Konferensi AIDS 2026 berlangsung di Rio de Janeiro ketika pendanaan untuk penanggulangan HIV global menghadapi tekanan besar. International AIDS Society (IAS) menetapkan konferensi ke-26 ini pada 26–31 Juli 2026 dengan tema “Rethink. Rebuild. Rise.” Pertemuan itu mempertemukan peneliti, tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, penyandang dana, media, dan komunitas. Krisis pendanaan menjadi bagian utama konteks resmi konferensi.

Tekanan tersebut berpusat pada President’s Emergency Plan for AIDS Relief (PEPFAR), program bantuan HIV global pemerintah Amerika Serikat. Program ini mendukung pengobatan, tes, pencegahan, tenaga kerja, dan layanan berbasis komunitas di banyak negara. Pengurangan dana tidak selalu menutup fasilitas kesehatan secara keseluruhan. Sebagian lokasi tetap buka, tetapi kehilangan program HIV, staf, atau kegiatan penjangkauan.

Survei mencatat 1.714 lokasi layanan tutup

Survei PEPFAR Pulse mencatat 1.714 klinik, pusat singgah, klinik bergerak, dan lokasi layanan lain tutup akibat pembayaran yang dihentikan atau terlambat. amfAR menjalankan survei bersama Funders Concerned About AIDS, Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, dan Data Etc. Sebanyak 166 mitra pelaksana dari 46 negara memberikan jawaban. Responden itu mewakili 23 persen mitra pelaksana PEPFAR tingkat negara pada 2025.

Survei juga menemukan 77,2 persen responden mengalami penghentian hibah atau keterlambatan pembayaran pada 2025. Kurang dari 2 persen memperoleh pendanaan pengganti yang cukup. Namun, hasil tersebut bukan sensus seluruh program PEPFAR. NPR melaporkan Departemen Luar Negeri AS tidak bisa memverifikasi studi itu dan menyebut metodologinya bermasalah.

Peralatan laboratorium dan catatan anggaran kesehatan di atas meja (ilustrasi)

Dana menyusut, pencairan juga tertahan

NPR melaporkan dukungan AS untuk program HIV global turun dari US$6,7 miliar menjadi US$4,6 miliar pada 2025. Departemen Luar Negeri baru membelanjakan 70 persen dana yang tersedia. Pemerintahan Donald Trump juga mengumumkan penghentian permanen pendanaan PEPFAR pada awal 2027. Perubahan itu membuat perencanaan tenaga, obat, tes, dan layanan komunitas sulit dipastikan.

Laporan NPR menyebut sebuah klinik yang didanai USAID di Kitwe, Zambia, tutup mendadak pada Januari 2025. Klinik tersebut sebelumnya menyediakan obat dan pengobatan HIV tanpa biaya bagi warga. Penutupan itu terjadi setelah pemerintah AS menghentikan sebagian besar bantuan luar negerinya. Warga masih mendatangi lokasi tersebut setelah lampu dan layanan telah berhenti.

Zambia mempertahankan pengobatan, tetapi pencegahan melemah

Laporan lapangan yang dikutip 76 Crimes menyebut 1,3 juta orang di Zambia menerima pengobatan HIV pada Januari 2025. Kementerian Kesehatan setempat memperkirakan 100.000 orang sempat terputus dari pengobatan. Sekitar 40.000 orang belum kembali ke sistem layanan ketika laporan diterbitkan. Pemerintah mengerahkan ulang tenaga agar distribusi obat antiretroviral tetap berjalan.

Gangguan lebih besar terlihat pada tes, penjangkauan komunitas, dan pemantauan pasien. Di Mpongwe, laporan itu mencatat kasus AIDS naik dari satu atau dua per bulan menjadi masing-masing 28 pada Januari dan Februari 2026. Angka tersebut menggambarkan satu wilayah dan belum menjadi statistik nasional Zambia. Kenaikan lokal juga terjadi ketika tes HIV ikut berkurang, sehingga besarnya perubahan nasional belum pasti.

Indonesia juga terkena gangguan pada 2025

UNAIDS melaporkan pembekuan bantuan AS menghentikan kegiatan komunitas yang didanai USAID di Indonesia pada awal 2025. Pencegahan dan penghubungan ke pengobatan terdampak bagi sekitar 30 persen laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki di Jakarta. Perluasan profilaksis prapajanan (PrEP) dan uji coba pencegahan HIV kerja panjang juga tertunda. UNAIDS mencatat investasi tahunan AS untuk respons HIV Indonesia mencapai US$11 juta pada 2024–2025.

Laporan UNAIDS itu terbit pada 24 Februari 2025 dan menggambarkan fase awal pembekuan dana. Status setiap program setelahnya bisa berubah karena pengecualian, pendanaan pemerintah, atau dukungan Global Fund. Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan pembaruan Kemenkes yang mengukur dampaknya setelah AIDS 2026. Karena itu, angka global penutupan layanan tidak boleh langsung dianggap sebagai jumlah fasilitas yang tutup di Indonesia.

Masa depan UNAIDS belum diputuskan

Tekanan anggaran juga menjangkau lembaga yang mengoordinasikan respons HIV di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dokumen UN80 mengusulkan transisi untuk mengakhiri UNAIDS dan memindahkan kapasitasnya ke badan PBB lain. Dokumen itu menjadwalkan rencana akhir untuk dibahas pada Oktober dan diteruskan kepada ECOSOC pada November 2026. Tahapan tersebut menunjukkan usulan masih memerlukan keputusan antarpemerintah.

Winnie Byanyima, Direktur Eksekutif UNAIDS, memperingatkan di Rio bahwa hilangnya pencegahan akan menaikkan infeksi. Ia juga mengatakan gangguan pengobatan menyebabkan kematian. Peringatan itu muncul saat kemajuan ilmiah menawarkan pilihan pencegahan kerja panjang. Jangkauan pilihan baru tetap bergantung pada pembiayaan, rantai pasok, tenaga, dan layanan komunitas.