Presiden Ekuador Daniel Noboa dijadwalkan mengunjungi Tiongkok pada 16–23 Agustus 2026 dalam kunjungan kenegaraan pertamanya. Presiden Xi Jinping akan berunding dengannya. Perdana Menteri Li Qiang dan Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Zhao Leji juga dijadwalkan bertemu. Tahun 2026 menandai satu dekade kemitraan strategis komprehensif kedua negara.

Banco Central del Ecuador (BCE) menempatkan Amerika Serikat dan Tiongkok sebagai dua pasar ekspor terbesar pada Januari–April 2026. Pangsa keduanya masing-masing 20,4 persen dan 18,6 persen dari total ekspor Ekuador. Pada sisi impor, AS memasok 31,9 persen dan Tiongkok 26,5 persen. Data itu menempatkan Quito di antara dua mitra utama, bukan pada satu jalur perdagangan.

FTA mulai berlaku pada Mei 2024

Perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) Ekuador–Tiongkok berlaku pada 1 Mei 2024. Bea cukai Ekuador kemudian memasukkan jadwal penurunan tarif ke sistem Ecuapass. Pengiriman juga memerlukan surat keterangan asal untuk memperoleh tarif preferensial. FTA karena itu tidak menghapus tarif seluruh barang secara serentak.

Ekspor Ekuador ke Tiongkok mencapai US$2,34 miliar pada Januari–April 2026, naik 39,3 persen secara tahunan. Impor dari Tiongkok mencapai US$2,93 miliar, naik 31,5 persen. Ekuador mencatat defisit perdagangan US$593,5 juta dengan Tiongkok dalam periode tersebut. Angka itu berbeda dari surplus perdagangan Ekuador secara keseluruhan.

Tiongkok menjadi tujuan utama ekspor nonminyak Ekuador dengan pangsa 24,4 persen pada Januari–April 2026. Udang menyumbang 52,2 persen, sedangkan konsentrat timbal dan tembaga menyumbang 31,4 persen dari kiriman nonminyak ke Tiongkok. Komposisi tersebut memperlihatkan konsentrasi pada sedikit komoditas. Kenaikan nilai perdagangan saja belum memisahkan pengaruh FTA dari harga, volume, dan permintaan pasar.

Pekerja memanen pisang di perkebunan untuk pasar ekspor (ilustrasi)

Angka investasi “separuh” memerlukan batas waktu

Laporan BCE yang terbit pada 2025 mencatat arus investasi langsung 2024 sebesar US$232,1 juta. Dari nilai itu, US$116,5 juta berasal dari Tiongkok, atau sekitar separuh. Angka tersebut menggambarkan arus selama satu tahun. Nilainya bukan seluruh aset atau akumulasi modal Tiongkok di Ekuador.

Laporan BCE yang lebih baru mencantumkan kembali total investasi langsung 2024 sebesar US$446 juta dan total 2025 sebesar US$1,30 miliar. Data 2025 masih bersifat sementara. BCE juga menjelaskan bahwa sebagian transaksi modal bersifat akuntansi dan tidak selalu berarti aliran devisa masuk. Rasio lama sekitar separuh karena itu tidak tepat diperlakukan sebagai porsi Tiongkok pada 2025 atau 2026.

Jalur dagang dengan AS sudah berubah

Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) mengumumkan penandatanganan perjanjian perdagangan timbal balik dengan Ekuador pada 13 Maret 2026. Karena itu, keterangan bahwa Ekuador belum memiliki perjanjian dagang dengan Washington sudah tidak mutakhir. Kesepakatan tersebut mencakup tarif, hambatan nontarif, perdagangan digital, ketenagakerjaan, lingkungan, dan keamanan ekonomi. Cakupannya melampaui akses pasar barang.

Naskah perjanjian mengatur kerja sama kontrol ekspor, sanksi, keamanan investasi, dan peninjauan investasi masuk. Dokumen itu juga memungkinkan penghentian jika perjanjian preferensial baru dengan negara ketiga merusak manfaatnya. Konsultasi harus ditempuh terlebih dahulu ketika memungkinkan. Ketentuan tersebut menempatkan keamanan ekonomi di dalam hubungan dagang AS–Ekuador.

Perjanjian berlaku 30 hari setelah kedua pihak saling memberi notifikasi tertulis tentang penyelesaian prosedur hukum. Kedua negara juga boleh menyepakati tanggal lain. Pengumuman USTR mengonfirmasi penandatanganan, tetapi tidak memuat tanggal pemberlakuan. Penandatanganan dan pelaksanaan karena itu perlu dibedakan.

Hubungan dagang dengan Indonesia masih terbatas

Ekspor Ekuador ke Indonesia mencapai US$385,5 juta pada 2025, turun 20,0 persen dibandingkan 2024. Nilai itu setara 1,0 persen dari seluruh ekspor Ekuador. Indonesia bukan pihak dalam perjanjian Ekuador dengan Tiongkok maupun AS. Dampak langsung terhadap perdagangan Indonesia tidak bisa ditarik dari data Ekuador saja.

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia yang menilai dampak langsung lawatan tersebut. Penilaian memerlukan rincian kesepakatan yang diumumkan setelah kunjungan dan data perdagangan berikutnya. Tanpa dua unsur itu, klaim mengenai konsekuensi langsung bagi Indonesia masih prematur.