Pangan yang diproses tidak otomatis buruk, sedangkan label “alami” tidak otomatis membuat produk lebih sehat. Sayuran beku, susu pasteurisasi, tempe, dan ikan kaleng melewati proses dengan tujuan yang berlainan. NOVA memisahkan pangan menurut tingkat serta tujuan pengolahan industri. Kerangka ini membantu membaca pola makan, tetapi tidak menggantikan informasi gizi atau penilaian klinis.

Empat kelompok NOVA membedakan tujuan pengolahan

Tim Carlos Monteiro menjelaskan bahwa NOVA membagi pangan menurut tingkat dan tujuan pengolahan industri. Kelompok pertama mencakup bahan tanpa proses atau dengan proses minimal, seperti beras, sayur, telur, dan susu. Kelompok kedua berisi bahan untuk memasak, antara lain minyak, gula, dan garam. Kelompok ketiga mencakup pangan olahan sederhana, sedangkan kelompok keempat berisi formulasi industri ultra-proses.

Minuman ringan, makanan ringan kemasan, mi instan, dan hidangan siap santap sering masuk kelompok keempat. Penanda praktisnya ialah bahan yang jarang dipakai di dapur, seperti protein terhidrolisis atau minyak terhidrogenasi. Perisa, penguat rasa, pemanis, pewarna, dan pengemulsi juga bisa menjadi petunjuk. Namun, satu bahan tambahan tidak menjelaskan seluruh mutu gizi sebuah produk.

Keluhan akut tidak dinilai dengan klasifikasi pangan

NOVA tidak dipakai untuk menentukan penyebab nyeri dada, sesak, pusing, atau keluhan lain pada seseorang. Kementerian Kesehatan menyebut tekanan atau nyeri dada selama beberapa menit, terutama bersama sesak, keringat dingin, mual, atau pusing, memerlukan bantuan medis segera. Nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, leher, atau rahang juga termasuk tanda peringatan. Perubahan menu tidak boleh menunda pemeriksaan untuk gejala tersebut.

Anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan diabetes, penyakit ginjal, atau penyakit jantung memerlukan penilaian tersendiri sebelum pembatasan besar dilakukan. Kebutuhan energi, obat rutin, kemampuan makan, dan risiko kekurangan gizi mereka tidak sama. Produk khusus atau diet sangat ketat juga bukan pengganti terapi yang telah ditetapkan. Dokter atau dietisien perlu menilai perubahan yang berpotensi mengganggu pengobatan maupun kecukupan gizi.

Rak toko berisi biskuit, keripik, dan mi instan dalam kemasan (ilustrasi)

Ulasan besar menemukan hubungan, bukan satu penyebab

Ulasan payung yang terbit di BMJ pada 2024 merangkum 45 analisis gabungan dengan 9.888.373 peserta. Paparan pangan ultra-proses yang lebih tinggi berhubungan langsung dengan 32 dari 45 luaran kesehatan. Hubungan terkuat terlihat pada kematian terkait penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, serta beberapa luaran kesehatan mental. Angka tersebut tidak berarti 32 penyakit pasti disebabkan oleh pangan ultra-proses.

Hampir seluruh data dalam ulasan itu berasal dari penelitian observasional. Cara mengukur makanan berbeda antarstudi, dan kebiasaan lain pada peserta belum tentu tersaring seluruhnya. Penulis juga menemukan variasi mutu bukti: empat analisis dinilai moderat, 22 rendah, dan 19 sangat rendah menurut GRADE. Karena itu, besar hubungan statistik tidak boleh dibaca terpisah dari mutu buktinya.

Uji rawat inap memberi petunjuk tentang asupan energi

Uji terkontrol pada 20 orang dewasa membandingkan dua minggu pola makan ultra-proses dengan dua minggu pola makan tanpa ultra-proses. Makanan disediakan selama peserta tinggal di fasilitas penelitian dan mereka boleh makan sebanyak yang diinginkan. Pada fase ultra-proses, asupan rata-rata bertambah sekitar 508 kilokalori per hari. Berat badan naik sekitar 0,9 kilogram, lalu turun dengan besaran serupa pada fase pembanding.

Rancangan silang membantu membandingkan respons orang yang sama terhadap dua pola makan. Meski begitu, jumlah peserta sedikit dan seluruh pengamatan hanya berlangsung empat minggu. Lingkungan rawat inap juga berbeda dari rumah, warung, sekolah, atau tempat kerja. Hasil ini mendukung kemungkinan mekanisme kausal pada asupan energi, bukan kepastian dampak jangka panjang bagi semua kelompok.

Daging olahan adalah kategori khusus dalam penilaian kanker

Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) menempatkan daging olahan dalam Grup 1 karena bukti karsinogenisitas pada manusia dinilai cukup. Kategori ini mencakup daging yang diasinkan, diawetkan, difermentasi, atau diasap. Penilaian tersebut berlaku pada daging olahan, bukan seluruh pangan dalam kelompok keempat NOVA. Komposisi dan status halal juga berbeda antarproduk sehingga tidak boleh diasumsikan dari nama kategorinya.

Grup 1 menunjukkan kekuatan bukti, bukan tingkat bahaya yang setara antaragen. IARC memperkirakan tambahan 50 gram daging olahan setiap hari berhubungan dengan kenaikan risiko relatif kanker kolorektal sekitar 18 persen. Angka itu merupakan perubahan relatif pada pola konsumsi harian, bukan peluang mutlak seseorang terkena kanker. WHO juga menyatakan data yang tersedia belum menetapkan satu tingkat konsumsi yang sepenuhnya aman.

Konteks Indonesia belum memiliki satu angka NOVA nasional

BKPK pada Juni 2026 menyebut pangan ultra-proses dan minuman berpemanis kemasan bagian dari lingkungan yang mendorong kelebihan energi di Indonesia. Dokumen itu membahas akses, harga, dan pemasaran sebagai bagian dari masalah sistemik. Namun, halaman tersebut tidak memberi proporsi energi nasional menurut empat kelompok NOVA. Data prevalensi dari negara lain tidak tepat dipakai sebagai pengganti angka Indonesia.

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi Indonesia yang melaporkan proporsi energi nasional menurut empat kelompok NOVA. Kekosongan itu membatasi klaim tentang kelompok usia, daerah, atau produk yang menjadi penyumbang terbesar di dalam negeri. Survei konsumsi yang tidak dirancang dengan NOVA juga tidak otomatis menghasilkan angka sebanding. Kesimpulan lokal saat ini lebih kuat untuk konteks lingkungan pangan daripada besaran paparan nasional.

Membaca NOVA bersama label gizi

NOVA menjawab bagaimana dan untuk tujuan apa sebuah produk dibuat. Label gizi menjawab kadar energi, gula, natrium, lemak, protein, serat, serta ukuran saji. Kedua informasi itu perlu dibaca bersama karena produk dalam satu kelompok bisa memiliki susunan yang berbeda. Klaim “organik”, “nabati”, atau “tanpa gula” juga tidak dengan sendirinya menentukan kelompok NOVA maupun mutu gizi keseluruhan.

Pengurangan bertahap bisa berfokus pada produk yang paling sering dikonsumsi, bukan larangan terhadap semua pangan olahan. Air putih, buah utuh, telur, tempe, tahu, ikan, dan masakan rumahan memberi pilihan yang dekat dengan pola makan Indonesia. Ketersediaan, biaya, waktu memasak, alergi, dan kondisi kesehatan tetap memengaruhi pilihan setiap keluarga. Tujuannya ialah memperbaiki susunan makan keseluruhan tanpa menjadikan satu klasifikasi sebagai diagnosis atau ukuran moral.

Meja makan dengan sayuran, nasi merah, dan ikan kukus (ilustrasi)