Kadar asam urat yang melewati batas laboratorium tidak sama dengan diagnosis gout. Hiperurisemia menggambarkan kadar asam urat serum yang tinggi, sedangkan gout melibatkan endapan kristal monosodium urat dan peradangan sendi. Seseorang bisa memiliki hiperurisemia selama bertahun-tahun tanpa serangan. Karena itu, satu angka tidak cukup untuk menentukan kebutuhan obat.

Dokter menunjuk hasil pemeriksaan asam urat pada lembar laboratorium saat berbicara dengan pasien

Hiperurisemia dan gout bukan diagnosis yang sama

Pedoman Perhimpunan Reumatologi Indonesia (IRA) 2024 menyebut hiperurisemia asimtomatis sebagai kadar asam urat tinggi tanpa riwayat serangan artritis gout atau komplikasi akibat hiperurisemia. Gout biasanya dicurigai ketika nyeri hebat muncul mendadak bersama kemerahan dan pembengkakan sendi. Jempol kaki sering terkena, tetapi pergelangan kaki, lutut, tangan, atau siku juga mungkin terlibat. Pemeriksaan cairan sendi untuk menemukan kristal menjadi rujukan diagnosis ketika tersedia.

Kadar asam urat saat serangan juga tidak berdiri sendiri. Nilainya bisa turun sementara ketika peradangan berlangsung, sehingga hasil yang tidak tinggi belum tentu menyingkirkan gout. Dokter menilai pola keluhan, pemeriksaan fisik, obat yang digunakan, fungsi ginjal, dan penyakit penyerta. Ultrasonografi atau pemeriksaan cairan sendi dipakai bila diagnosis masih belum jelas.

Sendi merah dan demam perlu dinilai segera

Serangan pertama berupa sendi yang mendadak merah, panas, bengkak, dan sangat nyeri memerlukan pemeriksaan medis. Kementerian Kesehatan menganjurkan pemeriksaan dokter bila nyeri sendi hebat muncul tiba-tiba, terlebih bila disertai demam dan rasa panas pada sendi. Demam, menggigil, rasa sakit yang terus memburuk, atau tubuh terasa sakit memerlukan penilaian segera. Gambaran tersebut juga bisa muncul pada infeksi sendi dan tidak aman dipastikan sendiri sebagai gout.

Pemeriksaan juga diperlukan ketika serangan berulang, keluhan tidak mereda, muncul benjolan yang dicurigai sebagai tofus, atau ada riwayat batu saluran kemih. Gangguan ginjal, penyakit jantung, hipertensi, obesitas, dan diabetes ikut memengaruhi pemilihan terapi. Anak, ibu hamil, pasien penyakit kronis, dan orang yang memakai obat jangka panjang memerlukan penilaian khusus. Pilihan obat serangan akut tidak bisa disamaratakan untuk kelompok tersebut.

Tanpa gejala, obat bukan langkah otomatis

IRA belum merekomendasikan terapi penurun asam urat secara rutin pada hiperurisemia asimtomatis karena bukti manfaatnya belum cukup. Pedoman itu mengutamakan perubahan gaya hidup dan evaluasi klinis. Terapi baru dipertimbangkan pada keadaan tertentu, antara lain kadar di atas 9 mg/dL disertai bukti endapan kristal atau batu saluran kemih. Keputusan tersebut tetap berada pada dokter karena risiko obat harus dibandingkan dengan manfaat bagi tiap pasien.

American College of Rheumatology (ACR) pada 2020 juga menolak secara bersyarat permulaan obat penurun urat bagi orang tanpa serangan gout atau tofus. Uji klinis yang dirangkum ACR mencatat gout pada kurang dari 1 persen kelompok obat dan 5 persen kelompok plasebo dalam tiga tahun. Sekitar 24 orang perlu diterapi selama tiga tahun untuk mencegah satu serangan. Pedoman itu disusun untuk praktik di Amerika Serikat, sehingga bukan pengganti pedoman dan penilaian klinis di Indonesia.

Risiko gout memang meningkat ketika kadar asam urat makin tinggi dan menetap. Pedoman IRA mengutip Normative Aging Study terhadap 2.046 laki-laki yang diikuti selama 14,9 tahun. Pada kadar sedikitnya 9 mg/dL, insidensi tahunan tercatat 4,9 persen dan insidensi kumulatif lima tahun mencapai 22 persen. Angka tersebut menunjukkan peningkatan risiko, bukan kepastian bahwa setiap orang dengan hasil serupa akan mengalami gout.

Terapi serangan dan terapi jangka panjang berbeda tujuan

Obat untuk meredakan radang saat serangan berbeda dari obat yang menurunkan asam urat dalam jangka panjang. Pedoman IRA menempatkan kolkisin, obat antiinflamasi nonsteroid, atau kortikosteroid sebagai pilihan serangan akut. Dokter memilihnya menurut fungsi ginjal, penyakit penyerta, interaksi, dan kontraindikasi. Artikel ini tidak memuat dosis karena penggunaan obat tersebut memerlukan petunjuk tenaga kesehatan.

IRA merekomendasikan agar terapi penurun asam urat yang sudah diresepkan tetap dilanjutkan saat serangan akut. Perubahan kadar asam urat secara mendadak justru bisa memicu serangan. Permulaan, penghentian, atau perubahan dosis perlu diputuskan bersama dokter. Target laboratorium juga digunakan untuk memantau terapi, bukan untuk mengatur obat secara mandiri.

Tempe dan tahu tidak setara dengan jeroan

Daftar makanan tinggi purin sering memperlakukan semua sumber pangan sebagai satu kelompok. Studi prospektif selama 12 tahun pada 47.150 laki-laki menemukan konsumsi daging dan makanan laut berkaitan dengan kenaikan kejadian gout. Konsumsi sedang sayuran kaya purin dan total protein tidak menunjukkan kaitan yang sama. Temuan ini tidak menjadikan tempe atau tahu sebagai obat, tetapi juga tidak mendukung pelarangan otomatis hanya karena keduanya berasal dari kedelai.

Studi tersebut bersifat observasional dan pesertanya laki-laki tenaga kesehatan di Amerika Serikat. Hasilnya tidak langsung mewakili perempuan, kelompok usia lain, atau pola makan Indonesia. IRA menyarankan pembatasan daging merah, jeroan, daging olahan, dan makanan laut tertentu. Pola makan perlu dinilai secara utuh bersama berat badan, hidrasi, penyakit ginjal, serta penggunaan obat.

Minuman berpemanis dan alkohol termasuk faktor risiko

Kohort BMJ mengikuti 46.393 laki-laki tanpa riwayat gout selama 12 tahun. Konsumsi sedikitnya dua porsi minuman ringan berpemanis per hari berkaitan dengan risiko 1,85 kali dibandingkan kurang dari satu porsi per bulan. Risiko relatif tidak sama dengan kepastian terkena penyakit. Ulasan mengenai jalur metabolisme fruktosa tersedia dalam artikel minuman manis dan metabolisme fruktosa.

IRA menganjurkan pembatasan minuman tinggi fruktosa dan alkohol pada hiperurisemia maupun gout. Alkohol dibahas sebagai risiko kesehatan, bukan pilihan gaya hidup yang dianjurkan. Penurunan berat badan dilakukan bertahap karena perubahan metabolik mendadak dapat mengganggu kadar asam urat. Air yang cukup perlu disesuaikan bila dokter telah menetapkan pembatasan cairan akibat penyakit ginjal atau jantung.

Segelas bir, makanan laut, ayam goreng, dan air putih tersaji di atas meja (ilustrasi)

Hasil laboratorium dibaca bersama riwayat klinis

Hasil tinggi tanpa keluhan perlu dibedakan dari serangan gout, tofus, atau batu saluran kemih. Riwayat serangan, pemeriksaan sendi, fungsi ginjal, penyakit jantung, tekanan darah, diabetes, dan obat rutin membentuk dasar penilaian. Suplemen yang mengklaim menurunkan asam urat tidak menggantikan pemeriksaan tersebut. ACR bahkan menolak secara bersyarat penambahan vitamin C khusus untuk pasien gout.

Data Indonesia belum memberi satu gambaran nasional mutakhir yang mencakup seluruh wilayah dan kelompok penduduk. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan angka prevalensi nasional yang memenuhi cakupan tersebut. Karena itu, angka dari daerah tertentu tidak dipakai untuk menggambarkan seluruh Indonesia. Batas data ini juga membuat perbandingan risiko antarpopulasi perlu dibaca secara hati-hati.