Gelombang penyeberangan dari Maroko menewaskan sedikitnya 67 orang dan membuat layanan penerimaan di Ceuta kewalahan. Wilayah Spanyol di Afrika Utara itu menjadi salah satu pintu darat Uni Eropa di benua Afrika. Para pendatang mencapai wilayah tersebut dengan berenang, berjalan di pemecah gelombang, atau memanjat pagar perbatasan.
Korban mencakup orang yang tenggelam dan mereka yang terimpit ketika mencoba melewati pemecah gelombang berpagar. Otoritas Spanyol menyebut masih mungkin ada korban lain di sisi Maroko. Angka awal 18 korban kemudian naik seiring pendataan.
Penghalang 500 meter dipasang di Tarajal
Guardia Civil mulai memasang penghalang sepanjang 500 meter di perbatasan laut Tarajal pada pagi 1 Agustus 2026. Lokasi itu menjadi jalur utama dalam gelombang penyeberangan terbaru. Penghalang tersebut ditujukan untuk menutup akses melalui pemecah gelombang, tetapi efektivitas jangka panjangnya belum terukur.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol memperkirakan sekitar 50.000 orang memasuki Ceuta sejak 30 Juli. Menurut kementerian, 48.300 orang telah kembali ke Maroko hingga pukul 18.00 pada 31 Juli. Kepala pemerintahan Ceuta, Juan Jesús Vivas, memberikan perkiraan lebih tinggi, yakni sampai 60.000 orang.
Perbedaan angka menunjukkan bahwa pendataan berlangsung ketika arus manusia bergerak cepat di dua arah. Sebutan “kembali secara sukarela” juga berasal dari pemerintah Spanyol. Belum tersedia penghitungan independen dengan cakupan dan waktu pencatatan yang sama.
Dua puluh dua pemerintah Uni Eropa meminta koordinasi
Pemimpin 22 negara Uni Eropa meminta presidensi Irlandia segera mengadakan konferensi video para menteri dalam negeri. Mereka menyerukan langkah bersama untuk mencegah penyeberangan massal berikutnya. Spanyol juga meminta keamanan perbatasan luar diperlakukan sebagai tanggung jawab bersama seluruh anggota.
Perdebatan kemudian menyentuh kawasan Schengen, tempat pemeriksaan perbatasan internal umumnya ditiadakan. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengancam menangguhkan pengaturan perbatasan terbuka dengan Spanyol. Italia juga memberlakukan kembali pemeriksaan bagi penumpang yang tiba dari Spanyol melalui udara dan laut.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut gambar dari Ceuta tidak dapat diterima. Presiden Pemerintah Spanyol Pedro Sánchez menyebut penyeberangan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan wilayah negaranya. Pernyataan politik itu belum menjawab perlindungan, pemeriksaan status, dan kondisi penerimaan bagi orang yang masih berada di Ceuta.
Putusan pengadilan bukan penyebab yang sudah terbukti
Perdebatan di Spanyol juga berpusat pada putusan Mahkamah Agung mengenai pemulangan orang yang datang melalui laut. Putusan itu mewajibkan proses hukum sebelum pemulangan ringkas bagi mereka yang tiba lewat laut. Ketentuan tersebut berbeda dari perlakuan terhadap orang yang melewati pagar darat.
Sánchez mengatakan jaringan penyelundup memelintir putusan itu untuk mendorong orang menyeberang. Namun, aktivis di Maroko meragukan bahwa sebagian besar pendatang mengetahui keputusan hukum tersebut. Karena itu, putusan pengadilan tidak cukup untuk menjelaskan sendiri skala lonjakan.
Ceuta bersama Melilla telah lama menjadi tujuan orang dari Maroko dan Afrika sub-Sahara yang berusaha memasuki Uni Eropa. Pada Mei 2021, sekitar 10.000 orang juga memasuki Ceuta dalam beberapa hari. Peristiwa terbaru kembali memperlihatkan hubungan erat antara pengawasan perbatasan, keselamatan di laut, dan kerja sama Spanyol–Maroko.
Sampai artikel ini disusun, kami belum menemukan dokumen resmi dari lembaga di Indonesia yang menilai dampak langsung krisis Ceuta bagi Indonesia. Perkembangan terdekat akan ditentukan oleh pembaruan jumlah korban, hasil koordinasi Uni Eropa, dan penerapan prosedur pemulangan. Dampak penghalang laut juga baru bisa dinilai setelah pola rute penyeberangan berikutnya terlihat.