Respons otak terhadap ujaran bisa direkam sebelum kemampuan bicara anak terlihat jelas. Tim Chinese University of Hong Kong (CUHK) memakai elektroensefalografi (EEG) untuk mencari pola yang berkaitan dengan hasil bahasa di kemudian hari. Studi terbaru memperbesar sampel dan menguji model pada data yang tidak dipakai untuk pelatihan. Temuannya mendukung fungsi prediksi risiko, bukan diagnosis tunggal pada bayi.

Studi 2026 menguji model pada 423 anak

Studi yang terbit di Pediatrics pada 2026 merekam pengodean saraf terhadap ujaran (neural encoding of speech) dari 423 anak berusia 1 hingga 24 bulan. Respons itu ditangkap melalui EEG dan disebut speech auditory brainstem response (speech ABR, rekaman respons batang otak terhadap ujaran). Peneliti kemudian mengumpulkan hasil bahasa dari anak yang sama pada usia 7 hingga 32 bulan. Keterlambatan ditetapkan dari skor bahasa Bayley Scales of Infant and Toddler Development edisi ketiga, bukan dari kesan orang tua semata.

Model pelatihan memakai data 341 anak, sedangkan 82 anak lain menjadi sampel validasi eksternal. Pada validasi itu, model EEG mencatat sensitivitas dan luas di bawah kurva (area under the curve, AUC) di atas 89 persen. AUC mengukur kemampuan model membedakan kelompok pada beragam ambang keputusan; ukuran ini bukan persentase diagnosis yang selalu benar. Penambahan data kelahiran dan kondisi sosial ekonomi tidak meningkatkan kinerja model EEG secara bermakna.

Kehilangan kemampuan komunikasi tetap memerlukan evaluasi segera

Hasil EEG tidak boleh dipakai untuk menunggu ketika kemampuan anak justru menurun. Kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, tidak merespons suara, atau kekhawatiran nyata atas pendengaran dan komunikasi memerlukan evaluasi tanpa menunggu hasil alat prediksi. Pedoman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta rujukan evaluasi audiologi bagi anak dengan keterlambatan pendengaran atau komunikasi, meski skrining pendengarannya pernah dinyatakan lulus. Pemeriksaan perkembangan dan pendengaran menilai persoalan yang sudah terlihat, sedangkan model riset ini memperkirakan risiko di masa depan.

Angka kinerja berubah menurut cara pengujian

Studi 2026 juga memakai validasi silang lima lipatan berlapis (nested five-fold cross-validation) untuk mengurangi penilaian yang terlalu optimistis. Pada bagian terluar pengujian, model EEG mencatat akurasi 78,6 persen, sensitivitas 80,1 persen, dan AUC 0,87. Model gabungan EEG, data anak, dan kondisi sosial ekonomi menghasilkan akurasi 80,4 persen serta AUC 0,86. Rentang hasil tersebut menunjukkan bahwa satu angka mendekati 90 persen tidak mewakili seluruh skenario penerapan.

Nilai prediksi positif dalam validasi eksternal juga lebih rendah daripada sensitivitas karena jumlah anak dengan hasil bahasa rendah tidak seimbang dengan kelompok lain. Artinya, sebagian anak yang ditandai berisiko oleh model tetap tidak masuk kelompok keterlambatan saat dinilai kemudian. Nilai prediksi akan berubah bila alat dipakai pada populasi dengan prevalensi berbeda. Program skrining perlu menilai dampak salah positif, salah negatif, kapasitas rujukan, dan tindak lanjut setelah hasil keluar.

Alur perekaman respons otak terhadap ujaran dan analisis sinyal EEG pada bayi (ilustrasi)

Studi 2021 belum mengukur diagnosis pada usia tiga tahun

Studi awal pada 2021 mengumpulkan EEG dari 118 bayi pada tahun pertama kehidupan. Hasil komunikasi diukur 3 hingga 16 bulan kemudian dengan empat bagian MacArthur-Bates Communicative Development Inventories versi Tionghoa. AUC klasifikasi dua kelompok mencapai 0,92; 0,91; 0,90; dan 0,89. Penulis menyatakan penelitian lebih panjang masih dibutuhkan untuk menilai kemampuan memprediksi status diagnosis.

Rilis CUHK saat itu menyebut angka 92 persen sebagai presisi, tetapi abstrak ilmiahnya melaporkan AUC 0,92 untuk salah satu ukuran. Kedua istilah tidak dapat dipertukarkan karena menjawab pertanyaan statistik yang berbeda. Studi 2026 memperbaiki sebagian keterbatasan dengan ukuran bahasa langsung, sampel lebih besar, dan validasi eksternal. Meski demikian, hasilnya tetap berasal dari kohort anak yang mempelajari bahasa Tionghoa.

Speech ABR berbeda dari skrining pendengaran biasa

CUHK menjelaskan bahwa pengukuran memakai sensor di kulit kepala dan earphone untuk merekam respons saraf terhadap bunyi ujaran selama sekitar 30 menit. Algoritme membaca ciri sinyal yang berkaitan dengan kemampuan bahasa di kemudian hari. Skrining pendengaran bayi dengan automated auditory brainstem response (AABR) atau otoacoustic emission (OAE) terutama mencari gangguan fungsi pendengaran. Speech ABR meneliti pengodean rangsangan ujaran, sehingga sasaran prediksinya berbeda.

Perbedaan sasaran itu membuat kedua pemeriksaan tidak saling menggantikan. Anak bisa lulus skrining pendengaran tetapi tetap mengalami hambatan komunikasi karena penyebab perkembangan bahasa lebih luas. Sebaliknya, hasil risiko tinggi dari model EEG tidak menetapkan penyebab atau jenis gangguan. Penilaian lanjutan tetap memerlukan riwayat perkembangan, pemeriksaan pendengaran, observasi komunikasi, dan instrumen yang sesuai usia.

Garis waktu skrining pendengaran, pemantauan komunikasi, dan pengukuran EEG berbasis ujaran (ilustrasi)

Indonesia sudah memiliki jalur pemantauan, bukan speech ABR rutin

Pedoman Kemenkes menempatkan skrining pendengaran, pengawasan komunikasi, dan skrining perkembangan sebagai jalur yang saling melengkapi. Pengawasan komunikasi dimulai pada kunjungan fasilitas kesehatan sejak usia 2 bulan. Bila satu aspek perkembangan bermasalah, tenaga kesehatan bisa melanjutkan dengan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Dokter anak dapat memakai instrumen lanjutan sesuai usia dan temuan klinis.

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia yang menunjukkan speech ABR dipakai sebagai skrining rutin keterlambatan bahasa. Penerapan juga memerlukan validasi pada bahasa Indonesia dan bahasa daerah, bukan sekadar menerapkan model dari kohort lain. Fasilitas perlu menyediakan alat, petugas terlatih, tata kelola data, serta jalur rujukan bagi hasil berisiko. Tanpa komponen itu, prediksi lebih dini hanya memindahkan ketidakpastian ke keluarga dan layanan primer.

Terapis mengamati interaksi dan komunikasi seorang anak bersama keluarganya (ilustrasi)

Alat prediksi belum menggantikan penilaian perkembangan

Rangkaian studi CUHK menunjukkan bahwa sinyal saraf pada masa bayi memuat informasi tentang hasil bahasa berikutnya. Bukti 2026 lebih kuat daripada studi awal karena mencakup sampel lebih besar dan data validasi yang dipisahkan. Kinerja yang berubah antar-metode pengujian tetap menuntut uji prospektif di layanan nyata dan pada kelompok bahasa lain. Statusnya saat ini adalah teknologi prediksi yang menjanjikan, bukan kepastian diagnosis pada bayi baru lahir.

Bagi sistem kesehatan Indonesia, pertanyaan utamanya bukan hanya apakah algoritme mencapai AUC tinggi. Pengelola juga perlu mengetahui siapa yang diperiksa, ambang rujukan, kapasitas tindak lanjut, dan dampak keputusan yang keliru. Jalur pemantauan perkembangan yang sudah ada tetap menjadi dasar saat bukti lokal belum tersedia. Speech ABR baru layak masuk layanan rutin setelah manfaat, risiko, biaya, dan ketepatannya diuji pada konteks Indonesia.