Kebutuhan protein tidak berhenti pada rumus berat badan dikali satu angka. Indonesia memakai Angka Kecukupan Gizi (AKG) menurut umur dan jenis kelamin untuk penduduk sehat. Acuan olahraga dan lansia memakai gram per kilogram karena tujuannya berbeda. Penyakit ginjal juga mengubah batas sehingga angka untuk atlet tidak boleh dipakai begitu saja.
AKG Indonesia menjadi titik awal
Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 Tahun 2019 menetapkan AKG yang berlaku bagi masyarakat Indonesia. Untuk usia 19–64 tahun, acuannya 65 gram protein per hari bagi laki-laki dan 60 gram bagi perempuan. Angka itu menggambarkan kecukupan rata-rata kelompok dengan berat badan rujukan. AKG bukan target klinis yang otomatis cocok bagi setiap individu.
Kebutuhan bisa bergeser karena ukuran tubuh, tingkat aktivitas, kehamilan, menyusui, penyakit, atau pemulihan setelah sakit. Anak dan remaja memiliki tabel AKG tersendiri sehingga angka dewasa tidak berlaku bagi mereka. Ibu hamil atau menyusui juga memiliki tambahan menurut fase. Penilaian dokter atau dietisien diperlukan bila ada penyakit, penurunan berat badan, atau pembatasan makanan.
Tanda yang memerlukan pertolongan segera
Sumber protein seperti telur, ikan, susu, kedelai, dan kacang-kacangan bisa memicu alergi pada orang tertentu. Kementerian Kesehatan memasukkan sesak, mengi, sulit menelan, pingsan, serta pembengkakan mendadak pada mulut atau tenggorokan sebagai tanda darurat. Gejala tersebut bisa muncul beberapa menit setelah paparan dan membutuhkan bantuan medis segera. Muntah, diare, atau ruam setelah makanan baru juga perlu dihentikan dan dinilai bila berlanjut.
Perubahan jumlah buang air kecil, darah dalam urine, sesak, dan bengkak pada kaki bukan alasan untuk menghitung diet sendiri. Kemenkes mencantumkan keluhan tersebut sebagai gejala yang perlu diperiksakan. Penyakit ginjal dapat tidak bergejala pada tahap awal. Hasil pemeriksaan, bukan banyaknya protein yang dimakan, menentukan diagnosis dan rencana gizi.
Perhitungan berbasis berat badan berlaku untuk tujuan tertentu
Rumus gram per kilogram berguna ketika pedoman memang menyatakannya dalam bentuk tersebut. Berat badan 60 kilogram dengan sasaran 1,4 gram per kilogram menghasilkan 84 gram protein per hari. Perhitungan itu hanya benar bila sasaran 1,4 gram sesuai dengan kelompok dan kondisi orang tersebut. Mengalikan berat badan dengan angka tertinggi bukan cara umum untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
International Society of Sports Nutrition (ISSN) menempatkan 1,4–2,0 gram per kilogram per hari sebagai rentang bagi mayoritas orang sehat yang rutin berolahraga. Ujung rentang dipengaruhi volume latihan, komposisi tubuh, asupan energi, dan tujuan latihan. Pernyataan itu juga menyebut 20–40 gram sebagai rentang umum per sajian bagi atlet. Temuan tersebut bukan batas resmi untuk populasi umum atau orang dengan penyakit ginjal.
Lansia memiliki acuan yang berbeda
Perubahan metabolisme dan hilangnya massa otot membuat kebutuhan lansia perlu dinilai tersendiri. Kelompok studi PROT-AGE merekomendasikan sedikitnya 1,0–1,2 gram per kilogram per hari bagi orang sehat berusia di atas 65 tahun. Orang yang aktif berolahraga bisa memerlukan angka lebih tinggi. Konsensus tersebut mengecualikan penyakit ginjal berat yang belum menjalani dialisis.
Materi Kemenkes juga memakai rentang 1,0–1,2 gram per kilogram bagi lansia sehat. Risikonya berbeda pada lansia dengan gangguan ginjal, kerapuhan, kesulitan menelan, atau malnutrisi. Menaikkan protein tanpa memastikan kecukupan energi juga tidak menyelesaikan seluruh masalah gizi. Rencana makan perlu menimbang kemampuan mengunyah, nafsu makan, penyakit, dan obat rutin.
Penyakit ginjal mengubah batas aman
Pedoman KDIGO 2024 menyarankan 0,8 gram protein per kilogram per hari bagi orang dewasa dengan penyakit ginjal kronis G3–G5. Pedoman itu meminta pasien berisiko progresi menghindari asupan di atas 1,3 gram per kilogram. Diet sangat rendah protein hanya dipertimbangkan pada pasien terpilih di bawah pengawasan ketat. Anjuran tersebut tidak boleh diterapkan sendiri pada orang yang rapuh, mengalami sarkopenia, atau kekurangan gizi.
Status dialisis, diabetes, tingkat fungsi ginjal, dan kecukupan energi memengaruhi rencana makan. Kebutuhan pasien yang menjalani dialisis tidak sama dengan pasien G3–G5 yang belum dialisis. Dokter dan dietisien perlu menyesuaikan protein bersama natrium, kalium, serta fosfor. Mengikuti menu atlet bisa berisiko, sedangkan pembatasan berlebihan bisa memperburuk malnutrisi.
Mengubah target menjadi susunan makan
Gram protein berbeda dari berat bahan pangan. KDIGO memberi contoh bahwa satu telur menyediakan sekitar 6–8 gram protein. Sebanyak 28 gram daging, unggas, atau ikan juga menyediakan sekitar 6–8 gram. Kandungan makanan olahan tetap perlu dibaca pada label karena ukuran sajian dan formulanya berbeda.
Tabel Komposisi Pangan Indonesia dari Kementerian Kesehatan memuat kandungan zat gizi bahan pangan yang lazim dikonsumsi di Indonesia. Catatan makan satu hari bisa dibandingkan dengan AKG atau sasaran klinis yang sudah ditetapkan. Protein sebaiknya berasal dari beberapa sumber, seperti ikan, ayam, telur, tempe, tahu, dan kacang-kacangan. Cara memasak dan ukuran porsi tetap menentukan hasil perhitungan.
Pedoman Isi Piringku menempatkan lauk berprotein bersama makanan pokok, sayur, dan buah dalam satu susunan makan. Keragaman itu mencegah protein menggusur serat dan zat gizi lain. Membagi lauk berprotein pada sarapan, makan siang, dan makan malam juga memudahkan pencatatan. Angka harian tetap perlu dibaca sebagai bagian dari pola makan, bukan satu-satunya ukuran mutu.
Batas bukti tentang asupan tinggi
Studi ISSN pada orang sehat yang berlatih tidak menemukan kerusakan penanda ginjal dalam rentang yang dibahas. Bukti itu tidak membuktikan bahwa protein tinggi aman bagi semua orang atau tanpa batas waktu. Data atlet juga tidak bisa dipindahkan ke pasien ginjal, ibu hamil, anak, atau lansia rapuh. Belum ada alasan untuk mengejar ujung atas rentang bila kebutuhan biasa sudah terpenuhi.
Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi Indonesia terkini yang membandingkan asupan protein nasional dengan AKG pada seluruh kelompok dewasa. Karena itu, klaim bahwa mayoritas penduduk Indonesia sudah kekurangan atau kelebihan protein tidak dipakai di sini. Titik awal yang tersedia ialah AKG nasional, catatan konsumsi, dan kondisi kesehatan masing-masing. Pemeriksaan klinis tetap diperlukan ketika gejala atau riwayat penyakit mengubah batas gizi.
Sumber dan rujukan
- Permenkes No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi(Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia)Dasar AKG yang berlaku untuk masyarakat Indonesia.
- Isi Piringku, Panduan Kebutuhan Gizi Seimbang Harian(Kementerian Kesehatan)Susunan pangan beragam dalam pedoman gizi seimbang Indonesia.
- Tabel Komposisi Pangan Indonesia(Kementerian Kesehatan)Rujukan komposisi zat gizi pangan Indonesia.
- International Society of Sports Nutrition Position Stand: protein and exercise(Journal of the International Society of Sports Nutrition)Rentang kebutuhan protein untuk orang sehat yang rutin berolahraga.
- Kebutuhan Gizi pada Lansia(Kementerian Kesehatan)Anjuran protein lansia dan pengecualian pada gangguan ginjal.
- Evidence-based recommendations for optimal dietary protein intake in older people(PROT-AGE Study Group / PubMed)Konsensus kebutuhan protein bagi orang berusia di atas 65 tahun.
- KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease(Kidney Disease: Improving Global Outcomes)Batas asupan protein pada penyakit ginjal kronis G3–G5.
- Bisakah Alergi Makanan Sembuh?(Kementerian Kesehatan)Tanda anafilaksis yang memerlukan bantuan medis segera.
- Gejala Penyakit Ginjal Kronis yang Harus Diwaspadai(Kementerian Kesehatan)Gejala yang memerlukan pemeriksaan fungsi ginjal.