Hakim pengganti di Utah menolak permintaan Kouri Richins untuk mencopot hakim yang memimpin persidangan pembunuhannya. WGME melaporkan Hakim Kara Pettit menilai permintaan itu terlambat dan bukti biasnya tidak memadai. Putusan tersebut tidak menyelesaikan permohonan Richins untuk memperoleh sidang baru. Hingga 30 Juli 2026, permohonan sidang baru masih menunggu putusan.

Richins dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat karena membunuh suaminya, Eric Richins. Jaksa menyatakan ia mencampurkan fentanil ke koktail yang diminum Eric di rumah mereka dekat Park City pada Maret 2022. Dokumen pengadilan yang dikutip CBS News menyebut kandungan fentanilnya hampir lima kali dosis mematikan. Richins tetap menyatakan tidak membunuh suaminya dan berencana mengajukan banding.

Juri menyatakan lima dakwaan terbukti

Persidangan berlangsung sekitar tiga pekan dan berakhir pada Maret 2026. Setelah berunding sekitar tiga jam, juri menyatakan Richins bersalah atas seluruh dakwaan. Dakwaan itu mencakup pembunuhan berat, percobaan pembunuhan berat, pemalsuan, dan dua penipuan asuransi. Percobaan pembunuhan berkaitan dengan kejadian beberapa pekan sebelum kematian Eric.

Hakim Richard Mrazik menjatuhkan hukuman pada 13 Mei 2026, bertepatan dengan hari ulang tahun Eric. CBS News melaporkan hukuman untuk dakwaan lain dijalani secara berturut-turut setelah hukuman seumur hidup. Mrazik menyebut pelaku kejahatan seperti Richins terlalu berbahaya untuk dibebaskan. Tim pembela meminta hukuman yang masih membuka kemungkinan pembebasan bersyarat.

Gedung pengadilan di Amerika Serikat (ilustrasi)

Buku tentang duka kembali disorot

Sesudah Eric meninggal, Richins menerbitkan buku anak berjudul Are You With Me?. Buku itu membahas cara anak menghadapi kematian orang terdekat. KSL melaporkan Richins menyewa penulis bayangan untuk membantu menerbitkan buku tersebut. Fakta itu muncul kembali dalam pemberitaan setelah vonis dan hukuman dijatuhkan.

Pembela mempersoalkan sikap hakim dan bukti keuangan

Tim pembela mengajukan permohonan sidang baru pada 30 Juni 2026. Mereka menuduh Mrazik kerap memotong dan menegur pembela di depan juri, tetapi memperlakukan jaksa secara berbeda. Permohonan itu menyatakan sikap hakim menimbulkan kesan bias dan merampas persidangan yang adil. Tuduhan tersebut adalah argumen pembela, bukan temuan pengadilan.

Pembela juga mempersoalkan bukti tentang cek kosong, laporan bank palsu, komunikasi dengan pemberi pinjaman, dan pengelolaan usaha. Mereka menyatakan bukti tersebut melampaui batas putusan prapersidangan dan merugikan terdakwa. KPCW melaporkan permohonan itu meminta vonis dibatalkan dan perkara disidangkan kembali. Pengadilan belum memutus apakah alasan tersebut cukup untuk sidang baru.

Penolakan pencopotan tidak menutup permohonan sidang baru

Mrazik menyerahkan penilaian atas permintaan pencopotannya kepada hakim lain pada 1 Juli. Ia menyebut tuduhan bias menciptakan konflik dalam menilai apakah dirinya tetap menangani permohonan tersebut. Pettit kemudian menolak pencopotan karena permintaan diajukan setelah tenggat 21 hari. Menurut laporan WGME, berkas itu juga tidak menyertakan sertifikasi itikad baik yang diwajibkan.

Pettit menilai bukti yang diajukan tetap belum mencapai tingkat bias yang mengharuskan pencopotan hakim. Penilaian itu terbatas pada siapa yang menangani perkara lanjutan. Pokok permohonan sidang baru memerlukan putusan tersendiri. Karena dokumen lengkap putusan Pettit belum berhasil kami periksa langsung, rincian alasan penolakan dalam laporan ini mengikuti pemberitaan WGME.

Sumber Indonesia tidak tersedia

Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan keterangan resmi lembaga Indonesia mengenai perkara Richins. Seluruh rincian dakwaan, vonis, hukuman, dan permohonan setelah persidangan bersumber dari media Amerika Serikat. Perbedaan prosedur membuat istilah dan tenggat pengadilan Utah tidak bisa diterapkan langsung pada sistem hukum Indonesia. Perkembangan berikutnya bergantung pada putusan pengadilan Utah atas permohonan sidang baru dan proses banding.