Kembali ke sekolah mengubah jam tidur, perjalanan, beban belajar, dan pergaulan anak dalam waktu berdekatan. Sebagian anak merasa antusias, sedangkan sebagian lain gelisah menghadapi kelas atau guru baru. Istilah “sindrom kembali ke sekolah” bukan diagnosis tersendiri. Persiapan perlu mengikuti kalender sekolah setempat, bukan tanggal masuk sekolah di negara lain.

Rutinitas dimulai sebelum hari pertama

UNICEF Indonesia menyarankan perubahan jam tidur dan bangun dimulai beberapa pekan sebelum anak memasuki prasekolah. Waktu baru memberi ruang bagi anak dan pengasuh untuk menyesuaikan pagi tanpa terburu-buru. Pakaian dan perlengkapan bisa disiapkan pada malam sebelumnya. Keluarga juga perlu memastikan siapa yang mengantar, menjemput, atau mendampingi anak setelah sekolah.

Percakapan tentang kelas baru sebaiknya berangkat dari kekhawatiran yang disebut anak. Kunjungan orientasi, gambaran jadwal, dan kepastian waktu penjemputan membantu membuat situasi lebih mudah diperkirakan. UNICEF menjelaskan bahwa kecemasan saat masuk sekolah bisa wajar, tetapi bantuan profesional dibutuhkan bila kekhawatiran mengganggu sekolah, rumah, atau kegiatan bermain. Sakit perut, sakit kepala, sulit tidur, dan hilang selera makan perlu dinilai bersama perubahan perilaku dan fungsi anak.

Tanda yang memerlukan bantuan segera

Ucapan ingin mati, rencana bunuh diri, atau tindakan melukai diri memerlukan bantuan tenaga kesehatan segera. Anak perlu tetap didampingi dan dijauhkan dari benda yang bisa dipakai untuk mencederai diri. Kementerian Kesehatan menyediakan dukungan krisis melalui Healing119.id dan panggilan 119 ekstensi 8. Bila keselamatan tidak bisa dijaga atau layanan tidak tersambung, pertolongan perlu dicari di instalasi gawat darurat terdekat.

Keluhan pada hari sekolah tidak boleh langsung dianggap berpura-pura atau semata-mata cemas. Pemeriksaan dokter membantu menilai sakit kepala, nyeri perut, sesak, atau gejala fisik lain yang berulang. American Academy of Pediatrics menyarankan bantuan profesional bila penolakan sekolah berlangsung lebih dari satu pekan atau mengganggu fungsi anak. Guru dan petugas kesehatan sekolah juga perlu mengetahui pola absen, perundungan, atau perubahan belajar yang menyertai.

Anak berbaring di kamar gelap saat jadwal tidurnya belum kembali teratur (ilustrasi)

Pemeriksaan mata tidak berhenti pada keluhan anak

Anak belum tentu menyadari bahwa tulisan di papan terlihat kabur. Menyipitkan mata, mendekatkan wajah ke buku, atau sering kehilangan baris saat membaca patut dicatat untuk pemeriksaan. Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah dari Kementerian Kesehatan mencakup pemeriksaan mata dan telinga. Program itu menyasar peserta didik dan anak usia 7–17 tahun di luar satuan pendidikan.

WHO menyebut 90 menit di luar ruangan pada siang hari sebagai faktor pelindung terhadap timbulnya miopia pada anak. WHO juga menekankan pemeriksaan mata berkala dan pengurangan kegiatan jarak dekat yang berkepanjangan. Aktivitas luar ruangan tidak memperbaiki kelainan refraksi yang sudah ada. Hasil skrining yang tidak normal tetap memerlukan pemeriksaan dan koreksi sesuai penilaian tenaga kesehatan mata.

Nyeri mata yang memburuk atau gangguan penglihatan setelah cedera memerlukan pemeriksaan segera di rumah sakit atau fasilitas kesehatan. Tanda tersebut tidak menunggu skrining sekolah. Obat tetes mata tidak dipilih hanya berdasarkan kemerahan tanpa mengetahui penyebabnya. Anak yang sudah memakai kacamata perlu membawa kacamata dan catatan pemeriksaan terakhir saat kontrol.

Bagan pemeriksaan ketajaman penglihatan untuk skrining mata anak (ilustrasi)

Tas ditimbang, tetapi angka bukan satu-satunya ukuran

American Academy of Pediatrics menempatkan berat tas dalam kisaran 10–20 persen berat badan dan menyarankan barang terberat berada dekat punggung. Organisasi itu juga menganjurkan dua tali bahu yang lebar dan berbantalan. Rentang tersebut adalah rujukan internasional, bukan batas resmi nasional Indonesia. Berat perlu dikurangi bila anak condong ke depan, mengeluh nyeri, atau mengalami kesemutan saat membawa tas.

Isi tas perlu dicocokkan dengan jadwal pelajaran, bukan disimpan seluruhnya setiap hari. Botol minum, perangkat elektronik, dan buku tebal perlu masuk dalam hasil penimbangan. Kedua tali bahu membagi beban lebih merata daripada satu tali. Keluhan yang menetap meski beban sudah dikurangi memerlukan penilaian tenaga kesehatan.

Dua murid berjalan berdampingan sambil membawa tas punggung (ilustrasi)

Catatan imunisasi dicocokkan dengan BIAS

Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) merupakan layanan tahunan melalui sekolah, madrasah, pesantren, Puskesmas, dan pos pelayanan lain. Sasaran kelas 1 menerima campak-rubela pada Agustus dan DT pada November. Kelas 2 dan 5 menjadi sasaran Td pada November. HPV diberikan pada sasaran kelas tertentu pada Agustus sesuai tabel Kemenkes.

Catatan imunisasi membantu petugas memeriksa dosis yang sudah diterima dan yang masih kurang. Anak yang tidak hadir saat layanan sekolah bisa memperoleh imunisasi di Puskesmas atau fasilitas kesehatan lain. Jadwal pemberitahuan tetap perlu dicocokkan dengan sekolah atau Puskesmas setempat. Riwayat reaksi berat, penyakit kronis, gangguan kekebalan, dan terapi jangka panjang perlu disampaikan sebelum imunisasi.

Empat catatan yang perlu siap sebelum sekolah

Daftar akhir berisi jam tidur dan bangun, rencana antar-jemput, hasil pengamatan penglihatan, serta catatan imunisasi. Berat tas dicatat bersama keluhan bahu atau punggung, bukan sebagai angka terpisah. Kekhawatiran anak perlu disampaikan kepada wali kelas bila berkaitan dengan perundungan, keamanan, atau kebutuhan dukungan belajar. Persiapan tersebut membuat perubahan fungsi lebih mudah dikenali tanpa memberi label diagnosis sendiri.