Gempa M 7,7 mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data per 16 Agustus pukul 00.00 WIB menjadi 47 orang meninggal dan 101 orang terluka. Pembaruan yang sama mencatat lebih dari 5.000 warga mengungsi setelah rumah dan fasilitas publik rusak. Pencarian serta verifikasi masih berlangsung di enam kabupaten terdampak.
Associated Press (AP) melaporkan empat jenazah kembali ditemukan pada Minggu, 16 Agustus, sehingga korban meninggal bertambah menjadi 51. Perbedaan itu mencerminkan waktu pembaruan, bukan dua penghitungan yang bisa dijumlahkan. Angka 47 berasal dari catatan BNPB pukul 00.00 WIB, sedangkan laporan AP terbit beberapa jam kemudian. Data korban masih bisa berubah selama pencarian di lokasi longsor dan bangunan runtuh berlanjut.
Kerusakan meluas dan operasi darurat dibagi dua wilayah
Data BNPB menunjukkan 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Lembaga itu juga mencatat kerusakan pada 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintah. Sebaran pengungsi terbesar berada di Sikka dengan 3.356 orang dan Manggarai dengan 2.078 orang. Jalan Ende–Nagekeo masih terputus, sedangkan jalur Larantuka–Maumere sudah bisa dilalui dalam pembaruan yang sama.
BNPB membentuk pos pendampingan nasional di Labuan Bajo dan pos taktis di Maumere. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memimpin pencarian, didukung Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), dan relawan. BNPB juga mengerahkan satu helikopter dan dua pesawat sayap lebar untuk distribusi logistik. Pusat media resmi dijadwalkan memberi pembaruan setiap pukul 17.00 WITA.
Kedalaman 15 kilometer menempatkan sumber sebagai gempa dangkal
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merevisi parameter gempa menjadi M 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Catatan itu menempatkan waktu sumber pada 14 Agustus pukul 21.58.24 UTC, setara 15 Agustus pukul 05.58.24 WITA. United States Geological Survey (USGS), yang dikutip AP, memakai kedalaman 10 kilometer. Selisih lima kilometer menunjukkan parameter dari jaringan berbeda belum selalu sama.
USGS mengelompokkan gempa pada kedalaman 0–70 kilometer sebagai gempa dangkal. Karena sumber Flores berada pada 10–15 kilometer, kedua catatan tetap menempatkannya dalam kategori itu. USGS menjelaskan bahwa kekuatan guncangan berkurang ketika jarak dari sumber bertambah. Pada magnitudo setara, sumber dangkal cenderung menghasilkan guncangan permukaan lebih kuat daripada sumber jauh di bawahnya.
Kedalaman bukan satu-satunya penentu kerusakan. Menurut USGS, magnitudo, jarak ke patahan, geologi setempat, dan jenis tanah ikut menentukan kekuatan guncangan di suatu lokasi. Mutu serta bentuk bangunan kemudian memengaruhi kemampuannya menahan gerakan tanah. Belum ada dasar untuk menyebut kedalaman sebagai penyebab tunggal seluruh korban dan keruntuhan di Flores.
Buletin berubah setelah tsunami terukur
Buletin pertama BMKG pada 06.09 WITA menilai gempa tidak akan memicu tsunami yang berdampak ke kawasan Samudra Hindia. Pemantauan muka laut kemudian mengubah penilaian tersebut. Buletin ketiga pada 08.25 WITA memastikan tsunami terbentuk dan mencatat amplitudo maksimum 0,94 meter di Maurole–Ende. Amplitudo itu diukur terhadap muka laut normal, bukan tinggi dari palung ke puncak gelombang.
BMKG menerbitkan buletin terakhir pada 08.33 WITA setelah periode gelombang signifikan dinilai berakhir untuk negara-negara Samudra Hindia. Dokumen tersebut tidak menyatakan bahwa tsunami tidak pernah terjadi. BMKG tetap menyerahkan pencabutan peringatan nasional dan penetapan status aman kepada otoritas nasional atau daerah. Arus berbahaya juga disebut masih mungkin bertahan beberapa jam setelah gelombang utama berlalu.
Gempa susulan turut memengaruhi Labuan Bajo
BNPB mencatat 341 gempa susulan dalam pembaruan 16 Agustus. AP melaporkan ribuan orang di Labuan Bajo, gerbang menuju Taman Nasional Komodo, bermalam di luar karena khawatir gempa susulan. Pos nasional di Labuan Bajo melayani Flores barat, sedangkan pos Maumere menjangkau Sikka, Nagekeo, dan Ngada. Kondisi satu kota atau jalur tidak mewakili seluruh NTT.
Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan satu dokumen resmi Indonesia yang menyatukan data korban BNPB dan rekaman tsunami BMKG pada waktu pembaruan yang sama. Data korban, jalan, gempa susulan, dan muka laut masih tersebar di beberapa laman. Perbedaan waktu pencatatan menjelaskan sebagian selisih angka, tetapi tidak menjamin semua laporan lapangan sudah masuk. Status transportasi dan kawasan wisata juga tidak tercakup lengkap dalam dua dokumen tersebut.
Sumber dan rujukan
- [Update] - Pascagempa NTT, Lebih 5.000 Warga Bertahan di Pengungsian(Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
- Rescuers dig through rubble and landslides after Indonesia quake kills 51(Associated Press)
- Tangani Gempa M 7,7 Flores, Kepala BNPB Instruksikan Delapan Langkah Strategis Penanganan Darurat(Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
- Public Tsunami Bulletin Number 1(InaTEWS-BMKG)
- Public Tsunami Bulletin Number 3(InaTEWS-BMKG)
- Public Tsunami Bulletin Number 4(InaTEWS-BMKG)
- Determining the Depth of an Earthquake(U.S. Geological Survey)
- At what depth do earthquakes occur? What is the significance of the depth?(U.S. Geological Survey)
- How do earthquakes affect buildings?(U.S. Geological Survey)