Pekan Menyusui Sedunia berlangsung pada 1–7 Agustus 2026 dengan tekanan baru: program yang terbukti efektif perlu diperluas dan diukur. Indonesia memasuki pekan ini setelah cakupan ASI eksklusif melampaui sasaran global 2030. Namun, kemajuan nasional belum diikuti hasil yang setara pada jam pertama setelah kelahiran. Perbedaan itu menempatkan mutu dukungan, bukan sekadar kampanye, sebagai persoalan utama.
Tema 2026 memindahkan perhatian ke pelaksanaan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan tema 2026 “Menyusui untuk Awal Kehidupan yang Berkelanjutan: Perkuat Praktik yang Telah Terbukti Efektif”. Tema ini meminta pemerintah, sistem kesehatan, tempat kerja, komunitas, organisasi masyarakat sipil, dan keluarga membangun dukungan yang saling tersambung. Fokusnya mencakup pelacakan kemajuan, penilaian dampak, serta perluasan pendekatan yang menunjukkan hasil. Dengan susunan itu, keberhasilan tidak berhenti pada jumlah kegiatan selama satu pekan.
WHO merangkum lima jalur yang telah memiliki bukti: konseling terampil, fasilitas bersalin ramah bayi, kampanye media terpadu, perlindungan dari pemasaran pengganti ASI, dan cuti berbayar. Dukungan menyusui di tempat kerja juga dikaitkan dengan tingkat ASI eksklusif yang lebih tinggi. Efek tiap intervensi berasal dari kumpulan studi dan konteks yang berbeda. Angka global tersebut tidak boleh dibaca sebagai perkiraan langsung untuk setiap daerah di Indonesia.
Cakupan nasional naik, jam pertama masih menjadi celah
UNICEF dan WHO melaporkan cakupan ASI eksklusif pada bayi usia 0–5 bulan naik dari 52 persen pada 2017 menjadi 66,4 persen pada 2024. Angka 2024 itu melampaui sasaran Majelis Kesehatan Dunia, yakni sekurangnya 60 persen pada 2030. Kedua lembaga mengaitkan kemajuan dengan kebijakan, kapasitas tenaga kesehatan dan kader, serta integrasi dukungan ke layanan ibu, anak, dan gizi. Cakupan tetap tidak menjelaskan apakah setiap keluarga menerima mutu bantuan yang sama.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 memperlihatkan celah pada awal kehidupan bayi. Hampir 90 persen persalinan berlangsung di fasilitas kesehatan, tetapi hanya sekitar satu dari empat bayi mulai menyusu dalam satu jam pertama. Perbandingan itu menunjukkan keberadaan di fasilitas belum otomatis menjamin seluruh praktik pendukung terlaksana. Data tersebut juga lebih lama daripada angka ASI eksklusif 2024, sehingga tahun rujukannya perlu dibedakan.
Ruang yang aman, bersih, dan privat hanya satu bagian dari dukungan bagi pekerja yang menyusui (ilustrasi).
Dukungan dimulai di layanan persalinan dan berlanjut ke komunitas
UNICEF dan WHO meminta dukungan tersedia sejak pemeriksaan kehamilan, persalinan, perawatan pascapersalinan, imunisasi, hingga pemantauan pertumbuhan. Posyandu dan Kelompok Pendukung Ibu disebut sebagai bagian dari rangkaian tersebut. Konseling berkualitas membutuhkan tenaga yang terlatih dan jalur bantuan yang terus tersedia setelah keluarga pulang. Pendekatan ini menghindari beban dukungan hanya jatuh kepada ibu atau satu petugas kesehatan.
Fasilitas bersalin menjadi titik penting karena sebagian besar persalinan di Indonesia terjadi di sana. Praktik yang dinilai mencakup dukungan inisiasi menyusu dini dan bantuan menyusui sebelum pasien meninggalkan fasilitas. Hasilnya perlu diukur melalui pelaksanaan, bukan hanya keberadaan kebijakan tertulis. Kesenjangan pada jam pertama memberi indikator yang lebih spesifik daripada angka cakupan nasional semata.
Aturan memberi dasar, pelaksanaan menentukan hasil
Kerangka nasional mencakup UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024 sebagai aturan pelaksanaannya. UU No. 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan juga memperkuat dasar dukungan. UNICEF dan WHO menempatkan aturan itu bersama pembatasan pemasaran dan promosi produk pengganti ASI. Penilaian berikutnya ialah seberapa konsisten perlindungan tersebut diterapkan dan ditegakkan.
Tempat kerja masuk dalam rantai yang sama melalui cuti orang tua, dukungan bagi pekerja menyusui, dan pengaturan yang ramah keluarga. Ruang laktasi tanpa waktu yang memadai tidak menyelesaikan hambatan pekerja. Sebaliknya, kelonggaran waktu tanpa ruang aman dan privat juga menyisakan masalah. Karena itu, pelaporan perlu melihat gabungan kebijakan, fasilitas, akses, dan pengalaman pekerja lintas sektor.
Ukuran 2026 belum lengkap
Data yang tersedia belum memberi gambaran nasional untuk seluruh unsur dukungan pada 2026. Angka ASI eksklusif terbaru dalam pernyataan UNICEF dan WHO masih merujuk 2024. Indikator inisiasi menyusu dini memakai SKI 2023. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan evaluasi resmi yang mengukur mutu layanan, dukungan komunitas, dan kondisi tempat kerja dengan kerangka seragam pada 2026.
Tema tahun ini membuat kekosongan data tersebut menjadi bagian dari agenda, bukan catatan tambahan. Pemerintah dan lembaga pelaksana perlu mengetahui program mana yang menjangkau keluarga serta kelompok pekerja mana yang tertinggal. Kenaikan cakupan nasional tetap penting, tetapi tidak menggantikan pengukuran pengalaman pada fasilitas dan tempat kerja. Tolok ukur berikutnya ialah kesinambungan dukungan dari kelahiran hingga ibu kembali bekerja.
Sumber dan rujukan
- World Breastfeeding Week 2026(World Health Organization)Tema 2026 dan ringkasan bukti intervensi yang telah dinilai
- Pekan Menyusui Sedunia 2026: Memperkuat Dukungan Menyusui bagi Setiap Ibu dan Bayi(UNICEF Indonesia dan World Health Organization)Data Indonesia, kerangka kebijakan, kesenjangan inisiasi dini, dan seruan dukungan