Hipotermia terjadi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius dan termasuk kegawatdaruratan medis. Paparan tidak terbatas pada negara bersalju; hujan, pakaian basah, angin, air dingin, dan malam di dataran tinggi juga membuang panas tubuh. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu 1 derajat Celsius di Dataran Tinggi Dieng pada 7 Juli 2024. Risiko di Indonesia juga muncul pada penyintas banjir, penolong, pendaki, pekerja luar ruang, bayi, dan orang lanjut usia.

Tubuh mula-mula menggigil untuk menghasilkan panas, tetapi kemampuan itu bisa hilang saat kondisi memburuk. Bicara pelo, tangan tidak terkoordinasi, kantuk, dan kebingungan menunjukkan fungsi otak mulai terganggu. Korban mungkin tidak menyadari bahayanya atau tidak mampu berpindah sendiri. Pertolongan awal bertujuan menghentikan kehilangan panas sambil memperoleh bantuan medis.

Perubahan kesadaran dan pernapasan adalah tanda bahaya

Kebingungan, disorientasi, sulit dibangunkan, atau hilang kesadaran memerlukan pertolongan medis segera. Napas yang lambat, lemah, atau tidak normal juga tidak boleh dipantau di rumah. Menggigil yang kemudian berhenti bukan tanda pulih, melainkan salah satu tanda keadaan memburuk. Suhu tubuh yang rendah atau korban yang tidak responsif memerlukan layanan gawat darurat melalui bantuan setempat.

Panduan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta korban segera dikirim ke rumah sakit bila mengalami kebingungan, disorientasi, atau hilang kesadaran. Panduan itu juga mencantumkan menggigil hebat atau tubuh sangat dingin. Jalan napas perlu dijaga selama pemindahan. Bila korban tidak responsif dan tidak bernapas normal, bantuan darurat dipanggil dan bantuan hidup dasar diberikan oleh orang yang terlatih. Penanganan tetap diteruskan sampai tenaga medis mengambil alih.

Korban hipotermia dibungkus dengan selimut kering (ilustrasi)

Tiga langkah awal menghentikan kehilangan panas

Korban dipindahkan dari hujan, angin, air, atau permukaan dingin menuju tempat yang kering dan terlindung. Pakaian basah dilepas, lalu diganti dengan pakaian kering bila tersedia. Tubuh, termasuk kepala dan leher, dibungkus memakai selimut, kantong tidur, handuk, atau lapisan kain kering. CDC meminta korban hipotermia berat ditangani dengan gerakan lembut sambil bantuan darurat dicari.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan pemindahan ke tempat kering, pelepasan pakaian basah, dan pembungkusan kepala serta tubuh sebagai pertolongan awal setelah paparan banjir. Orang yang sepenuhnya sadar dan mampu menelan boleh menerima minuman hangat tanpa alkohol atau kafein. Cairan dan makanan tidak diberikan bila kesadaran menurun atau proses menelan terganggu. Korban tetap ditemani dan kesadarannya dipantau sampai bantuan tiba.

Dua penolong memindahkan korban secara perlahan (ilustrasi)

Panas langsung dan alkohol menambah risiko

Pemanasan tidak dimulai dengan mandi air panas, lampu pemanas, atau botol air panas yang ditempelkan langsung ke kulit. Lengan, tungkai, tangan, dan kaki juga tidak digosok. National Health Service (NHS) memperingatkan bahwa cara-cara tersebut bisa memperburuk keadaan. Lapisan kering dan perlindungan dari angin menjadi pilihan awal ketika bantuan medis sedang menuju lokasi.

Alkohol tidak dipakai untuk menghangatkan korban. Rasa hangat pada kulit tidak sama dengan pulihnya suhu inti, sedangkan alkohol meningkatkan kehilangan panas dan mengganggu penilaian. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) melarang minuman beralkohol serta hanya membolehkan minuman hangat bagi korban yang sadar. Larangan ini juga berlaku ketika hipotermia terjadi setelah hujan, perendaman air, atau kegiatan malam di pegunungan.

Minuman beralkohol di lingkungan luar ruang yang dingin sebagai tindakan keliru (ilustrasi)

Bayi dan lansia bisa menunjukkan tanda berbeda

Bayi mungkin tidak menggigil seperti orang dewasa. Kulit terasa dingin, tubuh lemas, aktivitas menurun, kantuk tidak biasa, atau menolak minum menjadi alasan mencari pertolongan medis. WHO mencantumkan tubuh lemas, tidak banyak bergerak, mengantuk, dan menolak menyusu sebagai tanda pada bayi. Bayi tetap dikeringkan dan dibungkus sambil menunggu penilaian tenaga kesehatan, tanpa pemberian minuman secara paksa.

Orang lanjut usia juga menghadapi risiko lebih tinggi, terutama bila asupan, pakaian, atau pemanas ruang tidak memadai. CDC memasukkan bayi, lansia, orang yang lama berada di luar ruang, dan pengguna alkohol sebagai kelompok yang lebih sering mengalami hipotermia. Penyakit dasar atau obat tertentu bisa mengubah respons tubuh dan pilihan penanganan. Riwayat penyakit serta daftar obat perlu disampaikan kepada tenaga kesehatan yang menerima pasien.

Orang lanjut usia mengenakan pakaian hangat di dalam rumah (ilustrasi)

Pedoman Indonesia belum merinci semua kelompok

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan pedoman resmi Indonesia yang merinci langkah rumah berbeda bagi ibu hamil. Kesenjangan yang sama berlaku bagi pasien penyakit kronis dan pengguna obat jangka panjang. Langkah dasar tetap dibatasi pada menghentikan paparan dingin, mengganti pakaian basah, menyelimuti, memantau kesadaran, dan mencari bantuan medis. Pilihan minuman, obat, atau pemanasan aktif tidak disamakan untuk seluruh kelompok. Penilaian tenaga kesehatan diperlukan lebih awal ketika kondisi dasar, kehamilan, atau obat rutin ikut memengaruhi risiko.

Panduan Kemenkes yang ditemukan disusun untuk konteks banjir dan memberi langkah pertolongan awal, bukan protokol klinis lengkap untuk semua penyebab hipotermia. Pengukuran suhu kulit juga tidak selalu mencerminkan suhu inti. Oksigen, cairan infus hangat, pemantauan jantung, dan metode pemanasan aktif berada dalam lingkup fasilitas kesehatan. Batas utamanya jelas: perubahan kesadaran, pernapasan tidak normal, atau suhu tubuh yang tetap rendah memerlukan penanganan segera.