Estimasi laju filtrasi glomerulus atau eGFR memperkirakan kemampuan ginjal menyaring darah. Angka ini dihitung dari penanda darah dan karakteristik tertentu, bukan diukur langsung. Hasil yang berada di bawah rentang laboratorium perlu dibaca bersama catatan sebelumnya, urine, obat, dan keadaan saat pemeriksaan.

Persamaan CKD-EPI 2021 berbasis kreatinin memakai usia, jenis kelamin, dan kreatinin serum tanpa memasukkan ras. Satuannya ditulis mL/menit/1,73 m², yaitu laju penyaringan yang disesuaikan dengan luas permukaan tubuh standar. Laboratorium dapat memakai persamaan berbeda, sehingga nama rumus pada laporan perlu diperhatikan saat membandingkan hasil.

Ilustrasi ginjal dan lembar hasil pemeriksaan yang memuat nilai eGFR

Tanda yang memerlukan pertolongan segera

Angka eGFR bukan satu-satunya dasar untuk menentukan kegawatan. Sesak napas, kebingungan, perubahan urine mendadak, atau pembengkakan berat memerlukan perhatian segera. Keadaan tersebut tidak menunggu jadwal kontrol rutin atau pemeriksaan kesehatan berikutnya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencantumkan perubahan jumlah urine, darah dalam urine, sesak napas, mual, muntah, dan pembengkakan sebagai gejala yang perlu diperiksa. Keluhan tersebut tidak memastikan penyebabnya berasal dari ginjal. Pemeriksaan medis diperlukan karena gangguan jantung, infeksi, sumbatan saluran kemih, dan keadaan akut lain bisa menimbulkan pola serupa.

eGFR melengkapi kreatinin, bukan menggantikannya

Kreatinin berasal dari metabolisme otot dan dibuang melalui ginjal. Konsentrasinya dipengaruhi fungsi ginjal, massa otot, pola makan, serta keadaan klinis tertentu. Rumus eGFR mengolah kreatinin agar hasil lebih berguna daripada angka kreatinin tanpa konteks.

NIDDK menegaskan bahwa eGFR tetap sebuah perkiraan dan tren lebih informatif daripada satu titik pengukuran. Ketepatan bisa berkurang ketika hubungan antara kreatinin dan fungsi ginjal tidak lazim. Pada keputusan klinis tertentu, dokter dapat mempertimbangkan sistatin C bersama kreatinin untuk memperbaiki estimasi.

Dua sumbu penilaian: eGFR dan albumin urine

Pedoman KDIGO 2024 mengelompokkan fungsi ginjal ke G1 sampai G5 dan albuminuria ke A1 sampai A3. G1 berarti eGFR sedikitnya 90, sedangkan G2 berada pada 60–89. G3a mencakup 45–59, G3b 30–44, G4 15–29, dan G5 di bawah 15 mL/menit/1,73 m².

Kategori G1 atau G2 tidak otomatis berarti penyakit ginjal kronis. Diagnosis pada rentang itu memerlukan bukti kerusakan ginjal, seperti albuminuria persisten atau kelainan struktur. Sebaliknya, eGFR di bawah 60 yang menetap termasuk kriteria penyakit ginjal kronis meski gejala belum muncul.

Rasio albumin-kreatinin urine atau ACR mengoreksi konsentrasi albumin terhadap kreatinin dalam sampel urine. KDIGO menetapkan A1 di bawah 30 mg/g, A2 sebesar 30–300 mg/g, dan A3 di atas 300 mg/g. NIDDK menempatkan eGFR dan albumin urine sebagai dua penanda utama untuk menilai penyakit ginjal kronis.

Bagan kategori eGFR dan albumin urine untuk menilai penyakit ginjal kronis

Satu hasil abnormal belum membuktikan penyakit kronis

KDIGO mendefinisikan penyakit ginjal kronis sebagai kelainan struktur atau fungsi ginjal selama sedikitnya tiga bulan. Pedoman yang sama meminta pemeriksaan ulang setelah temuan insidental berupa eGFR rendah, ACR tinggi, atau darah dalam urine. Waktu pengulangan bergantung pada tingkat kelainan, gejala, riwayat, dan kemungkinan gangguan akut.

Variasi biologis dan analitis dapat menggeser hasil dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan berikutnya. Dehidrasi, penyakit akut, serta perubahan obat juga bisa memengaruhi fungsi ginjal dalam waktu singkat. Karena itu, satu angka abnormal tidak boleh dipakai sendiri untuk menyimpulkan stadium kronis atau mengubah terapi.

Hasil dibaca sebagai peta risiko, bukan persentase ginjal tersisa

eGFR 45 tidak berarti ginjal pasti hanya “tersisa 45 persen”. Nilai itu adalah laju filtrasi hasil estimasi yang ditempatkan dalam kategori G3a. Risiko selanjutnya tetap dipengaruhi ACR, penyebab gangguan, perubahan dari waktu ke waktu, usia, diabetes, tekanan darah, dan penyakit penyerta.

Kategori yang lebih rendah atau albuminuria yang lebih tinggi biasanya memerlukan pemantauan lebih dekat. Penentuan jadwal, pemeriksaan tambahan, dan kebutuhan rujukan tidak memakai satu ambang untuk semua orang. Anak, ibu hamil, lansia dengan massa otot rendah, pasien penyakit kronis, dan pengguna obat rutin memerlukan penilaian yang disesuaikan.

NSAID dan produk tanpa kejelasan isi menambah risiko

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) terdapat pada sebagian obat nyeri dan obat flu. NIDDK menyebut pemakaian NSAID dalam waktu lama dapat merusak ginjal dan pemakaian saat dehidrasi bisa memicu cedera ginjal akut. Risiko juga meningkat pada penyakit ginjal, diabetes, hipertensi, tekanan darah rendah, atau penggunaan obat tertentu.

Temuan eGFR rendah bukan alasan untuk menghentikan obat resep secara mendadak. Daftar obat bebas, obat resep, jamu, dan suplemen perlu ditinjau oleh dokter atau apoteker. Nama zat aktif lebih penting daripada merek karena NSAID bisa muncul dalam produk dengan tujuan berbeda.

KDIGO mencatat sebagian obat herbal dan suplemen memiliki bukti potensi toksisitas terhadap ginjal. Catatan itu tidak berarti seluruh jamu merusak ginjal. Risiko bergantung pada bahan, mutu produk, pencemaran, interaksi, dosis, dan kondisi orang yang menggunakannya.

Obat nyeri, jamu, dan catatan fungsi ginjal di atas meja (ilustrasi)

Informasi Indonesia masih belum lengkap

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi Indonesia terkini yang menyajikan angka nasional eGFR dan ACR abnormal pada populasi dewasa. Karena itu, angka prevalensi negara lain tidak dipakai untuk menggambarkan keadaan Indonesia. Ketiadaan angka pembanding dalam artikel ini juga tidak berarti penyakit ginjal kronis jarang terjadi.

Hasil pemeriksaan paling berguna bila tanggal, nama persamaan, eGFR, kreatinin, dan ACR tersimpan dalam satu rangkaian. Dokter kemudian menilai perubahan angka bersama tekanan darah, diabetes, gejala, obat, dan riwayat keluarga. Pendekatan tersebut membedakan temuan sementara, penyakit kronis, dan kondisi yang memerlukan pemeriksaan lebih cepat.