Perubahan kemampuan lansia sering terlihat saat berjalan, mengingat jadwal, makan, mendengar percakapan, atau membaca. Perawatan terpadu untuk lansia (Integrated Care for Older People/ICOPE) menilai perubahan itu sebagai bagian dari kapasitas intrinsik. Indonesia memasukkan pendekatan ini ke Skrining Lansia Sederhana (SKILAS) dalam layanan primer. Hasil awal berfungsi sebagai penanda untuk asesmen berikutnya, bukan penetapan diagnosis.

Kapasitas intrinsik adalah gabungan kemampuan fisik dan mental yang tersedia bagi seseorang. Ranahnya mencakup kognisi, mobilitas, vitalitas, penglihatan, pendengaran, dan kondisi psikologis. Penurunan pada satu ranah bisa memengaruhi kegiatan lain, termasuk makan, berkomunikasi, dan keluar rumah. Penilaian fungsi melengkapi pemeriksaan penyakit serta hasil laboratorium.

SKILAS menempatkan ICOPE di Puskesmas dan Posyandu

Kepmenkes No. HK.01.07/Menkes/2015/2023 menetapkan SKILAS dalam skrining geriatri bagi warga berusia 60 tahun ke atas. Pelaksanaannya berada di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), Puskesmas Pembantu (Pustu), dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Pedoman menetapkan frekuensi minimal satu kali setahun. Skrining berlangsung saat lansia pertama kali berkontak dengan tenaga kesehatan atau kader dalam kunjungan terkait.

SKILAS bukan formulir untuk menetapkan penyakit secara mandiri. Pertanyaan singkat dan tes sederhana mencari tanda yang perlu diperiksa lebih rinci. Satu atau lebih tanda penurunan mengarahkan tenaga kesehatan ke asesmen lanjutan sesuai ranah terkait. Hasil tanpa tanda juga hanya menggambarkan fungsi yang diperiksa pada waktu tersebut.

Perubahan mendadak tidak menunggu skrining terjadwal

Skrining fungsi terjadwal tidak ditujukan untuk keadaan gawat. Wajah tiba-tiba tidak simetris, kelemahan separuh tubuh, bicara pelo, atau kebas satu sisi memerlukan penanganan segera. Penglihatan mendadak kabur dan sakit kepala hebat yang belum pernah dialami juga termasuk tanda bahaya. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta orang dengan tanda tersebut segera dibawa ke rumah sakit.

Perubahan yang muncul perlahan memiliki jalur berbeda dari gangguan mendadak. Perubahan bertahap perlu dinilai bila mulai mengganggu makan, mandi, berjalan, atau pengelolaan obat. Hasil skrining lama tidak menjelaskan penyebab gejala baru. Tenaga kesehatan menentukan pemeriksaan berdasarkan waktu muncul, tingkat gangguan, dan gejala penyerta.

Enam ranah menilai fungsi sehari-hari dari sudut berbeda

SKILAS menerjemahkan kapasitas intrinsik menjadi pertanyaan dan tes singkat. Formulir Indonesia memisahkan penglihatan dan pendengaran, sehingga terdapat enam ranah praktis. Contoh dalam tabel adalah penanda awal dari pedoman, bukan kriteria diagnosis.

Ranah Contoh yang diperiksa dalam SKILAS Penilaian lanjutan di Puskesmas
Kognisi Mengingat tiga kata, mengenali waktu dan tempat, lalu mengulang kata Tes kognisi Mini-Cog atau tes mental singkat (Abbreviated Mental Test/AMT)
Mobilitas Berdiri dari kursi lima kali tanpa tangan dalam 14 detik Rangkaian tes performa fisik (Short Physical Performance Battery/SPPB)
Nutrisi Berat turun lebih dari 3 kilogram dalam tiga bulan, nafsu makan, kesulitan makan, atau lingkar lengan atas Asesmen gizi singkat (Mini Nutritional Assessment Short Form/MNA-SF)
Penglihatan Kesulitan melihat jauh, membaca, atau mengenali hitungan jari Bagan mata sederhana
Pendengaran Kemampuan mendengar dalam tes bisik Tes bisik atau garpu tala
Psikologis Kesedihan, putus asa, atau hilangnya minat selama dua minggu terakhir Skala depresi geriatri empat butir (Geriatric Depression Scale/GDS-4)

Pertanyaan kognisi memeriksa ingatan singkat dan orientasi, tetapi satu jawaban salah belum menetapkan demensia. Tes berdiri melihat mobilitas, bukan penyebab kelemahan atau gangguan keseimbangan. Penurunan berat badan dan sulit makan memicu penilaian nutrisi serta penyebab klinis. Keluhan penglihatan, pendengaran, atau suasana hati juga memerlukan konfirmasi dengan alat yang sesuai.

Infografik enam kartu yang menampilkan tanda pada kognisi, mobilitas, nutrisi, penglihatan, pendengaran, dan suasana hati

Hasil awal tidak sama dengan diagnosis

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan panduan ICOPE edisi kedua pada 2025 untuk layanan primer dan komunitas. Jalurnya mencakup asesmen dasar, asesmen mendalam, rencana perawatan personal, serta pelaksanaan dan pemantauan. Setiap daerah perlu menyesuaikan jalur praktis dengan layanan dan dukungan sosial setempat. Skrining menjadi pintu masuk, sedangkan rencana perawatan lahir setelah kebutuhan dan preferensi lansia dinilai.

Studi potong lintang 2023 menilai alat ICOPE pada 228 lansia berusia sedikitnya 75 tahun di satu komunitas Beijing, Tiongkok. Sensitivitasnya tercatat 94,6 persen, sedangkan spesifisitasnya 62,3 persen. Kinerja tiap ranah berbeda, dan sensitivitas ranah vitalitas hanya 51,3 persen. Sampel satu pusat tersebut tidak mewakili keragaman lansia Indonesia.

Studi itu menguji kemampuan alat menemukan penurunan, bukan dampak program terhadap disabilitas jangka panjang. Hasil positif palsu dan negatif palsu tetap mungkin terjadi. Kondisi saat tes, gangguan pendengaran terhadap instruksi, serta bantuan orang lain bisa memengaruhi jawaban. Riwayat kesehatan dan fungsi harian tetap menjadi bagian asesmen.

Satu tanda mengaktifkan pemeriksaan lanjutan

Pedoman Kemenkes mengarahkan temuan SKILAS ke alat yang lebih khusus. Kognisi dinilai dengan Mini-Cog atau AMT, sedangkan mobilitas memakai SPPB. Ranah nutrisi, suasana hati, penglihatan, dan pendengaran memiliki instrumen lanjutan masing-masing. Hasil meragukan atau masalah di luar kemampuan Puskesmas masuk ke jalur rujukan rumah sakit.

Posyandu berperan pada penemuan awal bersama kader, sementara Pustu dan Puskesmas menjalankan pemeriksaan berikutnya. Penilaian aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS/ADL) berjalan bersama SKILAS untuk melihat tingkat kemandirian. Pedoman juga membuka perawatan di rumah bagi lansia dengan ketergantungan sedang hingga total. Rangkaian ini memisahkan penemuan tanda, konfirmasi, penentuan kebutuhan, rujukan, dan pemantauan.

Bagan alur dari temuan SKILAS menuju asesmen tenaga kesehatan, rujukan, intervensi, dan pemantauan

Catatan keluarga melengkapi jawaban lansia

Informasi tentang waktu muncul, frekuensi, dan dampak perubahan membantu asesmen lanjutan. Jawaban lansia mencatat pengalaman pribadi, sedangkan keluarga bisa menambahkan perubahan dalam kegiatan sehari-hari. Perbedaan kedua pengamatan perlu disimpan sebagai informasi, bukan dipaksa menjadi satu jawaban. Tenaga kesehatan lalu menilai riwayat, pemeriksaan, obat, lingkungan rumah, dan dukungan yang tersedia.

SKILAS dalam pedoman ditujukan bagi warga berusia 60 tahun ke atas. Alat ini tidak menggantikan penilaian khusus untuk anak atau ibu hamil. Lansia dengan penyakit kronis, obat jangka panjang, riwayat rawat inap terbaru, atau ketergantungan memerlukan penilaian sesuai kondisi masing-masing. Hasil skrining tidak menjadi dasar untuk menghentikan obat atau mengubah dosis.

Lima langkah yang menunjukkan pencatatan perubahan, konteks penilaian, informasi obat, layanan setempat, dan jadwal pemantauan

Data tindak lanjut nasional belum terlihat

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan laporan nasional yang memuat cakupan SKILAS, penyelesaian rujukan, dan hasil tindak lanjut di Indonesia. Pedoman menjelaskan lokasi, instrumen, dan alur, tetapi belum menunjukkan hasil pelaksanaan secara nasional. Ketersediaan tenaga terlatih, alat, transportasi, dan rumah sakit rujukan juga berbeda antardaerah. Perbedaan itu membatasi penggunaan satu angka nasional untuk menilai akses setiap warga.

Jumlah formulir yang selesai belum menunjukkan apakah fungsi lansia membaik atau kebutuhan dukungan terpenuhi. Evaluasi layanan memerlukan data asesmen lanjutan, waktu tunggu, penyelesaian rujukan, pelaksanaan rencana perawatan, dan perubahan fungsi. Bukti penelitian dari negara lain membantu membaca akurasi alat, tetapi tidak menggantikan validasi serta data pelaksanaan Indonesia. Posisi SKILAS tetap sebagai pintu menuju layanan berkelanjutan, bukan hasil akhir pemeriksaan.