Otoritas Republik Demokratik Kongo mencatat sekitar 4.200 kasus Ebola Bundibugyo dan lebih dari 1.900 kematian hingga 8 Agustus 2026. Wabah yang diumumkan pada 15 Mei itu berpusat di Provinsi Ituri, wilayah timur negara tersebut. Laju penularannya telah melampaui kapasitas pelacakan kontak. Belum ada vaksin khusus yang disetujui untuk virus penyebab wabah ini.

Wabah tersebut merupakan penyakit akibat virus Bundibugyo (Bundibugyo virus disease/BVD), salah satu penyebab penyakit Ebola. Jenis ini berbeda dari virus Ebola yang menjadi sasaran vaksin berlisensi Ervebo. Perbedaan itu menentukan pilihan vaksin dan terapi yang tersedia bagi petugas respons. Status darurat internasional juga tidak berarti risiko yang sama berlaku di setiap negara.

Kapal dekat Kinshasa tidak menghasilkan kasus baru

Sebuah kapal penumpang dikarantina di Pelabuhan Maluku, sekitar 65 kilometer dari Kinshasa, setelah seorang mantan penumpang meninggal dengan gejala menyerupai Ebola. Lebih dari 200 orang di kapal diperiksa, sementara penumpang bergejala menjalani pengambilan sampel. Institut Nasional Penelitian Biomedis Kongo kemudian menyatakan seluruh kasus yang dicurigai pada kapal itu negatif untuk virus Bundibugyo. Kapal tersebut juga didekontaminasi sebelum otoritas mengumumkan hasilnya.

Hasil negatif itu meredakan kekhawatiran mengenai masuknya virus ke Kinshasa melalui kapal tersebut. Namun, perjalanan sungai menunjukkan besarnya jarak yang bisa ditempuh seseorang sebelum hasil pemeriksaan tersedia. Mantan penumpang itu turun di Pimu, Provinsi Mongala, lebih dari 1.000 kilometer dari Kinshasa. Hingga pengumuman hasil laboratorium, belum ada kasus terkonfirmasi di ibu kota.

Petugas kesehatan menunjukkan kartu informasi pencegahan penyakit kepada warga (ilustrasi)
Pelacakan kontak dan komunikasi dengan warga menjadi bagian utama respons Ebola di tingkat komunitas (ilustrasi).

Vaksin Ebola yang tersedia tidak ditujukan untuk Bundibugyo

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan belum ada vaksin berlisensi atau terapi khusus yang disetujui untuk BVD. Penanganan wabah bertumpu pada penemuan kasus, pemeriksaan laboratorium, isolasi, perawatan suportif, pemakaman aman, dan pelibatan komunitas. WHO juga telah mengumpulkan kelompok penasihat teknis untuk menilai kandidat vaksin dan obat. Uji klinis tetap dibutuhkan sebelum kandidat tersebut dipakai sebagai standar penanganan.

Ervebo berlisensi untuk penyakit yang disebabkan oleh virus Ebola, bukan virus Bundibugyo. Pedoman darurat WHO meninjau bukti praklinis, respons imun, serta pertimbangan etik mengenai kemungkinan perlindungan silang Ervebo terhadap Bundibugyo. Kajian itu tidak sama dengan persetujuan vaksin khusus BVD. Karena itu, ketersediaan vaksin Ebola tidak otomatis menutup kesenjangan pada wabah kali ini.

Kasus di luar daftar kontak memperlemah pengendalian

Africa CDC melaporkan 60 hingga 70 persen kasus baru berasal dari luar daftar kontak yang sedang dipantau. WHO pada awal Agustus memantau lebih dari 17.000 kontak, tetapi hanya hampir 80 persen yang ditemui setiap hari. Kesenjangan tersebut membuka ruang bagi rantai penularan yang belum dikenali. Konflik bersenjata, perpindahan penduduk, dan ketidakpercayaan warga turut menghambat akses tim kesehatan.

Tekanan juga terjadi pada tenaga kesehatan di Ituri. Lebih dari 100 petugas dilaporkan terinfeksi sejak wabah bermula. Sebagian tenaga kesehatan melakukan mogok karena gaji belum dibayar, ketika hampir 90 persen kasus nasional terkonsentrasi di Ituri. Gangguan tenaga kerja mempersempit kapasitas perawatan dan penyelidikan lapangan.

Risiko global dinilai rendah, Indonesia tetap memantau

WHO menilai risiko di Republik Demokratik Kongo sangat tinggi dan risiko di Uganda tinggi. Negara yang berbatasan darat dengan wilayah terdampak juga menghadapi risiko tinggi. Risiko bagi wilayah Afrika lainnya dan tingkat global dinilai rendah dalam pembaruan Juli 2026. WHO tidak menganjurkan pembatasan perjalanan atau perdagangan terhadap Kongo dan Uganda berdasarkan informasi saat itu.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) memasukkan wabah Ebola Bundibugyo dalam laporan pemantauan penyakit infeksi emerging pada Juni 2026. Laporan itu mencatat risiko global rendah serta risiko lebih tinggi bagi Kongo, Uganda, dan negara yang berbatasan darat. Namun, publikasi tersebut belum memuat lonjakan kasus pada Agustus. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan penilaian risiko khusus Indonesia yang lebih baru dari Kemenkes.