Sebuah truk meledak di luar markas kepolisian Norte de Santander di Cúcuta pada dini hari 1 Agustus 2026. Associated Press (AP) melaporkan 11 polisi terluka dan seekor anjing polisi tewas. Ledakan merusak sebagian besar atap bangunan serta memecahkan jendela. Cúcuta berada di perbatasan Kolombia dan Venezuela, tempat kelompok bersenjata memperebutkan jalur penyelundupan.

Direktur Kepolisian Kolombia, Jenderal William Rincón, menyebut kendaraan itu ditinggalkan di luar kompleks sebelum meledak. Menteri Pertahanan Pedro Sánchez menuding Tentara Pembebasan Nasional (Ejército de Liberación Nacional atau ELN). Pemerintah menawarkan imbalan US$60.000 bagi informasi yang mengarah kepada pelaku. Laporan AP yang diperiksa belum memuat penangkapan, dakwaan, atau hasil penyelidikan yang menetapkan pelaku.

Bangunan dengan jendela pecah setelah ledakan (ilustrasi)

Tuduhan pemerintah belum menjadi kesimpulan penyelidikan

Penyebutan ELN dalam laporan awal adalah tuduhan pemerintah Kolombia, bukan kesimpulan pengadilan. Belum ada pernyataan pertanggungjawaban dari kelompok tersebut dalam dua sumber yang diperiksa. Identitas orang yang membawa atau menempatkan truk juga belum dijelaskan. Karena itu, atribusi serangan perlu dibedakan dari fakta ledakan dan korban yang telah dilaporkan.

ELN dibentuk pada dekade 1960-an oleh pemimpin serikat pekerja, mahasiswa, dan petani. Kelompok itu telah berperang melawan pemerintah Kolombia selama puluhan tahun. AP menyebut sekitar 6.000 anggotanya beroperasi di Kolombia dan Venezuela. Menurut otoritas Kolombia yang dikutip AP, pendanaannya kini bertumpu pada penambangan emas ilegal dan perdagangan narkotika.

Perundingan damai runtuh setelah kekerasan di Catatumbo

Presiden Gustavo Petro membuka perundingan dengan ELN sebagai bagian dari kebijakan “Perdamaian Total”. Proses tersebut runtuh pada awal 2025 setelah serangan di kawasan pedesaan utara Cúcuta. Serangan itu diperkirakan menewaskan 78 orang dan memaksa sedikitnya 56.000 warga meninggalkan rumah. Kegagalan perundingan membuat kebijakan terhadap kelompok bersenjata kembali menjadi pokok perdebatan nasional.

Kesepakatan damai 2016 dengan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) melucuti lebih dari 13.000 gerilyawan. Namun, kekosongan kekuasaan muncul di sebagian wilayah pedesaan setelah demobilisasi. ELN dan kelompok yang lebih kecil kemudian berusaha memperluas kendali di kawasan tersebut. Perbatasan sekitar Cúcuta menjadi penting karena menghubungkan wilayah operasi di dua negara.

Ledakan terjadi enam hari sebelum pelantikan presiden

Serangan Cúcuta terjadi menjelang pergantian pemerintahan pada 7 Agustus. Presiden terpilih Abelardo de la Espriella merencanakan pelantikan di Cali, bukan Bogotá. Agenda sementara menempatkan upacara di USC Arena, Universitas Santiago de Cali. Pemerintah daerah mengumumkan pengamanan akses kota, larangan penerbangan pesawat nirawak, dan penambahan aparat di koridor jalan Valle del Cauca.

De la Espriella berkampanye dengan janji menghadapi ELN dan kelompok kriminal memakai kekuatan militer yang lebih besar. Ia juga berencana menghidupkan kembali penyemprotan udara terhadap tanaman koka. Pernyataan tersebut menunjukkan perbedaan pendekatan dengan pemerintahan Petro. Pelaksanaan kebijakan dan pengaruh serangan Cúcuta terhadap keputusan awal pemerintah baru belum diketahui.

Dampak bagi Indonesia belum terukur

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia yang menilai dampak khusus serangan ini bagi Indonesia. Sumber yang tersedia berfokus pada korban, tuduhan pemerintah Kolombia, dan pengamanan pelantikan. Belum ada dasar untuk menyimpulkan perubahan risiko perjalanan atau hubungan bilateral. Penilaian berikutnya bergantung pada hasil penyelidikan dan langkah pemerintah baru Kolombia.