Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (Federal Communications Commission/FCC) sedang menyusun pembatasan baru terhadap perangkat pusat data asal Tiongkok. Empat sumber Reuters menyebut rancangan itu akan melarang impor model baru transceiver optik buatan Tiongkok. Pemerintah ingin aturan diumumkan dan berlaku sebelum akhir 2026. Para sumber menegaskan FCC masih bisa mengubah atau membatalkan rancangan tersebut.

Transceiver optik menghubungkan server dan sakelar jaringan

Transceiver optik adalah modul kecil pada port server atau sakelar jaringan. Perangkat ini mengubah sinyal listrik menjadi cahaya untuk dikirim melalui serat optik, lalu mengubahnya kembali di sisi penerima. Sambungan tersebut memindahkan data antarpeladen saat ribuan akselerator bekerja bersama untuk melatih atau menjalankan model AI. Kecepatan jaringan karena itu ikut menentukan pemanfaatan kapasitas komputasi di pusat data.

Kabel serat optik terhubung ke perangkat sakelar jaringan (ilustrasi)
Transceiver optik mengubah sinyal listrik menjadi cahaya agar data bergerak melalui kabel serat optik di dalam pusat data. (Ilustrasi; foto: Scott Rodgerson, Unsplash)

Permintaan komponen ini meningkat bersama pembangunan klaster AI. Tom's Hardware, yang mengutip laporan Reuters, menyebut transceiver optik lebih cepat dan memakai lebih sedikit energi dibandingkan sambungan tembaga. Media itu juga mencatat Lumentum, Coherent, dan Apple Optoelectronics sebagai produsen berbasis di Amerika Serikat. Kapasitas mereka disebut belum menyamai Zhongji Innolight, produsen Tiongkok dengan pangsa 27 persen di pasar transceiver pusat data global.

Rancangan menyasar model baru, bukan penggantian seketika

Rancangan yang dilaporkan berfokus pada model baru buatan Tiongkok dan akan mengecualikan banyak pemasok non-Tiongkok. Pemerintah AS mengaitkannya dengan risiko pencurian data, pemasangan perangkat lunak berbahaya, dan gangguan layanan pusat data. Gedung Putih dan FCC belum memberikan tanggapan kepada Reuters. Belum ada teks resmi yang menetapkan perusahaan, model, masa transisi, atau tanggal berlakunya.

Mekanisme yang dipertimbangkan mengikuti kerangka daftar peralatan berisiko nasional milik FCC, yakni Covered List. FCC menjelaskan bahwa model baru dalam Covered List tidak memperoleh otorisasi peralatan sehingga tidak boleh diimpor atau dijual di Amerika Serikat. Perangkat yang telah mendapatkan otorisasi sebelumnya tidak otomatis dilarang untuk dipakai. Namun, penerapan mekanisme itu pada transceiver optik baru bisa dinilai setelah FCC menerbitkan dokumen resminya.

Innolight berada di pusat risiko pasokan

Zhongji Innolight menjadi perusahaan yang paling langsung menghadapi risiko pembatasan. Daftar Kementerian Pertahanan AS yang terbit pada Juni 2026 mencantumkan Zhongji Innolight sebagai perusahaan militer Tiongkok. Dokumen itu menyebut kepemilikan tidak langsung oleh badan pengelola aset negara Tiongkok dan afiliasi dengan kementerian industrinya. Pencantuman tersebut terpisah dari Covered List FCC dan tidak dengan sendirinya membuktikan larangan transceiver telah berlaku.

Pembeli pusat data AS mungkin perlu mengalihkan pesanan kepada produsen lain bila rancangan disahkan. Pilihan itu bergantung pada kecocokan teknis, volume produksi, jadwal pengiriman, dan harga setiap pemasok. Belum ada pengumuman perubahan kontrak dari operator pusat data atau produsen yang disebut dalam laporan. Dampak biaya karena itu masih berupa skenario, bukan hasil pasar yang telah terukur.

Tiongkok memperingatkan kemungkinan tindakan balasan

Kedutaan Besar Tiongkok di Washington meminta AS mendengar pandangan pelaku usaha dan berhenti menekan perusahaan Tiongkok dengan ancaman sanksi. Kedutaan juga menyatakan Tiongkok akan mengambil langkah yang diperlukan bila suatu tindakan menimbulkan kerugian material terhadap kepentingannya. Pernyataan itu belum disertai daftar tindakan khusus untuk perkara transceiver. Hubungan sebab akibat antara rancangan FCC dan kebijakan balasan tertentu belum terbukti.

Dampak bagi Indonesia belum terukur

Bagi Indonesia, persoalan utamanya bukan larangan impor AS secara langsung, melainkan kemungkinan perubahan alokasi produksi dan harga komponen global. Efek tersebut baru terlihat jika aturan final mengubah pesanan dalam jumlah besar dan pemasok lain tidak segera menambah kapasitas. Operator pusat data di Indonesia tidak disebut sebagai sasaran rancangan yang dilaporkan. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia yang mengukur dampaknya terhadap pusat data atau rantai pasok nasional.