Hingga 4 September 2026, tujuh warga Australia telah ditemukan selamat dan 36 lainnya belum ditemukan setelah banjir Nepal–Tibet. Dua orang yang baru terhubung menyatakan tidak memerlukan bantuan konsuler. Daftar 36 orang itu masih berubah ketika keluarga dan petugas memperoleh kabar baru. Status belum ditemukan bukan konfirmasi kematian.

Kementerian Luar Negeri Nepal mencatat 1.287 jenazah ditemukan, sekitar 5.083 orang belum ditemukan, dan 13.093 orang diselamatkan pada 4 September. Jumlah itu mencakup lebih dari 300 warga asing yang diselamatkan. Sekitar 600 warga asing dari 35 negara masih belum ditemukan. Pemerintah menyebut angka tersebut terus diperbarui selama pencarian dan verifikasi.

Pada 29 Agustus, Kementerian Luar Negeri Nepal masih mencatat 626 jenazah, sekitar 2.400 orang belum ditemukan, dan lebih dari 4.450 orang diselamatkan. Angka lama itu menunjukkan besarnya perubahan dalam enam hari berikutnya. Orang yang belum ditemukan belum tentu telah meninggal.

Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Penanggulangan Bencana Nepal (National Disaster Risk Reduction and Management Authority/NDRRMA) mencatat 2.426 orang belum ditemukan dan 4.451 orang diselamatkan. Pembaruan itu juga mencatat 101 korban dirawat di rumah sakit dan 15.224 personel keamanan dikerahkan. Paparan kementerian memakai angka sekitar 2.400, sedangkan pembaruan NDRRMA memakai angka 2.426. Kedua sumber menyebut angka itu masih bisa berubah.

Arus membawa korban jauh ke hilir

Banjir menerjang Timure dan Syaphrubesi di Rasuwa, dekat perbatasan Nepal–Tiongkok, sebelum masuk ke sistem Sungai Trishuli. Arus membawa air, lumpur, manusia, kendaraan, dan puing menuju daerah hilir. Tim pencari kemudian menyisir Nuwakot, Dhading, Gorkha, Tanahun, Chitwan, dan Nawalparasi. Operasi pencarian pun meluas dari lembah perbatasan ke permukiman di hilir.

Dalam rekap polisi pukul 06.00 waktu Nepal (UTC+5:45) pada 29 Agustus, 233 dari 616 jenazah ditemukan di Chitwan; 13 ditemukan di Rasuwa. Perbandingan itu menunjukkan lokasi penemuan tidak selalu sama dengan lokasi ketika korban terseret. Polisi memotret jenazah, mengambil sidik jari, melakukan pemeriksaan pascakematian, dan mengumpulkan sampel DNA bila diperlukan. Sampel DNA dikirim ke dua laboratorium di Kathmandu untuk membantu identifikasi.

Penyebab dan ancaman banjir susulan belum pasti

Pemerintah Nepal belum menetapkan penyebab penuh banjir. Laporan tentang runtuhan gletser, pembentukan danau bendungan alami (barrier lake), dan pelepasan air dari hulu belum sepenuhnya selaras. Pemerintah Nepal belum mengonfirmasi bahwa danau bendungan alami atau bendungan besar telah jebol. Otoritas terus memantau Bhotekoshi, Trishuli, dan risiko aliran tambahan dari hulu.

Kerusakan jalan, jembatan, rumah, dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air menghambat akses menuju lokasi pencarian. Nepal meminta bantuan khusus untuk pencarian korban, analisis DNA cepat, penyimpanan jenazah, dan penyelamatan terowongan. Pada paparan 29 Agustus, tim peninjau teknis beranggotakan 11 orang dari India telah dikerahkan untuk penyelamatan terowongan. Paparan tersebut belum mengonfirmasi kedatangan tim serupa dari Tiongkok.

Bantuan luar negeri mencakup dukungan konsuler

Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) mengirim operator pesawat nirawak dalam tim bantuan tanggap bencana beranggotakan 15 orang. Tim tersebut menyiapkan pemetaan dan citra cepat untuk mendukung pencarian oleh otoritas Nepal. Australia juga menyediakan bantuan kemanusiaan senilai 11 juta dolar Australia melalui pasokan, logistik, dan mitra kemanusiaan.

Pemerintah Inggris menjadwalkan tim tanggap cepat (Rapid Deployment Team/RDT) tiba di Kathmandu pada 29 Agustus 2026. Tim itu mendukung warga Inggris dan keluarganya, termasuk urusan bandara serta pencarian informasi tentang kerabat yang hilang. Inggris juga mengumumkan bantuan kemanusiaan sebesar 5 juta pound sterling untuk tanggap darurat dan pemulihan. Paket itu akan mendukung intervensi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Palang Merah, dan organisasi nonpemerintah.

Bagaimana di Indonesia

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) melalui Safe Travel telah menerbitkan imbauan khusus tentang banjir di Nepal. Imbauan itu menyebut daerah aliran Bhote Koshi di Rasuwa, Dhading, Nuwakot, dan Trishuli sebagai wilayah terdampak. Warga negara Indonesia (WNI) di Nepal diminta menjauhi daerah bencana dan memantau informasi dari sumber tepercaya. Kelompok serta agen perjalanan diminta melaporkan lokasi dan kondisi WNI, terutama peserta perjalanan atau pendakian. Laporan itu ditujukan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dhaka.

Untuk keadaan darurat, imbauan tersebut mencantumkan nomor darurat KBRI Dhaka +880 1614 444 552 dan +880 1713 084 402. Nomor Konsul Kehormatan RI di Kathmandu adalah +977 980 1190 989. Portal Safe Travel juga menyediakan pendaftaran perjalanan luar negeri dan fitur Tombol Darurat pada aplikasi seluler. Kedua jalur itu membantu petugas konsuler mencocokkan laporan agen perjalanan dengan data pelancong. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi Indonesia yang memuat jumlah WNI terdampak banjir ini.

Daftar sementara Nepal pada 27 Agustus memuat 596 warga asing yang belum ditemukan dari 33 negara dan tidak mencantumkan Indonesia. Daftar tersebut lebih lama daripada pembaruan 4 September dan tetap berstatus sementara. Pemerintah Nepal membuka pusat kendali darurat bagi warga asing melalui +977 9744441227, +977 9744441228, dan emergency@mofa.gov.np. Pusat itu mengoordinasikan pencarian, verifikasi informasi, dan bantuan konsuler bagi warga asing yang terkait dengan banjir.