Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Paks berhenti sepenuhnya pada 2 Agustus 2026 setelah muka air Sungai Danube merosot. Dua reaktor yang masih beroperasi ditutup bergantian karena aliran sungai tidak lagi memenuhi batas aman sistem pendinginan. Peristiwa itu menjadi penutupan penuh pertama sejak pembangkit mulai beroperasi pada 1982. Paks biasanya memasok hampir separuh listrik Hungaria.

Gangguan di Paks terjadi ketika gelombang panas dan kekeringan menekan Eropa tengah selama berbulan-bulan. Hungaria membatasi pemakaian air di lebih dari 100 kota dan desa. Pemerintah menaikkan impor listrik dan meminta perusahaan industri besar mengurangi konsumsi secara sukarela. Krisis ini menghubungkan penyusutan sumber daya air dengan keamanan pasokan energi nasional.

Muka air menuju tingkat terendah baru

Muka air Danube di Paks diperkirakan turun hingga minus 144 sentimeter, melampaui rekor minus 98 sentimeter pada 2018. Prosedur penghentian wajib berlaku setelah angka itu melewati minus 134 sentimeter. Batas tersebut terkait kemampuan pompa menarik air untuk sistem pendinginan ketika debit sungai menyusut. Kekurangan aliran akhirnya memaksa dua reaktor terakhir keluar dari jaringan.

Keluaran Paks turun dari kapasitas normal 2.000 megawatt menjadi 965 megawatt pada 1 Agustus, lalu merosot ke 240 megawatt. Satu reaktor berhenti pada pagi hari dan satu lagi menyusul pada malam hari. Penurunan ini menghilangkan sumber pembangkitan terbesar Hungaria dari jaringan listrik. Pemerintah menambah impor dan menyiapkan pembatasan perusahaan sebagai prioritas bila pengurangan sukarela tidak cukup.

Dasar sungai yang retak dan mengering akibat kekeringan (ilustrasi)

Ketergantungan pada sungai menjadi titik rawan

Reaktor nuklir tetap memerlukan media untuk membuang panas dari proses pembangkitan. Paks mengambil air Danube untuk menjalankan sistem pendinginannya. Muka air yang terlalu rendah mengurangi aliran menuju saluran masuk dan membatasi kemampuan sistem tersebut. Karena itu, kekeringan bisa menghentikan pembangkit meski bahan bakar dan reaktornya tidak bermasalah.

Lebih dari 100 kota dan desa di Hungaria memberlakukan pembatasan air, sementara perusahaan diminta mengurangi konsumsi secara sukarela. Slovakia menyatakan siap memantau keadaan energi negara tetangganya dan memberi bantuan bila diperlukan. Kedua langkah itu menunjukkan dampak kekeringan meluas dari layanan air ke keamanan pasokan listrik. Waktu pemulihan Paks tetap bergantung pada kondisi sungai dan pemeriksaan operator.

Gelombang panas menguji perencanaan energi

Penutupan Paks memperlihatkan hubungan langsung antara sumber daya air dan keandalan listrik. Sungai yang sama menopang pendinginan pembangkit, kebutuhan warga, kegiatan usaha, dan pertanian. Saat debit turun, pengelola harus membagi sumber daya yang menyusut sambil mempertahankan batas keselamatan. Pembangkit berkapasitas besar juga menciptakan kekosongan pasokan yang sulit diganti dalam waktu singkat.

Risiko tersebut menjadi pertimbangan bagi negara yang memakai pembangkit termal di tepi sungai. Perencanaan perlu memasukkan perubahan debit, suhu air, kapasitas jaringan, dan sumber listrik pengganti. Penutupan Paks belum menentukan arah kebijakan nuklir Eropa secara keseluruhan. Namun, kejadian ini memberi contoh nyata bahwa cuaca ekstrem dapat mengganggu infrastruktur energi tanpa merusak reaktornya.

Operator memperkirakan reaktor memerlukan sekitar satu pekan untuk kembali beroperasi setelah muka air mencapai tingkat yang memadai. Perkiraan itu belum menetapkan tanggal pemulihan karena titik terendah tahunan Danube biasanya terjadi pada Agustus atau September. Hungaria masih harus menutup kekurangan listrik selama Paks belum kembali ke jaringan. Kondisi sungai dan pemeriksaan teknis akan menentukan lamanya gangguan.