Kolesterol LDL (low-density lipoprotein cholesterol) menjadi sasaran utama dalam tata laksana dislipidemia karena berkaitan kausal dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik. Angka pada laporan laboratorium membantu penapisan, tetapi tidak menetapkan sasaran terapi seorang diri. Riwayat serangan jantung, stroke, diabetes, penyakit ginjal, dan faktor risiko lain mengubah target yang dipakai.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) membagi target LDL-C menurut empat tingkat risiko kardiovaskular. Sasaran itu berkisar dari di bawah 116 mg/dL hingga di bawah 55 mg/dL. Karena itu, angka yang tampak berada dalam rentang rujukan laboratorium masih mungkin melewati target klinis.
Nyeri dada dan sesak bukan masalah angka laboratorium
LDL tinggi biasanya tidak menimbulkan keluhan yang bisa dikenali tanpa pemeriksaan. Namun, nyeri atau tekanan di dada, sesak napas, keringat dingin, mual, serta nyeri yang menjalar memerlukan pertolongan segera. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencantumkan keluhan tersebut sebagai tanda serangan jantung. Penanganan tidak ditunda untuk menunggu tes kolesterol ulang.
Public Safety Center (PSC) 119 menyediakan layanan cepat tanggap darurat kesehatan di Indonesia. Hasil profil lipid berguna untuk pencegahan jangka panjang setelah keadaan darurat tertangani. Nilai LDL tidak dipakai untuk menyingkirkan serangan jantung yang sedang berlangsung.
Empat angka dalam profil lipid memiliki fungsi berbeda
Profil lipid rutin mencakup kolesterol total, LDL-C, HDL-C, dan trigliserida. LDL membawa kolesterol dalam partikel yang berperan dalam pembentukan plak arteri. HDL dipakai sebagai parameter tambahan untuk memperkirakan risiko, bukan sasaran terapi penurun lipid menurut panduan PERKI.
Trigliserida juga diukur langsung, tetapi bukan target utama terapi dalam panduan tersebut. Kolesterol non-HDL dihitung dengan mengurangi HDL-C dari kolesterol total. Nilai ini menjadi target sekunder, terutama saat trigliserida tinggi atau komposisi partikel lipid perlu dinilai lebih lengkap.
Hasil LDL juga dipengaruhi metode pemeriksaan. Panduan PERKI menjelaskan bahwa rumus Friedewald kurang akurat saat trigliserida melebihi 400 mg/dL atau LDL-C berada sangat rendah. Dokter bisa mempertimbangkan pengukuran LDL langsung dalam keadaan itu.
Target LDL turun ketika risiko meningkat
PERKI menetapkan target LDL-C di bawah 116 mg/dL untuk risiko rendah dan di bawah 100 mg/dL untuk risiko menengah. Kelompok berisiko tinggi ditargetkan menurunkan LDL-C sedikitnya 50 persen dari nilai sebelum terapi. Angka akhirnya ditetapkan di bawah 70 mg/dL.
Pada risiko sangat tinggi, targetnya juga mencakup penurunan sedikitnya 50 persen, dengan angka akhir di bawah 55 mg/dL. Kelompok ini antara lain mencakup penyakit kardiovaskular aterosklerotik yang sudah terbukti. Diabetes dengan kerusakan organ target dan penyakit ginjal kronik berat juga masuk dalam kategori tersebut.
Risiko tinggi mencakup beberapa keadaan yang berbeda. Contohnya ialah LDL-C di atas 190 mg/dL, diabetes berdurasi panjang atau disertai faktor risiko lain, serta penyakit ginjal kronik sedang. Dokter juga bisa menghitung risiko kejadian kardiovaskular selama sepuluh tahun dengan bagan risiko WHO yang dipakai PERKI.
Rentang rujukan tidak sama dengan target terapi
Rentang rujukan laboratorium menggambarkan batas yang dipakai fasilitas pemeriksaan untuk membaca hasil. Target terapi menjawab pertanyaan berbeda: seberapa rendah LDL perlu diturunkan sesuai risiko klinis. Dua angka itu tidak selalu sama, sehingga label “normal” tidak menutup penilaian lebih lanjut.
Riwayat penyakit dan obat rutin perlu dibaca bersama hasil laboratorium. Usia, tekanan darah, kebiasaan merokok, diabetes, fungsi ginjal, dan kejadian kardiovaskular sebelumnya memengaruhi pengelompokan risiko. Satu hasil LDL tanpa konteks tersebut belum cukup untuk memilih terapi.
Kemenkes menjelaskan bahwa dislipidemia bisa berlangsung tanpa gejala dan pemeriksaan lebih dini dipertimbangkan pada orang dengan faktor risiko. Faktor itu mencakup diabetes, hipertensi, penyakit ginjal kronik, merokok, serta riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Jadwal pemeriksaan kemudian disesuaikan dengan usia dan keadaan klinis.
Perubahan gaya hidup berlaku pada semua tingkat risiko
Panduan PERKI menempatkan pola makan, aktivitas fisik, berat badan, dan penghentian kebiasaan merokok sebagai bagian tata laksana. Lemak jenuh dan lemak trans cenderung menaikkan LDL-C. Serat larut dari kacang-kacangan, sayuran, buah, dan serealia berkaitan dengan penurunan LDL-C.
Perubahan gaya hidup tidak berarti obat selalu ditunda. Pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik dan LDL di atas target memerlukan terapi obat bersama perubahan gaya hidup menurut PERKI. Pada sebagian kelompok pencegahan primer berisiko rendah atau menengah, perubahan gaya hidup bisa dicoba sebelum keputusan obat dibuat.
Statin menjadi obat pertama dalam urutan terapi panduan tersebut, kecuali ada kontraindikasi atau obat tidak ditoleransi. Obat lain dipertimbangkan bila target belum tercapai setelah penilaian dokter. Jenis, intensitas, dan pemantauan terapi tidak ditentukan dari satu hasil pemeriksaan mandiri.
Angkak mengandung senyawa yang bekerja seperti statin
Angkak atau red yeast rice bisa mengandung monacolin K, senyawa yang secara struktur identik dengan lovastatin. National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) melaporkan kandungan monacolin K berbeda lebar antarproduk. Label produk juga tidak selalu memberi informasi yang cukup untuk membandingkan kandungannya.
Produk dengan monacolin K dalam jumlah bermakna membawa potensi efek samping dan interaksi sejenis statin. NCCIH mencantumkan risiko pada otot, hati, dan ginjal, serta kemungkinan cemaran citrinin yang merusak ginjal. Keamanan pada kehamilan dan menyusui belum ditetapkan, sehingga NCCIH tidak merekomendasikan penggunaannya pada kedua kelompok tersebut.
Pengguna obat penurun lipid serta orang dengan penyakit hati atau ginjal memerlukan penilaian dokter atau apoteker sebelum memakai suplemen. Penilaian juga diperlukan pada kehamilan, menyusui, dan terapi jangka panjang. Prinsip yang sama berlaku bagi anak karena target dewasa dan data produk tidak diterapkan langsung pada kelompok usia tersebut. Suplemen tidak menggantikan obat yang diresepkan untuk mencapai target LDL.
Izin edar tidak membuat semua klaim suplemen setara
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mensyaratkan klaim suplemen kesehatan bersifat objektif, lengkap, tidak menyesatkan, dan didukung bukti sesuai jenis klaim. Data uji klinis suatu produk tidak boleh langsung diterapkan pada produk lain meskipun sejenis. Klaim pada kemasan karena itu perlu dibaca sebagai klaim produk yang terdaftar, bukan bukti bagi semua angkak.
Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen BPOM yang menetapkan satu kandungan monacolin K seragam untuk semua produk angkak di Indonesia. Kesenjangan informasi ini membuat perbandingan produk berdasarkan nama bahan saja tidak memadai. Status izin edar, komposisi, peringatan label, dan kemungkinan interaksi perlu diperiksa untuk produk yang bersangkutan.
Membaca hasil dimulai dari risiko, bukan warna pada laporan
Hasil profil lipid sebaiknya dibawa bersama daftar obat, riwayat keluarga, dan catatan penyakit terdahulu. Dokter kemudian menentukan kategori risiko, target LDL, serta kebutuhan pemeriksaan lain. Penilaian itu juga membedakan perubahan gaya hidup saja dari keadaan yang memerlukan obat.
Angka LDL di bawah 116 mg/dL bukan target universal. Batas 100, 70, atau 55 mg/dL digunakan untuk kelompok risiko yang berbeda dalam panduan PERKI. Makna hasil laboratorium baru menjadi jelas setelah sasaran pribadi ditempatkan dalam stratifikasi risiko yang tepat.
Sumber dan rujukan
- Panduan Tata Laksana Dislipidemia 2022(Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia)Stratifikasi risiko, target LDL-C, pemeriksaan profil lipid, perubahan gaya hidup, dan urutan terapi.
- Skrining Dislipidemia, Apa Pentingnya?(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)Dislipidemia bisa berlangsung tanpa gejala dan pemeriksaan lebih dini dipertimbangkan bila ada faktor risiko.
- Tanda-tanda Serangan Jantung dan Langkah Penanganan yang Tepat(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)Tanda serangan jantung yang memerlukan pertolongan segera.
- PSC 119(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)Layanan cepat tanggap darurat kesehatan Indonesia.
- Layanan Direktorat Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik(Badan Pengawas Obat dan Makanan)Ketentuan klaim dan registrasi suplemen kesehatan.
- Red Yeast Rice(National Center for Complementary and Integrative Health)Variasi monacolin K, efek samping, interaksi, dan risiko cemaran citrinin.