Sepuluh dari 16 singa di Kebun Binatang Tama (Tama Zoological Park), Tokyo, memerlukan perawatan setelah kondisi mereka menurun pada pertengahan Juli 2026. Tiga singa betina kemudian mati dalam rentang enam hari. Pengelola menduga panas mendadak memengaruhi kondisi kawanan, tetapi penyebab kematian akhir masih diperiksa. Pameran singa dan layanan bus di area tersebut dihentikan sementara.

Kematian itu terjadi ketika cuaca panas juga menekan penduduk Jepang. Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang mencatat ribuan pengangkutan pasien terkait panas dalam pekan yang beririsan dengan kematian ketiga singa. Namun, statistik manusia tidak menjelaskan penyebab gangguan pada satwa. Temuan klinis dan hasil pemeriksaan kebun binatang menjadi dasar utama untuk menilai kejadian di Tama.

Sepuluh singa dirawat dalam lima hari

Gejala berupa kehilangan nafsu makan dan penurunan aktivitas pertama kali terlihat pada dua singa pada 18 Juli. Jumlah singa yang membutuhkan perawatan bertambah menjadi 10 ekor pada 22 Juli. Sebagian pulih setelah penanganan awal, sedangkan beberapa lainnya tidak mampu berdiri atau kehilangan kesadaran. Kebun binatang menghentikan pameran singa mulai 23 Juli untuk memprioritaskan perawatan.

Mugi, singa betina berusia 3 tahun, mati pada 28 Juli. Ichigo yang berusia 11 tahun menyusul pada 31 Juli, lalu Luena yang berusia 15 tahun pada 2 Agustus. Nekropsi menemukan dehidrasi di seluruh tubuh dan kegagalan multiorgan pada ketiganya. Pengelola menilai panas turut berpengaruh, tetapi pengumuman resmi 3 Agustus masih mencatat penyebab kematian dalam penyelidikan.

Pendinginan dan perawatan diperkuat

Petugas mendinginkan tubuh singa dengan penyiraman dan aliran udara. Singa yang sakit juga menerima cairan infus dan obat sesuai kebutuhan perawatan veteriner. Pada 3 Agustus, tiga singa masih dirawat, empat telah pulih atau menunjukkan perbaikan, dan enam tidak mengalami gangguan sejak awal. Seluruh singa ditempatkan di kandang tertutup untuk pemantauan.

Pengelola menambah pendingin setempat dan kipas industri di kandang singa. Area pameran luar juga akan mendapat penguatan pengendalian panas sebagai langkah pencegahan berulang. Jadwal pembukaan kembali belum ditetapkan karena kondisi satwa menjadi pertimbangan utama. Jumlah singa yang tercatat di Tama turun menjadi 13 ekor setelah tiga kematian tersebut.

Termometer berdiri di tanah berpasir di bawah terik matahari (ilustrasi)

Gelombang panas melampaui lingkungan kebun binatang

Sebanyak 9.180 orang diangkut ambulans karena kondisi terkait panas di seluruh Jepang pada 27 Juli hingga 2 Agustus 2026. Periode itu mencakup tanggal kematian Mugi, Ichigo, dan Luena. Angka tersebut bersifat nasional dan tidak membuktikan hubungan medis dengan kematian singa. Data itu memberi konteks tentang luasnya tekanan panas pada pekan kejadian.

Insiden Tama belum menghasilkan kesimpulan umum tentang kesiapan seluruh kebun binatang menghadapi cuaca ekstrem. Kondisi kandang, ventilasi, kesehatan satwa, dan prosedur perawatan berbeda di setiap tempat. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia yang menilai implikasinya bagi pengelolaan singa di kebun binatang Indonesia. Pemeriksaan akhir di Tama diperlukan sebelum penyebab kematian dinyatakan pasti.