Perangkat elektronik yang mengikuti gerak kulit atau jaringan menghadapi persoalan mekanis: penghantar dan komponen komputasinya harus tetap bekerja ketika bentuknya berubah. Dua studi pada 2026 menguji bagian yang berbeda dari persoalan itu. Tim lintas lembaga yang melibatkan Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) mengembangkan penghantar logam cair dalam polimer. Tim University of Chicago dan Argonne National Laboratory mengembangkan susunan transistor yang bisa diregangkan untuk mengolah data dekat sensor.
Logam cair dipindahkan ke polimer pada suhu kriogenik
Studi di Nature Communications memakai fotolitografi dan transfer kriogenik untuk menanam pola partikel logam cair ke dalam sejumlah polimer. Transfer berlangsung pada 77 K, ketika perubahan sifat mekanis memperkuat ikatan antara pola dan polimer. Jaringan yang terbentuk mencapai konduktivitas 1,71 × 10⁶ S/m setelah transfer dan aktivasi. Peneliti juga melaporkan kinerja yang tidak peka terhadap regangan pada bahan yang diuji.
Logam berbasis galium mudah berubah bentuk dan tetap menghantarkan listrik, tetapi tegangan permukaan, sifat cair, dan daya basah yang rendah menyulitkan pembentukan pola. Metode baru memindahkan pola beresolusi tinggi pada skala wafer serta menanamnya di dalam matriks polimer. Tim memperagakan sensor yang mengikuti kulit, pencatatan elektromiografi, stimulasi saraf perifer, dan integrasi dengan cip kaku. Demonstrasi tersebut menunjukkan keluwesan proses fabrikasi, bukan kesiapan sebuah produk medis.
Transistor organik membawa komputasi mendekati sensor
Jalur kedua memakai transistor elektrokimia organik (organic electrochemical transistor/OECT), yaitu komponen yang memproses sinyal melalui arus listrik dan pergerakan ion dalam elektrolit. University of Chicago melaporkan metode fabrikasi yang menghasilkan hingga 10.000 OECT per sentimeter persegi. Elektrolit berpola memberi tiap transistor fungsi memori untuk menyimpan nilai dalam jaringan saraf. Susunan tersebut menjalankan komputasi dalam hitungan milidetik tanpa mengirim data ke server luar.
Tim menguji rangkaian dengan data pemetaan jantung dari donor manusia. Susunan itu menemukan posisi muka gelombang dengan akurasi 99,6 persen ketika panjangnya diregangkan lebih dari 1,5 kali ukuran awal. Angka itu berasal dari tugas komputasi pada data yang sudah tersedia, bukan uji diagnosis pada pasien. Artikel di Nature Electronics menjelaskan rangkaian tersebut sebagai platform komputasi neuromorfik dekat sensor.
Dua teknologi menangani lapisan yang berbeda
Jaringan logam cair berfokus pada jalur penghantar yang tetap stabil saat bahan berubah bentuk. Susunan OECT berfokus pada komponen komputasi yang menyimpan bobot dan menjalankan algoritme langsung pada perangkat. Keduanya bukan dua versi produk yang sama dan belum membentuk satu sistem medis terpadu. Sensor, sumber daya, komunikasi, kemasan, dan antarmuka dengan jaringan tubuh tetap memerlukan pengujian tersendiri.
Perbedaan itu juga membatasi perbandingan angka. Konduktivitas 1,71 × 10⁶ S/m mengukur sifat penghantar, sedangkan 99,6 persen mengukur keluaran tugas komputasi. Tidak satu pun angka tersebut mengukur manfaat klinis, usia pakai dalam tubuh, atau tingkat komplikasi. Pembahasan tentang tahap praklinis perangkat lain tersedia dalam laporan uji robot bedah pada babi hidup.
Jarak menuju penggunaan klinis masih panjang
Publikasi logam cair mencakup demonstrasi perangkat yang dipasang pada kulit dan perangkat implan eksperimental. Riset OECT memakai data jantung donor dan belum melaporkan pemasangan rangkaian pada pasien. Tim University of Chicago masih mengembangkan integrasi dengan sensor dan komponen komunikasi lentur. Karena itu, hasil kedua studi belum menjadi bukti keselamatan atau efektivitas klinis.
Perangkat lengkap perlu dinilai sebagai satu sistem, bukan hanya berdasarkan bahan penghantar atau akurasi algoritmenya. Pengujian berikutnya harus menjawab ketahanan terhadap gerakan berulang, stabilitas dalam lingkungan biologis, konsistensi produksi, serta kegagalan komponen. Data jangka panjang pada manusia belum tersedia dalam dua publikasi tersebut. Klaim bahwa material ini sudah siap menggantikan perangkat yang beredar tidak didukung oleh bukti yang diperiksa.
Izin edar Indonesia berlaku pada perangkat akhir
Di Indonesia, kewenangan alat kesehatan berada pada Kementerian Kesehatan (Kemenkes), bukan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan menyatakan alat kesehatan yang beredar wajib memiliki izin edar Kemenkes. Informasi itu berlaku pada produk yang dipasarkan, bukan pengesahan terpisah atas satu bahan penelitian. Status publikasi di jurnal juga tidak menggantikan evaluasi perangkat akhir.
Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia untuk dua teknologi tersebut. Dokumen yang dicari mencakup evaluasi klinis atau izin edar perangkat berbasis jaringan logam cair dan OECT. Ketiadaan temuan ini bukan pernyataan bahwa riset serupa tidak berlangsung di Indonesia. Tahap adopsi nasional belum bisa dibandingkan dari dokumen publik yang kami periksa. Untuk sekarang, dua studi itu paling tepat dibaca sebagai kemajuan fabrikasi dan komputasi pada tingkat penelitian.
Sumber dan rujukan
- Universal cryogenic transfer of liquid metal particles in polymers for wafer-scale stretchable integrated electronics(Nature Communications)Metode transfer kriogenik, konduktivitas, stabilitas saat diregangkan, dan demonstrasi perangkat.
- A large-scale stretchable neuromorphic circuit for on-body edge computing(Nature Electronics)Susunan transistor elektrokimia organik untuk komputasi dekat sensor.
- Stretchable AI patch computes on your body, no server required(University of Chicago News)Rincian fabrikasi, kepadatan transistor, data uji jantung, dan tahap integrasi perangkat.
- Bijak Memilih dan Menggunakan Alkes dan PKRT(Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan)Kewajiban izin edar Kemenkes untuk alat kesehatan di Indonesia.