nirlaba berbasis Kigali yang dahulu bernama Bridges to Prosperity, membangun Cyangoga sebagai salah satu dari 96 jembatan sejak 2020. Fika menyebut trail bridge (jembatan bagi pejalan kaki, sepeda, dan kendaraan kecil) melayani pola perjalanan harian komunitas perdesaan. Jenis ini mengatasi satu titik lintasan tanpa membangun jalan besar. Manfaatnya bergantung pada letak sekolah, klinik, pasar, dan lahan di kedua sisi sungai.
Evaluasi acak mencakup 97 lokasi
Kevin Donovan dari Yale University dan Wyatt Brooks dari Arizona State University mengevaluasi program pembangunan Fika. Tim memakai rancangan bertahap (stepped-wedge), dengan urutan pembangunan jembatan diacak selama 2021–2024. Desa yang belum menerima jembatan pada suatu tahap menjadi kelompok pembanding bagi desa yang sudah menerimanya. Ringkasan Abdul Latif Jameel Poverty Action Lab (J-PAL) mencatat 97 lokasi, sekitar 10.000 rumah tangga, dan 290 desa diteliti dalam empat gelombang survei.
Survei berlangsung selama empat tahun dan mengikuti pendapatan, konsumsi, kegiatan pertanian, penggunaan lahan, serta ukuran kesejahteraan yang lebih luas. Lokasi tidak dipilih secara acak dari seluruh Rwanda. Fika dan pemerintah Rwanda lebih dahulu memilihnya berdasarkan populasi, jarak ke layanan, kesulitan menyeberang, dan ketersediaan jalur alternatif. Pengacakan berlaku pada urutan pembangunan, bukan pada pemilihan semua lokasi calon jembatan.
Konsumsi dan kegiatan pertanian meningkat
Perubahan ekonomi terlihat pada tahun kedua setelah jembatan dibangun. J-PAL menyebut konsumsi rumah tangga meningkat, terutama melalui pembelian di pasar, bukan konsumsi hasil pertanian sendiri. Panen, laba pertanian, dan budidaya tanaman komersial juga naik. Petani kecil mencatat perluasan terbesar pada lahan garapan dan hasil panen setelah akses ke seberang sungai terbuka.
Hasil kesehatan dan pendidikan belum berada pada tingkat bukti yang sama. NPR melaporkan jumlah kunjungan ke klinik dekat Cyangoga naik 40 persen, sedangkan lebih dari 134 murid kembali mendaftar di Sekolah Gakoro. Angka tersebut berasal dari lokasi yang diliput, bukan rata-rata nasional Rwanda. J-PAL menyatakan analisis survei untuk hasil kesehatan dan pendidikan masih berlangsung.
Dua angka pengembalian memakai dasar berbeda
Ringkasan J-PAL menaksir biaya tiap jembatan sekitar US$100.000. Tim membandingkan biaya itu dengan keuntungan ekonomi rumah tangga selama perkiraan masa pakai 40 tahun dan memperoleh tingkat pengembalian 78–98 persen. Perhitungan tersebut belum memasukkan hasil kesehatan dan pendidikan yang masih dianalisis. Rentang itu juga bergantung pada asumsi usia pakai dan besarnya manfaat ekonomi pada masa mendatang.
NPR menyebut tingkat pengembalian 120 persen dan menafsirkannya sebagai biaya yang kembali dalam setahun setelah jembatan selesai. Laporan itu tidak menjelaskan dasar perhitungan yang sama dengan ringkasan J-PAL. Angka 120 persen dan 78–98 persen tidak bisa dijumlahkan atau diperlakukan sebagai ukuran yang identik. Perbandingan keduanya memerlukan kejelasan tentang periode dan definisi manfaat.
Akses baru tidak menggantikan layanan dasar
Jembatan menghilangkan satu hambatan perjalanan, tetapi tidak menambah tenaga klinik, ruang kelas, jalan, listrik, atau air bersih. Warga yang diwawancarai NPR masih menyebut jalan, listrik, dan air bersih sebagai kebutuhan mendesak. Kapasitas layanan di tujuan menentukan apakah akses yang lebih mudah menghasilkan manfaat jangka panjang. Kebutuhan pemeliharaan tetap ada karena perhitungan J-PAL mengasumsikan masa pakai 40 tahun.
Catatan Indonesia belum sebanding
Catatan proyek Indonesia menunjukkan fungsi serupa, tetapi memakai jenis bukti berbeda. Direktorat Jenderal Bina Marga melaporkan pada 2018 bahwa Jembatan Glagah memangkas perjalanan siswa dari 15–20 menit bermotor menjadi 5–7 menit berjalan kaki. Dokumen itu juga menyebut akses menuju pasar dan lahan, tetapi bukan evaluasi acak terhadap dampak rumah tangga. Perbedaan desain bukti membuat angka Rwanda tidak tepat dipindahkan langsung ke proyek Indonesia.
Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan evaluasi resmi Indonesia atas jembatan gantung perdesaan dengan desain acak dan indikator rumah tangga yang sebanding. Ketiadaan pembanding tersebut tidak berarti program Indonesia tidak memberi manfaat. Data yang tersedia belum memungkinkan perbandingan tingkat pengembalian, perubahan pendapatan, atau hasil layanan dasar dengan studi Rwanda.
Sumber dan rujukan
- The bridges of Rwanda open up new worlds(VPM/NPR)
- An underrated development investment that can double returns: Trail bridges(J-PAL/CEGA)
- Why Bridges?(Fika)
- BBPJN VII Kebut Pembangunan 8 Jembatan Gantung Sampai Akhir Tahun(Direktorat Jenderal Bina Marga)