Satu resep tidak selalu memperlihatkan seluruh obat yang dipakai seorang lansia. Obat dari dokter berbeda, obat bebas, dan sediaan yang disimpan di rumah bisa menimbulkan duplikasi atau interaksi. Risiko perlu dinilai dari daftar obat lengkap, bukan hanya dari jumlah tablet pada satu kunjungan.
Benzodiazepin digunakan untuk beberapa kondisi, termasuk insomnia, kecemasan, dan kejang. Obat golongan Z (Z-drug), seperti zolpidem, adalah hipnotik nonbenzodiazepin yang juga dipakai untuk insomnia. Kedua kelompok tersebut bekerja berbeda, tetapi kantuk dan gangguan keseimbangan menjadi perhatian khusus pada usia lanjut.
Gangguan napas, sulit dibangunkan, dan jatuh dengan cedera perlu ditangani segera
Lansia yang sulit dibangunkan, bernapas lambat atau sesak, mengalami kejang, atau kehilangan kesadaran memerlukan pertolongan medis segera. Penilaian di instalasi gawat darurat juga diperlukan setelah jatuh yang disertai benturan kepala, nyeri hebat, perdarahan, atau kesulitan berdiri. Daftar obat dan kemasannya sebaiknya dibawa agar tenaga kesehatan mengetahui zat yang mungkin terlibat.
Materi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan bahwa keracunan benzodiazepin bisa berkembang dari kantuk dan kebingungan hingga koma serta henti napas. Risiko klinis berubah ketika obat dipakai bersama penekan sistem saraf pusat lain. Anak, ibu hamil, pasien penyakit hati atau ginjal, serta pengguna obat jangka panjang memerlukan penilaian tersendiri sebelum terapi diubah.
Polifarmasi dinilai dari kecocokan obat, bukan satu angka tunggal
Polifarmasi berarti penggunaan beberapa obat pada waktu yang sama, tetapi jumlah obat saja tidak menentukan apakah terapinya keliru. Setiap obat bisa memiliki alasan klinis yang sah. Masalah muncul ketika indikasi sudah berubah, manfaat tidak lagi sebanding dengan risiko, atau beberapa resep menimbulkan efek yang tumpang tindih.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan keamanan polifarmasi sebagai satu dari tiga prioritas dalam program Medication Without Harm. Laporan itu meminta pendekatan berpusat pada pasien, penentuan prioritas untuk peninjauan obat, dan kerja tim lintas profesi. Fokusnya adalah memastikan tiap obat tetap sesuai bagi orang yang menggunakannya, bukan menerapkan penghentian seragam.
Peninjauan mencakup obat resep, obat bebas, suplemen, serta obat yang hanya diminum sesekali. Nama obat, kekuatan sediaan, alasan penggunaan, waktu minum, dan dokter pemberi resep perlu terlihat dalam satu daftar. Riwayat jatuh, kantuk pada siang hari, kebingungan, serta perubahan cara berjalan juga memberi konteks untuk menilai keselamatan.
Benzodiazepin dan Z-drug berkaitan dengan cedera pada usia lanjut
Meta-analisis tahun 2018 atas 14 studi mengaitkan Z-drug dengan peluang patah tulang 1,63 kali pada pengguna dibandingkan nonpengguna. Analisis khusus paparan zolpidem juga menemukan peluang cedera 2,05 kali lebih tinggi. Perkiraan untuk jatuh mengarah pada kenaikan risiko, tetapi hasilnya tidak mencapai kepastian statistik dan berbeda lebar antarstudi.
Seluruh studi dalam analisis tersebut bersifat observasional. Gangguan tidur, kelemahan fisik, penyakit penyerta, dan obat lain bisa ikut menjelaskan sebagian hubungan. Angka itu tidak membuktikan bahwa setiap pengguna akan jatuh atau bahwa Z-drug menjadi satu-satunya penyebab patah tulang.
WHO mencantumkan efek samping obat, gangguan keseimbangan, penurunan penglihatan, dan lingkungan yang tidak aman sebagai faktor risiko jatuh pada lansia. Pencegahan karena itu tidak berhenti pada resep. Penilaian cara berjalan, kondisi rumah, penglihatan, dan penyakit penyerta perlu berjalan bersama peninjauan obat.
Indonesia sudah mengatur layanan peninjauan obat di rumah sakit
Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit berstatus berlaku dalam basis hukum Kemenkes. Standar itu mencakup pengkajian resep, penelusuran riwayat penggunaan obat, rekonsiliasi obat, konseling, pemantauan terapi, dan pemantauan efek samping. Kerangka tersebut memberi jalur bagi dokter dan apoteker untuk menemukan duplikasi atau interaksi.
Rekonsiliasi obat membandingkan daftar yang telah dipakai pasien dengan terapi pada titik pelayanan berikutnya. Proses ini penting ketika pasien masuk rumah sakit, berpindah ruang perawatan, atau pulang. Perbedaan yang ditemukan belum tentu kesalahan karena perubahan bisa memang direncanakan oleh tim klinis.
Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan data resmi Indonesia tentang jumlah lansia yang memakai tiga atau lebih obat tidur dalam jangka panjang. Kami juga belum menemukan kebijakan nasional yang memakai gabungan usia, jumlah obat tidur, dan durasi sebagai ambang pemeriksaan otomatis. Kesenjangan tersebut membuat skala masalah serta variasi praktik antarwilayah belum bisa diukur dari dokumen publik yang kami periksa.
Pengurangan obat memerlukan rencana individual
Hasil peninjauan bisa berupa melanjutkan terapi, mengubah waktu minum, mengganti obat, atau mengurangi satu sediaan secara bertahap. Keputusan bergantung pada alasan awal pemberian, lama penggunaan, respons pasien, penyakit penyerta, dan obat lain. Tidak semua kasus polifarmasi berakhir dengan penghentian.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memperingatkan bahwa penghentian benzodiazepin secara mendadak atau penurunan terlalu cepat bisa memicu reaksi putus obat, termasuk kejang. Ketergantungan fisik bisa muncul meski obat dipakai sesuai resep. FDA menyebut tidak ada satu jadwal pengurangan yang sesuai bagi semua pasien.
Karena itu, perubahan dosis dan penghentian perlu dirancang oleh dokter serta dipantau menurut respons pasien. Keluarga bisa membantu dengan menyusun satu daftar obat dan mencatat kantuk, kebingungan, atau jatuh sejak kunjungan terakhir. Catatan tersebut membantu proses klinis, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan atau menjadi dasar untuk mengubah obat sendiri.
Sumber dan rujukan
- Sulit Tidur? Hati-Hati Penyalahgunaan Obat Tidur Benzodiazepine!(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)Efek benzodiazepin pada sistem saraf pusat serta tanda keracunan berat.
- Medication safety in polypharmacy: technical report(World Health Organization)Kerangka peninjauan obat yang berpusat pada pasien dan melibatkan tim lintas profesi.
- Falls(World Health Organization)Faktor risiko dan pendekatan pencegahan jatuh pada kelompok usia lanjut.
- Z-drugs and risk for falls and fractures in older adults—a systematic review and meta-analysis(Age and Ageing / Oxford Academic)Meta-analisis hubungan Z-drug dengan patah tulang, jatuh, dan cedera.
- FDA requiring Boxed Warning updated to improve safe use of benzodiazepine drug class(U.S. Food and Drug Administration)Risiko ketergantungan fisik, putus obat, dan depresi napas pada benzodiazepin.
- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016(JDIH Kementerian Kesehatan Republik Indonesia)Status dan ruang lingkup standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit.