Perang Amerika Serikat dengan Iran mengurangi persediaan sejumlah rudal berteknologi tinggi dalam hitungan bulan. Sistem yang tertekan mencakup pencegat Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), yaitu pertahanan terhadap rudal balistik. Produksi baru tidak mampu mengganti seluruh pemakaian pada laju yang sama. Akibatnya, perencanaan operasi di Timur Tengah kini bersinggungan dengan kesiapan Amerika Serikat di Indo-Pasifik.

Data persediaan lengkap tidak dibuka kepada publik. Angka yang tersedia berasal dari analisis lembaga riset dan keterangan pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya. Pentagon menyatakan militernya tetap memiliki kemampuan yang dibutuhkan. Perbedaan antara penilaian terbuka dan pernyataan resmi menjadi batas utama dalam membaca kondisi stok.

Tiga kelompok rudal memakai sekitar separuh stok awal

Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan Patriot, THAAD, dan rudal serang presisi (Precision Strike Missile/PrSM) telah memakai sekitar separuh stok awal masing-masing. Tomahawk dan rudal jelajah udara-ke-permukaan jarak jauh (Joint Air-to-Surface Standoff Missile/JASSM) memakai sekitar sepertiga. Perkiraan sepertiga itu juga mencakup rudal SM-2, SM-3, dan SM-6. CSIS menilai stok yang tersisa masih mencukupi untuk skenario perang Iran yang masuk akal.

Risiko lebih besar muncul bila Amerika Serikat harus menghadapi konflik lain sebelum persediaan pulih. CSIS menyebut pengiriman amunisi biasanya baru tiba dua hingga empat tahun setelah kontrak ditandatangani. Industri pertahanan juga kehilangan banyak ruang produksi setelah konsolidasi pasca-Perang Dingin. Jumlah kontraktor utama kedirgantaraan dan pertahanan turun dari 51 menjadi lima.

Radar militer dan fasilitas pertahanan udara di kawasan terbuka (ilustrasi)

Persediaan untuk Indo-Pasifik ikut dipindahkan

Pentagon memindahkan sebagian persediaan pencegat dari kawasan lain, termasuk stok yang telah disiapkan untuk Indo-Pasifik, guna mendukung operasi di Timur Tengah. CBS News melaporkan pemindahan itu membuat ruang cadangan komando lain lebih tipis daripada tingkat yang diinginkan perencana militer. Washington pada saat yang sama berusaha mencegah aksi militer Tiongkok di sekitar Taiwan. Pemerintah Amerika Serikat juga perlu meyakinkan sekutunya di kawasan Pasifik.

Dampaknya tidak sama untuk setiap jenis senjata. CSIS mencatat rudal antikapal jarak jauh (Long-Range Anti-Ship Missile/LRASM) hanya sedikit atau sama sekali tidak digunakan melawan Iran. Persediaan kelompok tersebut tetap terbatas dan bisa menyusut cepat dalam perang laut melawan kekuatan seimbang. Karena itu, tekanan kesiapan Indo-Pasifik bukan semata akibat pemakaian di Timur Tengah.

Pentagon menyangkal krisis, pejabat militer menyoroti waktu

Menteri Pertahanan Pete Hegseth membantah adanya krisis persediaan dan mengatakan stok Amerika Serikat kuat serta akan bertambah. Juru bicara Pentagon Sean Parnell juga menyatakan militer memiliki kemampuan untuk menjalankan keputusan presiden. Kedua pernyataan itu tidak disertai jumlah persediaan per sistem.

Pejabat militer tetap mengakui keterbatasan produksi. Laksamana Samuel Paparo mengatakan peningkatan kapasitas Tomahawk dan JASSM memerlukan satu hingga dua tahun. Ia menyampaikan penilaian itu kepada anggota Kongres pada April 2026. CBS News juga melaporkan beberapa sistem menghadapi waktu produksi hingga lima tahun.

Posisi Indonesia berfokus pada penghentian eskalasi

Indonesia tidak terlibat dalam pengaturan persediaan rudal Amerika Serikat. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia meminta Amerika Serikat dan Israel menghentikan serangan terhadap Iran, serta meminta Iran menghentikan serangan ke negara tetangga. Pemerintah juga menyatakan terus memantau dampak konflik terhadap warga negara Indonesia di Timur Tengah. Pernyataan tersebut tidak membahas perubahan keseimbangan persenjataan di Indo-Pasifik.

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi Indonesia yang mengukur dampak kekurangan rudal Amerika Serikat terhadap pertahanan nasional. Penilaian bagi Indonesia karena itu belum memiliki angka pembanding resmi. Indikator yang masih perlu dipantau ialah kontrak produksi, jadwal pengiriman, dan pergeseran persediaan antarwilayah. Tanpa data itu, klaim tentang melemahnya seluruh komitmen Amerika Serikat di Asia-Pasifik masih terlalu luas.